Loading...

Mengenal Tanaman Rumput Raja Sebagai Pakan Ternak

Mengenal Tanaman Rumput Raja Sebagai Pakan Ternak
Peningkatan popolusi ternak masih terpaku pada kemampuan suatu wilayah untuk menyediakan tanaman pakan ternak (carrying capacity). Hilangnya areal padang penggembalaan umum serta pengurangan lahan sebagai akibat semakin diintesifkannya usaha tanaman pangan dan peningkatan kebutuhan lahan akibat perkembangan kawasan industri maupun pemukiman mengakibatkan luas areal sumber tanaman pakan ternak semakin berkurang. Dengan demikian ketersediaan pakan hijauan, khususnya pada akhir musim kemarau sampai dengan awal hujan dianggap sebagai masalah paling utama. Ada beberapa jenis rumput unggul yang telah dikenal luas oleh peternak, diantaranya rumput raja atau dikenal sebagai "king gras", rumput gajah, dan setaria. RUMPUT RAJARumput raja merupakan hasil persilangan antara rumput raja (Pennisetum purpureum) dengan jawawut mutiara (Pennisetum typhoides) berumur setahun. Rumput raja dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi. Tempat yang sesuai untuk pertumbuhannya berkisar antara 0 – 1.500 m diatas permukaan laut dengan curah hujan antara 1.000 – 2.500 mm/tahun. Rumput ini di introduksi ke Indonesia pada tahuan 1980 an. Bila dikelola dengan baik produksi hijauan rumput raja hampir dua kali lipat dari rumput gajah. Sebaliknya apabila pengolahan tanah tidak memenuhi syarat dan tanahnya kurang subur maka pertumbuhan dan produksi hijauan akan lebih rendah dibandingkan dengan rumput gajah. Karena itu penanaman rumput raja dapat dilakukan apabila persyaratan untuk mendukung pertumbuhannya terpenuhi, bila tidak lebih baik menanam rumput gajah. Rumput raja sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air karena produksinya tinggi, umur panen pendek, dan kandungan zat makananya cukup tinggi. Produksi hijauan segar rumput raja berkisar 700 – 900 ton atau 100 ton bahan kering per hektar pertahun. Kandungan protein kasar 13,5 %, lemak 3,5 %, NDF 59,7 %, abu 18,6 %, Ca 0,37 % dan P 0,35%.Penanaman, Rumput raja dapat ditanam dengan setek batang atau sobekan rumpun. Setek batang yang baik berdiameter 1,5 – 2 cm dengan panjang 20 -25 cm atau memiliki 2-3 mata tunas. Bibit yang berupa sobekan rumpun terdiri atas 2 – 3 helai anakan, dan sebaiknya diambil dari tanaman yang sudah mempunyai anakan cukup banyak. Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dibuat lubang tanaman dengan kedalaman 20 – 25 cm dan jarak tanaman 1 x 1 m. Kebutuhan bibit untuk 1 ha lahan dengan jarak tanam 1 x 1 m kurang lebih 10.000 setek batang sedangkan untuk tanah yang kurang subur dianjurkan jarak tanam 75 x 75 cm.. Pupuk yang diberikan yaitu 10 ton pupuk kandang, 50 kg KCL dan 50 kg TSP/ha. Pemupukan selanjutnya dilakukan setelah tiga kali pemotongan dengan takaran yang sama. Pupuk urea dapat diberikan dengan takaran 50 kg/ha pada saat tanaman berumur 2 minggu dan setiap habis panen. Panen atau pemotongan pertama harus dilakukan pada saat tanaman berumur 2 – 3 bulan. Pemotongan berikutnya dapat dilakukan setiap 35 – 40 hari sekali. Pada musim kemarau, sebaiknya selang waktu pemotongan diperpanjang. Tinggi pemotongan 10 – 15 cm dari permukaaan tanah. Penyusun : Sad Hutomo Pribadi Penyuluh BBP2TPSumber bacaan ; dari berbagai sumber bacaan