Budidaya sapi potong maupun sapi perah, adanya penampilan reproduksi optimum merupakan hal yang paling menentukan keberhasilan produktivitasnya. Salah satu penampilan reproduksi optimum yang dimaksud adalah jarak beranak (calving interval) optimum dengan kisaran 12 – 15 bulan untuk kondisi peternak rakyat di Indonesia.Hasil penampilan reproduksi optimum dapat dicapai bila program pengawinan (breeding) alami maupun penggunaan inseminasi buatan (IB) dilakukan dengan tepat saat setelah usia pubertas pada sapi dara atau segera setelah fase pasca beranak pada sapi induk. Sapi beranak, sehingga sapi dapat bunting kembali dalam waktu 3 – 4 bulan pasca beranak. Kasus infertilitas yang menonjol pada sapi perah dan sapi potong rakyat di Indonesia adalah tingginya kejadian anestrus post partum (tidak birahi pasca beranak). Kejadian ini mengakibatkan terlambatnya kawin kembali pasca beranak, sehingga panjangnya beranak melebihi 18 bulan Mengatasi permasalahan aplikasi inseminasi buatan menuju ke optimal hasil konsepsinya telah dikembangkan teknik sinkronisasi estrus atau penyerentakan birahi dengan memanipulasi pola hormon reproduksinya. Sinkronisasi estrus yang dimaksud sebetulnya adalah penyerentakan birahi pada sekelompok ternak yang di ikuti dengan proses ovulasi yang fertil. Adapun istilah induksi estrus yang bermakna sama dengan sinkronisasi estrus, namun pengertiaanya hanya aplikasi pada ternak secara individual, buka secara masal atau kelompok. Dalam melakukan sinkronisasi estrus sapi harus lebih dahulu dipahami mengenai faal dan endokrinologi reproduksi, fungsi ovaria termasuk perkembangan folikel dominan dan fungsi korpus luteum. Sinkronisasi atau induksi estrus adalah tindakan menimbulkan birahi,di ikuti ovulasi fertil pada sekelompok atau individu ternak dengan tujuan utama untuk menghasilkan konsepsi atau kebuntingan. Sinkronisasi estrus biasanya menjadi satu paket dengan pelaksanaan IB, baik berdasarkan pengamatan birahi maupun IB terjadwal (timed artificial inseminasi). Angka konsepsi atau kebutntingan yang optimum merupakan tujuan dari aplikasi sinkronisasi estrus ini.Tujuan dan Manfaat Sinkronisasi estrus Birahi.1. Manfaat dari tindakan sinkronisasi estrus pada sapi ada beberapa, antara lain : optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IB. Dengan teknik ini dimungkinkan pelaksanaan IB secara massal pada suatu waktu tertentu.2. Mengatasi masalah kesulitan pengenalan birahi. Subestrus atau birahi tenang yang umum terjadi pada sapi perah dan potong di Indonesia dapat diatasi dengan teknik sinkronisasi estrus.3. Mengatasi masalah reproduksi tertentu, misalnya an estrus post partum (anestrus pasca beranak).4. Fasilitasi program perkawinan dini pasca beranak (early post partum breeding) pada sapi potong dan perah. Teknik ini dapat digunakan untuk mempercepat birahi kembali pasca beranak, pemendekkan day open (hari-hari kosong) dan pemendekan jarak beranak. Manajemen reproduksi resipien pada pelaksanaan transfer embrio sapi dalam program transfer embrio, embrio beku maupun segar (diambil dari sapi donor pada hari ke 7 setelah estrus) ditransfer ke resipien pada fase siklus estrus yang sama. Sikronisasi estrus biasanya digunakan untuk maksud tersebut. Penyusun : Sad Hutomo PribadiSumber : BPTP Sumsel Sumber Gambar : www.kupu 123.com