Kegiatan SL-UT di poktan Cinta Bertani Desa Rantau Karau Hulu ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 4 September 2020 dengan judul materi tentang “Penyakit Blat dan Teknik Pengendaliannya”. Narasumber dari kegiatan SL PHT ini adalah Farida Adriani, SP dan turut di damping oleh Penyuluh WKPP Rachman Fitriannor, SP dan Penyuluh Heny Puspitasari, SP. SL-UT ini adalah kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara dan dipilih sebagai metode pemberdayaan petani karena memiliki kelebihan-kelebihan diantaranya berprinsip pada pendidikan orang dewasa, cara belajar lewat pengalaman, perencanaan partisipatoris, keputusan bersama anggota kelompok, petani sebagai manajer usahataninya, materi pelatihan berdasarkan kebutuhan lapangan, pelatihan selama satu siklus perkembangan tanaman / satu musim tanam. Pada kegiatan SL-UT ini, tanaman padi yang dijadikan lahan percontohan telah memasuki fase generative, pada pertemuan ini petani menerima informasi dan materi tentang penyakit blast yang dominan banyak menyerang tanaman padi petani dan bisa menyebabkan penurunan hasil. Penyakit ini sering disebut “Penyakit Pyricularia”. Penyakit ini bisa menyerang di 3 titik, yaitu Balst daun, Blast leher dan Blast malai. Pada daun, serangan berbentuk permata sampai memanjang dan berakhir meruncing. Pusat bercak berwarna abu-abu dan lembarannya cokelat kemerahan. Di bawah kondisi yang menguntungkan, serangan meluas dan berkembang menjadi hawar daun. Pada blast leher, warna bercak coklat keabu abuan, batang akan berlubang, mengakibatkan kekosongan malai, dan berakibat pada posu. Pada blast malai yang terserang penyakit ini menyebabkan malai menjadi hampa. Penyebab penyakit disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae Cav. Dengan konidiofor yang bersekat-sekat dan jarang bercabang. Daur penyakit : Penularan jamur ini dibantu oleh angin, Spora dibentuk dan dipencarkan pada waktu malam, sebagian dipencarkan siang hari setelah turun hujan. Sprora hanya dilepaskan jika kelembaban udara lebih dari 90%. Spora dibantu oleh angin / embun / hujan dan dibawa udara ke tanaman lain. Selanjutnya jamur menghasilkan spora lebih banyak. Spora yang mendarat di daun padi akan tumbuh dan berkecambah, dan akan menginfeksi serta menghasilkan bercak daun 4-5 hari. Faktor yang menyebabkan perkembangan penyakit : Tanah Pengairan Suhu Perlakuan benih Pupuk Ketahahan varietas Faktor-faktor tersebut merupakan komponen epidemi penyakit yang dapat dikelola untuk tujuan pengendalian penyakit blast. Upaya untuk mengendalikan penyakit blast melalui pengelolaan komponen epidemi secara terpadu mempunyai peluang keberhasilan tinggi. Pengendalian penyakit : Gunakan varietas tahan. Hindari menanam dengan varietas yang sama sepanjang tahun. Perlakuan benih sebelum disemai, misalnya dengan perendaman ke dalam larutan PGPR / fungisida trisiklazole dengan dosis formulasi 3-5 g/kg benih. Menghindari penggunaan pupun nitrogen diatas dosis anjuran. Hindari jarak tanam yang rapat (bisa dengan system tanam jajar legowo). Pemakian kompos sebagai sumber bahan organik. Sanitasi lingkungan. Menaburkan abu dapur dan sedikit garam disekitar tanaman di pagi hari karena abu mengandung CO2 yang mampu mengikat penyebaran jamur. Pengendalian terakhir adalah dengan pengendalian secara kimiawi yaitu dengan fungisida, jika ini dilakukan sebaiknya digunakan 2 kali, pada saat anakan dan pada saat awal berbunga untuk mencegah serangan blast daun dan blast leher. Keberhasilan pengendalian penyakit blast dipengaruhi oleh kemampuan pengaturan lingkungan, terutama iklim mikro tanaman, keseimbangan penyerapan unsur hara dan tingkat kesuburan tanah. Pada kegiatan ini juga dilaksanakan evaluasi penyuluhan pertanian berupa kuisioner sebelum dan sesudah penyuluhan dilaksanakan. Tujuan evaluasi yang dilaksanakan yaitu mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang penyakit blast Serta memperbaiki perencanaan penyuluhan sehingga mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dari sasaran di waktu yang akan datang. (Farida Adriani, SP)