Buah Pinang atau bahasa latinnya Areca cathecu merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia, namun umumnya masih dibudidayakan secara tradisional. Pinang banyak tumbuh dipekarangan, kebun atau hanya sebagai tanaman pembatas kebun dan belum banyak petani yang membudidayakan secara serius. Tanaman Pinang merupakan tanaman asli Asia Selatan dan menyebar ke Asia Tenggara dan pulau-pulau di laut Pasifik. Biji pinang berguna untuk bahan makanan, menyirih, bahan baku industri seperti pewarna kain, dan obat-obatan. Biji pinang sebagai bahan ramuan obat sudah masuk ke dalam daftar prioritas WHO (World Health Organization/organisasi kesehatan dunia). Hingga kini banyak negara yang menggunakan biji penang antara lain sebagai obat cacing, eksim, sakit gigi, flu, luka, kudis, difteri, nyeri haid, mimisan, sariawan, diare dan, koreng, Biji pinang mengandung gizi yang baik dan cita rasa yang lezat karena mengandung protein 20,8%, lemak 42,2%, karbohidrat, vitamin larut (A, D, E dan K) dan mineral seperti kalsium, magnesium, fosfor, kalium, sodium, besi dan mineral lain yang dapat mencegah anemia. Ada dua teknik penanam pinang yang dapat dilakukan, yaitu penaman dengan sistem monokultur dan sistem tumpang sari.Penanaman sistem monokultur, artinya tanaman yang ditanam dalam satu areal hanya satu jenis tanaman menghasilkan. Penanaman sebaiknya pada musim penghujan. Bibit yang ditanam sebaiknya sudah merupakan hasil seleksi. Penanaman sistem tumpang sari, sistim tanam yang ditanam dalam satu areal lebih dari satu tanaman. Sistem tumpang sari dapat memberikan nilai tambah petani karena tanaman pinang baru berproduksi pada umur 5 tahun. Tanaman tumpang sari yang biasa ditanam adalah tanaman palawija (Jagung, kacang-kacangan). Dengan adanya tanaman tumpang sari petani sudah mendapat pendapatan sebelum tanaman pinang berproduksi. Mengenal penyakit pada pinangUntuk memperoleh hasil yang maksimal dan bebas dari gangguan penyakit, perlu mengenali berbagai penyakit pada tanaman pinang sebagai berikut:1. Penyakit bercak daun menguning (yellow leaf spot). Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Curvularia sp. Gejala daun, terlihat bercak-bercak kuning 3-10 mm diameter. Infeksi lanjut dapat menyebabkan kematian bibit. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan dengan dithane;2. Karat merah daun (red rust). Penyebabnya adalah cendawan Cephaleuros sp. Cendawan ini menginfeksi batang dan daun, sehingga terlihat bercak tak beraturan pada bagian batang dan daun berwarna kekuningan. Cara menghindari dengan membuat naungan.3. Leaf blight. Penyebabnya adalah Pestalotia palmarum Cooke. Gejala penyakit berupa bercak-bercak coklat kekuningan pada helaian daun. Pengendalian dilakukan dengan memberi pupuk N dan K2O ataupun dengan pemberian naungan; 4. Busuk akar/pangkal batang. Penyebabnya adalah cendawan Fusarium sp. dan Rhizoctoria sp. Penyakit ini biasanya menyerang pada pembibitan dengan sistim drainase jelek. Serangan cendawan ini mengakibatkan tanaman layu;5. Busuk buah (fruit rot). Penyebabnya adalah Phytopthora arecae. Gejala bercak terlihat pada permukaan buah dekat kelopak bunga. Bercak ini akan menyebar sehingga warna buah berubah menjadi hijau tua. Jika bercak mencapai bagian apikal buah maka akan menyebabkan buah gugur. Pengendalian secara kimia dapat di lakukan dengan fungisida Copper oxychlorride serta dilakukan fitosanitasi (pembersihan pada kebun);6. Daun menguning (yellow leaf disease). Penyebabnya adalah mycoplasm like organism (MLO). Daun yang terserang berwarna kekuningan dan terdapat garis-garis nekrotik. pada lamina daun. Pertumbuhan daun akan mengecil sehingga produksi buah menurun. Daging buah berwarna kehitaman. Cara pengendalian dilakukan dengan cara terpadu dengan menggunakan fungisida 2 g phorate granula per pohon serta fitosanitasi (pembersihan kebun)7. Busuk kaki (foot rot). Penyebabnya adalah Ganoderma lucidum. Munculnya penyakit ini karena kebun kurang dipelihara dan drainase jelek. Tanaman yang terserang menunjukan gejala kekeringan daun menguning, dan akhirnya patah. Infeksi lanjut menyebabkan batang terlihat bercak coklat tidak beraturan dan mengeluarkan cairan. Akar tanaman akan membusuk. Cara pengendalian dilakukan dengan pengaturan sistim drainase, menjaga kebersihan kebun. Beberapa mikroorganisme seperti Tricho-derma sp, Streptomyces sp.dapat menjadi agen hayati pengendalian penyakit ini. 8. Mengecil (Band). Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti dengan gejala daun menjadi pendek, mengecil dan berbentuk sapu. Warna daun menjadi hijau tua, batang meruncing dan jarak antar ruas batang memendek. Mahkota pohon bentuk seperti berbunga mawar, sehingga pembungaan menjadi tidak sempurna, dan produksi buah menurun. Cara pengendalian penyakit dilakukan dengan perbaikan drainase, penggemburan tanah dan pemberian campuran Copper sulfat dan kapur dengan perbandingan 1 : 1 dengan dosis 225 g per pohon per 6 bulan. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Cendawan Ganoderma MulaiM Mengancam Tanaman Pinang, dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 35 No2 Th 201;2) Anonim, Budidaya Pinang; .dan 3) Dihimpun dari beberapa sumber