Loading...

MENGENAL OPT KEDELAI DAN PENGENDALIANNYA

MENGENAL OPT KEDELAI DAN PENGENDALIANNYA
Kedelai saat ini menjadi primadona karena Kementerian Pertanian telah menetapkan swasembada kedelai dicapai pada tahun 2017. Agar produksi kedelai maksimal, tanaman harus dipelihara dengan baik meliputi aspek pengairan, penjarangan, penyiangan, pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Khususnya pengendalian OPT dilakukan secara terpadu dapat dilakukan dengan teknik budidaya seperti penggunaan varietas tahan, sanitasi, pemberian mulsa, pergiliran tanaman dan tanam serentak. Pengendalian secara terpadu OPT kedelai dapatdigambarkan sebagai berikut: Hama lalat buah (Ophiomyia phaseoli)Ambang kendali bila: terdapat 1 imago per 50 rumpun. Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara, a) tanam serempak, selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari; b) rotasi tanaman bukan inang lalat kacang; c) menanam varietas yang tahan; d) memberikan mulsa 5-10 ton/ha untuk kedelai setelah padi sawah; e) perlakuan benih untuk daerah endemis (menggunakan insektisida carbosulfan); dan f) populasi mencapai ambang kendali pada umur 7-10 hari disemprot insektisida untuk lalat bibit; Pemakan daun/ulat grayak (Spodoptera litura)Ambang kendali: a) intensitas kerusakan baru sebesar 12,5% umur 20 HST (hari setelah tanam) dan lebih dari 20% pada tanaman umur lebih 20 HST; b) pada fase vegetatif, terdapat 10 ekor instar 3 per 10 rumpun; c) pada fase pembungaan 13 ekor instar 3 per 10 rumpun tanaman; d) pada fase pembentukan polong terdapat 13 ekor instar 3 per 10 4rumpun tanaman; e) pada fase pengisian polong 26 ekor instar 3 per 10 tanaman. Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara: a) tanam serempak selisih waktu kurang dari 10 hari; b) pemantauan rutin dan pemusnahan telur dan ulat; c) penyemprotan insektida setelah mencapai ambang kendali; dan d) penyemprotan NPV (dari 25 ulat sakit dilarutkan dalam 500 liter air untuk satu hektar); Pengisap daun (Aphis sp)Ambang kendali bila: a) daun keriting; b) populasi Aphis cukup tinggi; c) intensitas kerusakan daun lebih dari 12,5%; dan d) dua ekor per 8 tanaman atau 1 ekor per 4 tanaman. Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara: a) tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari; b) dilakukan pemantauan rutin; dan c) dilakukan penyemprotan insektisida. Kumbang kedelai (Phaedonia inclusa)Ambang kendali bila: a) bila intensitas kerusakan daun lebih dari 12,5%; b) terdapat 2 ekor per 8 tanaman atau 1 ekor per 4 tanaman. Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara: a) tanam serempak; b) dilakukan pemantauan rutin dan memungut hama; c) melakukan penyemprotan insektisida pada saat ambang kendali. Pemakan polong (Helicoverpa armigera)Ambang kendali bila: a) intensitas kerusakan daun mencapai lebih dari 2%; b) terdapat dua ekor ulat per rumpun umur lebih dari 45 (HST). Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara: a) tanam serentak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari; b) dilakukan dengan pergiliran tanam; c) bila populasi mencapai ambang kendali, dilakukan penyemprotan dengan insektisida; d) menanam tanaman perangkap seperti jagung umur genjah, sedang dan panjang; dan e) melepas parasitoid Trichogramma sp. Penggerek polong (Etiella sp)Ambang kendali bila: terdapat dua ekor ulat per rumpun pada umur tanaman lebih dari 45 HST. Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara: a) tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari; b) pergiliran tanam; c) bila populasi hama mencapai ambang kendali, dilakukan penyemprotan dengan insektisida; d) melepas parasitoid Trichogramma sp. Pengisap polong (Nezara viridula)Ambang kendali bila: a) pemantauan dilakukan umur 42-70 HST; b) intensitas kerusakan lebih dari 2 %; dan c) terdapat 1 pasang imago per 20 rumpun tanaman. Alternatif pengendalian dilakukan dengan cara: a) tanaman serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari; b) pergiliran tanam; c) bila populasi mencapai ambang kendali dilakukan penyemprotan dengan insektisida; d) menanam tanaman perangkap Layu bakteriPenyakit ini menyerang pangkal batang tanaman saat tanaman berumur 2-3 minggu. Penyakit dsebabkan oleh jamur Pseudomonas solanacearum, penularannya melalui tanah dan aiir irigasi. Gejalanya tanaman layu mendadak.bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Cara pengendalian dilakukan dengan memilih varietas yang tahan, kemudian dengan membersihkan kebun dari gulma dan melakukan pergiliran tanaman. Layu jamur Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, pada saat udara lembab dan jarak tanam pendek. Gejala, daun layu sedikit demi sedikit, kemudian menguning. Penyakit ini disebabkan oleh jamur tanah Sclerotium rolfsii penularannya melalui tanah dan aiir irigasi. Cara pengendaliannya dengan menggunakan varietas tahan layu, atau menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb dengan dosis 2 gram/ liter air. Karat Penyakit ini menyerang daun, dengan gejala daun tampak bercak dan bintik coklat. Penyakit ditularkan melaluiperantaraan angin yang menerbangkan dan menyebarkan spora. Penyakit disebabkan oleh jamur Phachyrizi phakospora. Pengendalian penyakit dilakukan menanam kedelai yang tahan atau menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb. Busuk BatangPenyakit ini menyerang batang, dengan gejala serangan batang menguning kecoklatan , membusuk dan mati. Penyebab penyakit adalah jamur Phytium sp. Penularan melalui tanah dan irigasi, dan pengendaliannya dilakukan dengan memperbaiki drainase lahan atau dengan menyemprotkan fungisida berbahan aktif mankozeb. Mozaik virus. Penyakit mozaik virus meyerang tunas dan daun dengan gejala pertumbuhan tanaman melambat dan tanaman mengerdil. Vektor penyebar virus adalah Aphis glysin. Penyakit ini disebabkan virus (Soybean Mozaik Virus/ SYMV). Pengendaliannya dengan menggunakan varietas yang tahan atau menyemprotkan insektisida berbahan aktif protiofos. Anthracnose. Penyakit ini menyerang daun dan polong tua, dengan gejala daun dan polong berbintik berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda kosong dan isi polog tua menjadi kerdil. Penyebab penyakit ini adalah jamur Colletotrichum glycin. Cara pengendaliannya dilakukan dengan pergiliran tanaman secara tepat atau dengan pengendalian dengan menyemprotkan fungisida berbahan aktif propineb atau mankozeb. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber :1) Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 4965/Kpts/SR.120/12/2013 tanggal 6 Desember 2013; 4) Dihimpun dari berbagai sumber.