Tanaman (Veteriza Zizanioides Stapf) atau lebih dikenal dengan nama Akar Wangi merupakan tanaman dapat tumbuh dengan baik di Indonesia. Tanaman ini juga tumbuh pada beberapa Negara seperti: India, Cina, dan Brazil. Saat ini, Akar Wangi masih banyak dikembangkan petani Indonesia secara tradisional. Tanaman yang dibudidayakan oleh petani melalui perkebunan rakyat. Menurut data Dinas perkebunan kabupaten Garut (2002) dalam Damanik, S dan Dedi, S, E (2013) sentra akar wangi terbesar di Jawa Barat adalah Garut dan Sukabumi. Selain itu daerah penghasil tanaman ini kabupaten Wonosobo propinsi Jawa Tengah.Tanaman Akar Wangi banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dan pengrajin. Akar tanaman ini sangat kuat dan baik untuk dijadikan bahan dasar kerajinan tangan bila telah berumur 12 bulan sehingga akarnya sudah cukup panjang. Beberapa contoh hasil kerajinan tangan Akar Wangi adalah tas, boneka, taplak meja dan lainnya. Manfaat lainnya adalah: tanaman Akar Wangi sangat baik dibudidayakan dapat menghasilkan minyak atsiri. Bagian tanaman yang digunakan adalah bagian akarnya.Manfaat lain tanaman Akar Wangi yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuannya yang dapat mencegah erosi. Tanaman yang dapat tumbuh di sela-sela tanaman utama. Dengan menanam di daerah berlereng dan berbukit memberikan dampak pada konservasi tanah dan air pada daerah tersebut. Negara Indonesia telah lama dikenal sebagai penghasil tanaman Akar Wangi dan mulai mengekspor sejak tahun 1918 dari kabupaten Garut (Heyne, 1987). Kegunaan minyak Akar Wangi sebagai bahan pembuat parfum, kosmetik, dan pewangi serta pembasmi dan pencegah serangga. (Departemen Pertanian, 1999). Saat ini tanaman Akar Wangi masih dibudidayakan secara turun-temurun. Usahatani yang dilakukan secara umum dengan cara monokultur. Pada daerah Garut, tanaman Akar Wangi diusahakan juga dengan cara campuran dengan tanaman sela semusim. Namun demikian, sangat sulit dijumpai penanaman kembali tanaman ini pada tempat sama.Tanaman Akar Wangi merupakan tanaman yang akan tumbuh dengan baik, bila ditanam pada ketinggian 700 m dpl atau lebih. Walaupun dapat juga ditanam pada dataran rendah. Tanaman akar wangi dapat berkembang dengan baik bila ditanam pada tanah berpasir dengan curah hujan rata-rata/tahun 2500-3000 mm dan ketinggian 900-2.000 m dpl. Damanik dan Dedi (2013) menyatakan bahwa tanah yang baik untuk pertumbuhan akar wangi adalah tanah berpasir atau tanah abu vulkanik. Hal ini akan memudahkan pada saat dipanen sehingga akan menghasilkan minyak dengan rendemen yang tinggi. Bila ditanam pada tanah yang padat, keras, dan berliat akan menyebabkan akar sulit dicabut dan menghasilkan akar dengan kadar tingkat rendemen rendah. Akar wangi juga dapat dibudidayakan pada daerah wilayah berbukit sampai pegunungan dengan tingkat kemiringan lahan diatas 15%. Jenis tanah Andosol juga sangat baik untuk pertumbuhan tanaman Akar Wangi. Akar wangi memiliki pertumbuhan tanaman yang tidak baik bila dibawah naungan atau tempat teduh. Ciri-ciri tanaman Akar Wangi seperti rerumputan dengan rumpun yang besar, arah tumbuh tegak lurus ke atas dengan cabang-cabang. Ciri lainnya adalah akarnya yang serabut serta dalam sehingga dapat mengikat tanah dan mencegah erosi dengan bentuk daun pipih. Bagian bawah daun tidak kasar dan kaku. Masyarakat Indonesia mengenal tanaman Akar Wangi dalam 2 jenis. Jenis pertama, berbunga, tanaman ini diusahakan dalam jenis perkebunan rakyat dikenal sebagai jenis Tembaga. Kandungan minyak atsiri jenis berbunga tidak banyak. Sedangkan jenis yang yang tidak berbunga memiliki kandungan inyak atsiri yang banyak, Dalam 1 hektar, tanaman akar wangi dapat menghasilkan rataan 1 ton akar kering. Daftar PustakaDamanik, S, Effendi, S. E. 2013. Sistem Usahatani Konservasi Akar Wangi Pada Lahan Berlereng. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Balitbangtan.Departemen Pertanian. 1999. Pembinaan dan Pengembangan Budidaya Akar Wangi Melalui Konservasi Terpadu di Kabupaten Garut. Jawa Barat. Jakarta.Penulis: Miskat Ramdhani (Penyuluh BBP2TP) alamat email: annurd@gmail.com