Loading...

Mengenal Tanaman Gamal Sebagai Pakan Ternak

Mengenal Tanaman Gamal Sebagai Pakan Ternak
Dalam usaha peternakan, pakan merupakan faktor yang sangat menentukan . Pakan ternak ruminansia seperti sapi , kambing, domba atau kerbau sebagian besar berupa hijauan. Bagi para peternak yang lebih maju umumnya juga telah memberi pakan konsentrat terutama untuk penggemukan (ternak potong) dan induk laktasi (ternak perah). Sedangkan pada ternak monogastrik seperti ayam, itik dan babi. Konsentrat merupakan pakan utama, akhir-akhir ini dengan mahalnya harga pakan (konsentrat ) yang tidak sebanding dengan peningkatan harga produk ternak, menyebabkan peternak resah.Sebagai alternative, disarankan penggunaan leguminosa pohon sebagai sumber protein selain rumput sebagai pakan utama. Leuminosa pohon yang mudah ditanam dan mengandung protein tinggi adalah gamal, lamtoro, kaliandra dan turi, Keempat jenis leguminosa pohon tersebut mempunyai beberapa keunggulan, yaitu produksi hijauan tinggi, tahan terhadap iklim, mudah ditanam dan mempunyai kandungan zat makanan cukup tinggi.Dalam usaha meningkatkan produktivitas ternak, terutama ternak ruminansia diperlukan hijauan yang tersedia sepanjang tahun, berkualitas baik dan penanamannya mudah. Hijauan makan ternak dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu rumput dan kacang-kacangan.(leguminosa)Tanaman kacang-kacangan (leguminosa pohon) yang berpotensi sebagai makanan ternak diantaranya adalah gamal (Giliriacidia sepium). Lamtoro ( Leucaena leucocephala), kaliandra (Caliandra clothryrsus Meissn) dan turi (Sesbania grandiflora). GAMAL (Gliricidia sepium) Pohon gamal merupakan tanaman leguminosa pohon yang banyak tumbuh di daerah tropis. Tanaman dapat hidup dengan baik pada bebagai kondisi tanah, tetapi tidak tahan terhadap air yang tergenang. Rata-rata curah hujan yang baik bagi pertumbuhan gamal berkisar antara 800 – 1.700 mm/tahun. Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah kering dengan musim kemarau panjang (lebih dari 6 bulan). Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah seperti kelor laut, cep byar (jawa Barat), lirisidia (Jawa Tengah), johar gembira loka (Yogya), kelor wono (Malang Selatan), pohon ampere (Bali),pohon ayek (Sumatera Utara), wit seliro (Purwokerto), wit sepium (Surakarta), dan lirik sidia atau haji rasidia (Madura). Tetapi tamanan ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai makanan ternak karena belum terbiasa dan baunya yang khas kurang di sukai ternak. Untuk membiasakan ternak memakannya dapat diberikan sedikit demi sedikit atau dengan pelayuan.Produksi daun gamal dengan selang waktu pemotongan 3 bulan mencapai 43.000 ton atau sekitar 8 – 11 ton bahan kering per hektar per tahun. Kandungan zat makanan dari bahan kering adalah protein kasar 20,68 %, serat kasar 14,64%, lemak 4,75% dan abu 8,89%. Penanaman. Tanman gamal biasanya diperbanyak dengan setek batang. Perbanyakan dengan biji jarang dilakukan. Setek batang yang baik berasal dari batang bagian bawah dan tengah yang telah berumur lebih dari 10 bulan. Diameter setek antara 3 – 4 cm dan panjang setek 50 – 100 cm, Setek batang sebaiknya disemaikan dulu dalam kantong plastik , kemudian setelah tumbuh tunas 15 – 20 cm atau berumur 2 – 3 bulan baru dipindahkan ke lapang. Dapat pula setek langsung ditancapkan di tanah. Jarak tanam yang biasa dipakai 50 x 59 cm atau 100 x 100 cm dengan jarak antar barisan 2 m. Pemupukan umumnya jarang dilakukan, tetapi untuk mendapatkan hasil yang tinggi, pemberian pupuk buatan maupun pupuk kandang dapat dianjurkan. Pupuk P dapat diberikan 35 – 40 kg/ha/tahum, sedangkan pupuk kandang tergantung pada kondisi lahan. Pemotongan pertama pohon gamal dianjurkan setelah tanam berumur 1,5 tahun. Interval atau selang waktu pemotongan selanjutnaya setiap 3 bulan sekali. Penyusun : Sad Hutomo Pribadi Penyuluh BBP2TPSumber bacaan ; dari berbagai sumber bacaan