Pala (Myristica fragrans Houtt ) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Pala termasuk tanaman rempah-rempah dan obat. Biji beserta fulinya merupakan bahan eksport hasil perkebunan yang cukup penting. Dunia internasional mengakui bahwa pala sebagai tanaman asli Indonesia. Biji pala selain dikonsumsi, juga diambil minyaknya yang diantaranya mengandung oleoresin. Meningkatnya konsumsi pala dunia menyebabkan terjadinya kenaikan harga walaupun ekspor pala Indonesia dari tahun ke tahun masih sangat fluktuatif (Anonim. 1989) Prospek pengembangan agribisnis pala cukup cerah karena peluang pasarnya makin terbuka dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bagian yang memegang peranan penting dalam dunia perdagangan tanaman pala adalah biji dan fuli (mace) yang umumnya digunakan sebagai rempah. Padahal berdasarkan kajian teknologi semua bagian buah pala dapat dimanfaatkan menjadi bagian produk olahan (Mulyono, 1997).Pala di Maluku Utara saat ini menjadi salah satu sumber benih. Limahelu (2015) menyebutkan keberhasilan pengembangan pala di Maluku Utara telah membawa daerah tersebut sebagai salah satu sumber benih. Dari pohon induk dalam BPT terpilih, telah digunakan sebagai bahan tanam untuk pengembangan tanaman pala diberbagai daerah di Indonesia. Produktivitas tiap pohon induknya diatas rata-rata produksi tingkat Provinsi Maluku Utara sebesar 0,85 ton/ha/tahun daging biji kering terkupas. Lebih tinggi dari rataan produksi nasional yang hanya berkisar 0,53 ton/ha/tahun daging biji. Produksi pohon induk di tiap BPT berkisar antara 20-45 kg, setara dengan 2 ton/ha/tahun. Kelurahan Jaya wilayah pemekaran Kecamatan Tidore Utara. Kedudukan wilayah Kelurahan Jaya memanjang dari Utara ke Selatan Kota Tidore Kepulauan dengan panjang + 1,8 km dan lebar 1,3 km dengan ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Tanaman pala yang ada pertama kali di kelurahan Jaya dapat diidentifikasi perbedaan morfologi dari tanaman pala dalam hal ini bentuk buah, bentuk biji, warna fuli, tebal fuli, bentuk dan tebal daun serta kembar tidaknya buah diperoleh 3 – 7 aksesi tanaman pala yang berasal dari kelurahan ini. Pala Tidore telah dilepas menjadi varietas. Pala Tidore dapat ditemukan di kelurahan Jaya kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan. Topografi lokasi adalah bergunung-terjal dengan ketinggian 100-500 m dpl, dengan sistem tanam monokultur dan polikultur. Variasi Pala dapat dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu: (1) berdasarkan bentuk biji/buah, dan (2) berdasarkan ketebalan Fuli.Variasi berdasarkan bentuk Biji/Buah. Pala memiliki: (a) biji besar (P=3,81 cm dan L=2,60 cm); (b) biji sedang (P=3,44 cm dan L=2,23 cm); (c) Biji kecil (P=1,52 cm dan L=0,93 cm; (d) biji lengket; (e) buah kembar; (f) biji kerdil dan Variasi berdasarkan ketebalan dan warna fuli: (1) tebal & merah; (2) tebal & Merah/putih; (3) tipis & Merah. Umur tanaman tanaman Pala Tidore dapat berumur antara 60-180 tahun.Minyak atsiri merupakan salah satu produk olahan rempah yang banyak diminati saat ini, karena bisa dimanfaatkan dalam industri parfum, kosmetik, farmasi, makanan dan minuman. Kandungan minyak atsiri yang tertinggi umumnya terdapat pada buah pala muda umur 3 bulan yaitu berkisar 16,2% - 17,6%. buah pala yang telah masak (umur 9 bulan) mangandung minyak atsiri sekitar 9%-15%sedangkan dari kulitnya antara 4%-12% (Rukmana, 2004). Mutu minyak atsiri sangat ditentukan oleh karateristik alamiah dari masing-masing minyak tersebut dan bahan-bahan asing yang tercampur di dalamnya. Rendemen minyak pala yang berasal dari biji dengan cara dikukus selama 10 jam hanya menghasilkan sekitar 6%. Pada penyulingan fuli secara dikukus selama 10 jam, menghasilkan rendemen minyak 10%.Proses Pembuatan Minyak Pala:A. Persiapan Bahan dan Alat.Bahan yang digunakan: (a) biji pala; (b) fuli; (c) air; (d) kayuPeralatan yang digunakan: (1) tungku api; (2) ketel penyulingan; (3) kondensor (pendinginan); (4) penampung/pemisah minyak; (5) timbangan.B. Metode Pembuatan Cara membuatnya adalah: (1) Pala yang telah di panen dipisahkan biji dan fuli; (2) lalu dikeringkan dengan cara penjemuran dengan memakai alas tikar di bawah sinar matahari selama beberapa hari sampai benar-benar kering; (3) kemudian biji pala dipisahkan dengan tempurungnya; (4) biji pala digiling hancur. Biji pala yang telah digiling akan kehilangan minyak atsiri lebih cepat dari minyak pala yang masih utuh; (5) ketel suling diisi air sampai permukaan air berada tidak jauh dari saringan; (6) biji pala halus diletakan di atas rak-rak atau saringan berpori; (7) panaskan ketel yang telah diisi air lalu dialasi dengan plat berpori/ saringan; (8) lalu masukan biji pala yang telah digiling hancur di atas saringan; (9) kemudian ketel ditutup rapat dan dihubungkan dengan kondensor. Jika air telah mendidih pada tekanan tertentu, maka kondensat akan mulai keluar dan menetes ke alat pemisah minyak. Daftar Pustaka Anonim, 1989. Budidaya Pala. BPTP AmbonLimahelu, D. 2015. Karakter Tanaman Pala di Maluku Utara. Http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpambon/berita diakses tanggal 23 Mei 2016.Limahelu, D. 2015. Asal Usul Sumber Benih Pala Populasi Tidore I. Http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpambon/berita diakses tanggal 23 Mei 2016Mulyono, E., 1997. Permasalahan, Penanganan dan Pengolahan Pala. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Jurnal Litbang Pertanian Vol. XVI No. 2. Balitbang Pertanian. Deptan. Jakarta. Penulis: Miskat Ramdhani-Penyuluh BBP2TP - annurd@gmail.com