Di perkebunan karet terdapat beberapa jenis penyakit yang sering menimbulkan kerusakan yaitu penyakit akar, batang/cabang dan daun tanaman.Penyakit akar merupakan penyakit yang penting karena berakibat kepada kematian tanaman karet.Ada 5 jenis penyakit akar, tetapi penyakit akar putih yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus merupakan penyakit yang paling penting yang sering mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup. Monitoring atau pemantauan atau pengamatan perkembangan penyakit merupakan komponen yang penting dalam pengendalian penyakit. Tujuan utama monitoring penyakit adalah menemukan tanaman yang terserang dini untuk segera dilakukan tindakan pengobatan. Tanaman yang terserang dini lebih mudah dan cepat disembuhkan dengan resiko kematian yang kecil. Penyembuhan yang lebih cepat dari tanaman sakit akan memperkecil kemungkinan penularan penyakit ke tanaman lainnya. Serangan dini jamur akar putih ditunjukkan dengan adanya miselia atau rizomorf pada perakaran tanaman tetapi gejala pada tajuk tanaman belum tampak.Dalam stadia ini jamur akar putih hanya menempel di permukaan akar tetapi belum mengakibatkan kerusakan/pembusukan pada bagian kulit atau kayu. Jika pembusukan/kerusakan telah terjadi pada kulit atau kayu, terlihat daun tajuk akan memucat atau menguning, hal ini menunjukkan tingkat serangan telah berlanjut. Dalam kondisi serangan lanjut seperti ini tindakan pengobatan telah terlambat dan resiko kematian tanaman lebih besar. Oleh karena itu pada areal bertunggul pengamatan serangan dini dengan pemeriksaan perakaran terutama pada tanaman muda sangat dianjurkan Tetapi pada areal yang bersih tunggul dan sisa akar pengamatan serangan dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan gejala secara menyeluruh pada tanaman untuk menentukan titik awal infeksi. Apabila terdapat < 1 % tanaman terinfeksi maka pengamatan secara intensif dengan pemeriksaaan perakaran tanaman dilakukan secara keseluruhan tanaman terutama tanaman tetangga yang telah terinfeksi Pengamatan serangan dini dilakukan mulai pada umur 6 bulan setelah tanam dengan selang waktu 3 bulan sekali selama musim hujan atau minimal 6 bulan sekali pada awal dan akhir musim hujan. Pemeriksaan dilakukan pada keseluruhan tanaman dengan mengerok tanah sedalam 2-10 cm di sekitar pangkal akar. Miselia atau rizomorf akan terlihat pada permukaan perakaran tanaman yang terserang Pengamatan serangan secara intensif juga dilakukan pada tanaman tetangga yang telah ataupun belum diobati dan pada seluruh tanaman di sekitar hiaten.Pada tanaman muda pengamatan intensif dilakukan pada tanaman pertama dekat tanaman terinfeksi sedangkan pada tanaman dewasa dilakukan sampai tanaman ke dua dari tanaman yang telah menunjukkan gejala pada tajuk atau telah terserang lanjut. Pengendalian penyakit tanaman pada umumnya di Indonesia berpedoman pada prinsip: ”pencegahan lebih baik daripada pengobatan”. Pencegahan pada awalnya tampak sulit dan mahal tetapi pada akhirnya akan menjadi lebih murah dan memberikan keuntungan. Sebaliknya pengobatan tampak lebih murah pada awalnya tetapi pada akhirnyamenjadi lebih mahal dan sering mengakibatkan kerugian berupa kematian tanaman jika cara pengobatannya tidak tepat. Pencegahan penyakit Pencegahan penyakit dilakukan dengan cara pemusnahan sumber infeksi yaitu tunggul dan sisa akar, dan perlindungan akar utama dari infeksi patogen. Pemusnahan/pengurangan sumber infeksi : tunggul dan sisa akar Cara pengendalian penyakit akar putih yang paling efektif adalah mengurang atau memusnahkan sumber infeksi jamur berupa tunggul dan/atau sisa-sisa akar tanaman pada waktu pembukaan lahan dengan cara berikut. Pembongkaran tunggul dan sisa akar Pembongkaran tunggul dan akar dilakukan dengan cara mekanis (dozer dan traktor) yang diikuti pengumpulan dan pembakaran akar-akar kecil pada saat pengolahan lahan. Di perkebunan besar, karena adanya larangan pembakaran, tunggul dan sisa akar ditumpuk pada jalur dalam areal kebun dengan resiko akan menjadi sumber infeksi patogen sehingga perlu dianjurkan pengamatan intensif penyakit dekat tumpukan tunggul. Di perkebunan rakyat,pembongkaran tunggul dan sisa akar jarang dilakukan karena biayanya cukup mahal, biasanya terbatas hanya dilakukan pada proyek pembangunan perkebunan rakyat binaan pemerintah. Peracunan tunggul. Penggunaan racun tunggul dimaksudkan untuk mempercepat pelapukan tunggul sehingga kurang dari 2 tahun tunggul tempat hidup jamur akar putih telah menjadi hancur. Racun tunggul yang digunakan adalah Garlon 480 EC atau Tordon 101 (Komisi Pestisida. 1996; Situmorang dan Budiman, 2003). Racun tunggul dioleskan di sekeliling tunggul setelah kulit dikelupas selebar 20 cm dan segera setelah tebang pohon. Di perkebunan besar, peracunan tunggul biasanya dilakukan pada areal berbukit atau lereng yang tidak dapat dijangkau oleh traktor.Di perkebunan rakyat pada umumnya belum mengenal peracunan tunggul ini. Peracunan tunggul hanya terbatas digunakan pada proyek pembangunan perkebunan rakyat binaan pemerintah Pemberdayaan tumbuhan antagonis.Beberapa tumbuhan antagonis seperti laos, kunyit, garut dan lidah mertua dapat diberdayakan untuk mengurangi sumber infeksi pada tunggul dan sisa akar. Tumbuhan ini dapat mengeluarkan bahan kimia antibiotik untuk jamur akar putih di sekitar perakaran sehingga akan menekan perkembangan jamur yang hidup pada tunggul. Tumbuhan antagonis tersebut ditanam 10-12 pokok di sekeliling pangkal tunggul pada saat musim hujan setelah lahan dibersihkan Penaburan belerang. Belerang dapat dianjurkan untuk menekan perkembangan jamur akar putih terutama pada tunggul disekitar hiaten-hiaten (pulau kosong) atau dekat tanaman sakit atau terserang sebelumnya. Belerang ditaburkan sekitar 150-200 g disekeliling tunggul tiap tahun dengan 2-3 kali ulangan aplikasi. Penulis : Yahya. SP PPL WKPP : Takulat, Binturu, Sungai Buluh, Kec. Kelua. Kab Tabalong