Lahan rawa selama ini dianggap kurang optimal jika digunakan untuk pertanian, ternyata menyimpan potensi yang luar biasa. Pada musim kemarau lahan rawa dapat dijadikan lumbung pangan. Kondisi pada musim kemarau, meng-akibatkan lahan sawah irigasi maupun tadah hujan menjadi kurang produktif karena kesulitan mendapat air. Di sisi lain kondisi di musim kemarau mengakibatkan lama dan tinggi genangan pada lahan rawa khususnya rawa lebak semakin turun sehingga dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian tanaman pangan. Peluang peningkatan luas tanam di lahan rawa pada saat musim kemarau telah ditunjukkan pada lahan rawa lebak yang tersebar di propinsi Sumatera Selatan, Riau, Lampung dan Kalimantan Selatan. Total luas lahan rawa yang dapat dimanfaatkan pada saat musim kemarau mencapai 801,9 ribu hektar, atau meningkat sekitar 237,7 ribu hektar dari kondisi normal. Potensi kontribusi lahan rawa terhadap produksi beras nasional sekitar 14% atau 6-8 juta ton gabah kering giling dengan tingkat produktivitas 4 ton/ha GKG. Selain itu lahan rawa memiliki beberapa keunggulan, selain sumber air yang tersedia juga lebih tahan terhadap perubahan iklim, bahkan beras yang dihasilkan dari padi rawa mempunyai kadar indeks glikemik rendah sehingga baik untuk kesehatan. Ekosistim lahan rawaEkosistim lahan rawa memiliki sifat khusus terutama disebabkan karena kondisi airnya. Berdasarkan kondisi airnya, lahan rawa dibedakan dalam dua kelompok yaitu lahan rawa pasang surut dan lahan rawa lebak. Lahan rawa pasang surut yaitu lahan yang airnya dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut atau sungai. Sedang lahan rawa lebak yaitu lahan yang airnya dipengaruhi oleh hujan baik yang turun di wilayah setempat atau yang berasal dari daerah sekitar dan hulu. Faktor air dan kesuburan tanah yang menjadi faktor pembatas utama budidaya padi sawah di lahan rawa sehingga hasilnyapun rendah (3-4 ton GKP/ha). Secara umum tanah rawa mempunyai pH rendah, kelarutan Fe,Al dan Mn tinggi, ketersediaan unsure hara makro (N, P dan K) dan mikro rendah. Kendala ini dapat diatasi dengan memberikan pembenah tanah (soil amelioration) seperti kapur/dolomite, serta aplikasi pupuk N, P dan K dengan mengacu tiga tepat (dosis, cara dan waktu) sehingga produktivitas tanah meningkat. Untuk mempercepat pengukuran kebutuhan kapur dan ketersediaan unsure hara (N, P dan K) dan rekomendasi pemupukan, Balit Tanah, Badan Litbang Pertanian, telah berhasil menciptakan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) versi 0,1. Alat ini sebagai alat penyederhanaan analisis tanah di laboratorium.yang dapat dipergunakan untuk menetapkan tingkat kemasaman tanah, kebutuhan kapur, dan kadar unsure hara (N, P dan K) pada tanah rawa terutama rekomendasi kebutuhan kaur, pupuk urea, SP-36 dan KCl untuk tanaman padi sawah. Komponen dan cara kerja PUTRAlat PUTR terdiri dari beberapa komponen yaitu: 1) larutan pengekstrak/pereaksi untuk mengukur pH tanah dan kebutuhan kapur, serta untuk mengukur unsure hara N, P dan K; 2) alat-alat pendukung yaitu spatula, tabung reaksi dan pipet; 3) bagan warna pH, kebutuhan kapur, N, P dan K; 4) buku petunjuk; dan 5) tas/kemasan. Adapun cara kerja PUTR sebagai berikut: 1) ambil contoh tanah (±0,50 gram) kemudan dimasukkan dalam tabung ekstraksi,tambahkan larutan pengekstrak lalu dikocok hingga tanah menjadi larut; 2) ekstrak jernih dipindahkan kedalam tabung reaksi. Pereaksi ditambahkan sesuai dengan urutannya dan dibiarkan hingga timbul warna/endapan; 3) warna yang muncul pada larutan jernih dipadankan dengan bagan warna yang disediakan; 4) tingkat kemasaman tanah (pH) serta kadar N, P dan K diperoleh sesuai dengan gradasi warna/table. PUTR juga dilengkapi dengan bagan warna daun untuk mengukur kecukupan N pada tanaman. Adapun rekomendasi kebutuhan kapur dan pupuk N, P dan K untuk tanaman padi sebagai berikut: 1) Kapur, kebutuhan kapur ditentukan oleh jumlah tetes pereaksi. Bila jumlah tetes kurang dari 4 maka takaran kebutuhan kapur 500 kg/ha, Bila jumlah tetes antara 4 – 8, maka kebutuhan kapur sebesar 1.000 kg/ha dan bila lebih dari 8 tetes kebutuhan kapurnya 2.000 kg/ha; 2) Pupuk N, dosis pupuk N yaitu 300, 250 dan 200 kg urea/ha masing-masing untuk status hara tanah rendah, sedang dan tinggi. Pupuk diberikan tiga kali yaitu pada saat tanam, saat tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam (MST) dan pada 4-5 MST masing-masing sepertiga bagian; 3) Pupuk P, dosis. Pupuk P yaitu 150, 100 dan 50 kg SP-36/ha masing-masing untuk status hara tanah rendah, sedang dan tinggi. Pupuk diberikan seluruhnya pada awal tanam; 4) Pupuk K, Dosis pupuk K yaitu 150, 100 dan 50 kg/hs masing-masing untuk status hara tanah rendah, sedang dan tinggi. Bila lahan diberi jerami padi 2,5 ton/ha maka takaran pupuk K berkurang menjadi 125, 75 dan 25 ton KCl/ha untuk tanah dengan status hara tanah renadah, sedang dan tinggi. Manfaat PUTRPenggunaan PUTR untuk pengukuan kebutuhan kapur danunsur hara N, P dan K sangat bermanfaat bagi para petani, penyuluh dan praktisi pertanian, karena prosesnya lebih cepat, dapat dilakukan sendiri (oleh petani, penyuluh dan praktisi pertanian), prosedurnya sederhana dan mudah diikuti serta dapat diguanakan kapan sajamenjelang musim tanam. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : 1)Pemupukan Padi Sawah di Lahan Rawa Semakin Mudah Menggunakan Perangkat Uji Tanah, dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 35 No.6 Th 2013;.dan 2) Dihimpun dari beberapa sumber