Varietas kedelai yang dianjurkan merupakan varietas unggul tanaman kedelai yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian, baik berupa varietas penemuan baru maupun varietas lokal yang mempunyai kelebihan dalam potensi hasil dan/atau sifat-sifat baik lainnya. Penggunaan benih varietas yang dianjurkan dalam budidaya kedelai, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dan produksi kedelai. Sifat-sifat setiap varietas kedelai dapat sebagai pertimbangan dalam pemilihan varietas yang akan digunakan sebagai benih. Berikut beberapa varietas kedelai yang dianjurkan untuk dipilih sebagai benih agar dapat meningkatkan produksi, yaitu: Varietas Argomulyo: berbiji besar (16 gram/100 biji); dilepas tahun 1998; potensi hasil: 1,5 -2,0 ton/ha; umurnya 80-82 hari; tahan rebah. Variets Baluran: berbiji besar (15-17 gram/100 biji); dilepas tahun 2002; hasil penelitian BPTP Sulawesi Selatan; potensi hasil 1,8 ton/ha; potensi hasil antara 2,5 - 3,5 ton/ha; umurnya 80 hari. Varietas Grobogan: biji besar (18 gram/100 biji); dilepas tahun 2008; hasil penelitian BPTP Sulawesi Selatan 2,40 ton/ha; ditanam pada musim kemarau/musim kering; potensi hasil: 3,40 ton/ha; umurnya hanya 75 hari; polong masak tidak mudah pecah; dan daunnya luruh (95 - 100%) pada saat panen. Varietas Gepak Ijo: biji kecil (6,82 gram/100 biji); dilepas tahun 2008; potensi hasil 2,68 ton/ha; umurnya 73 hari; agak tahan: ulat grayak; agak tahan: aphis sp. Varietas Gepak Kuning: biji kecil (8,25 gram/100 biji); dilepas tahun 2008; potensi hasil: 2,86 ton/ha; umurnya 73 hari; agak tahan terhadap ulat grayak dan aphis sp. Varietas Anjasmoro: biji besar (14,8-15,3 gram/100 biji); dilepas tahun 2001; ditanam di tanah sawah pada musim kemarau I yang biasanya masih tersedia air hujan (Februari – Juni); potensi hasi: 2,03-2,25 ton/ha; umurnya 82-93 hari; tahan rebah. Varietas Detam I: biji sedang (14,84 gram/100 biji; dilepas tahun 2008; ditanam di tanah sawah pada musim kemarau I yang biasanya masih tersedia air hujan (Februari – Juni);potensi hasil : 2,15 -2,5 ton/ha; umurnya 84 hari. Varietas Detam II: biji sedang (13,54 gram/100 biji); dilepas tahun 2008; ditanam di tanah sawah pada musim kemarau I yang biasanya masih tersedia air hujan (Februari – Juni); potensi hasil: 2,96 ton/ha; umurnya 82 hari; umurnya lebih pendek 13 hari dibanding mahameru; agak tahan: kekeringan; agak tahan: pengisap polong. Varietas Wilis, biji sedang (10,0 gram/100 biji); dilepas tahun 1983; ditanam di tanah sawah pada musim kemarau I yang biasanya masih tersedia air hujan (Februari – Juni); potensi hasil: 1,6 ton/ha; umurnya 85-90 hari; tahan rebah. Varietas Sinabung: biji sedang (13,0 gram/100 biji); dilepas tahun 2001; ditanam di tanah sawah pada musim kemarau I yang biasanya masih tersedia air hujan (Februari – Juni); potensi hasil: 2,16 ton/ha; umurnya 88 hari; tahan rebah. Variets Panderman: biji besar (18 gram/100 biji); dilepas tahun 2003; hasil penelitian BPTP Sulawesi Selatan 2,20 ton/ha (ditanam pada musim kemarau/musin kering; potensi hasil: 2,40 ton/ha; umurnya hanya 85 hari; agak tahan ulat grayak; bentuk biji bulat; tahan rebah. Variets Burangrang: biji besar (16 gram/100 biji; dilepas: 1999; hasil penelitian BPTP Sulawesi Selatan 2,0 ton/ha; ditanam pada musim kemarau/musim kering; potensi hasil: 2,30 ton/ha; umurnya hanya 82 hari; tahan rebah; toleran terhadap karat daun. Varietas Ijen: biji sedang (11,23 gram/100 biji; dilepas tahun 2003; potensi hasil 2,15 -2,5 ton/ha; umurnya 83 hari; agak tahan terhadap ulat grayak. Varietas Tanggamus, biji sedang (11,0 gram/100 biji; dilepas tahun 2001; potensi hasil 1,22 ton/ha; umurnya 88 hari; tahan rebah. Varietas Kaba: biji sedang (10,37 gram/100 biji); dilepas tahun 2001; potensi hasil 2,13 ton/ha; umurnya 85 hari; tahan rebah. Varietas Tidar: biji kecil (7,0 gram/100 biji); dilepas tahun 1987; potensi hasil: 1,40 ton/ha; agak tahan: lalat bibit; agak tahan karat daun. Varietas Rajabasa: biji besar (15 gram/100 biji); dilepas tahun 2004; potensi hasil: 2,05-3,90 ton/ha; umurnya 82-85 hari; agak toleran terhadap lahan masam; agak tahan: penyakit karat. Dari beberapa varietas kedelai tersebut di atas, dapat disesuaikan dengan waktu tanam, seperti berikut: Varietas kedelai yang cocok ditanam untuk lahan sawah pada awal musim hujan/MH I (Oktober – Januari), antara lain: Agromulyo, Baluran, Grobogan, Gepak Ijo, Gepak Kuning. Untuk MH II (Februari – Juni) biasanya masih tersedia air hujan, antara lain: Anjasmoro, Detam 1, Detam 2, Wilis, Kaba, Ijen, dan Sinabung. Kemudian pada musim kemarau/MK (Juni – September) air hujan sudah terbatas, dianjurkan menggunakan varietas: Argomulyo, Burangrang, Baluran, dan Ijen. Sedangkan varietas kedelai yang cocok untuk lahan kering masam pada MH (Oktober - Januari) maupun MH II (Februari – Mei), antara lain: Anjasmoro, Rajabasa, Tanggamus, dan Sinabung. Pada lahan kering tidak masam untuk pertanaman MH (Oktober – Januari), antara lain: Anjasmoro, Baluran, Detam 1, Detam 2, Willis, Kaba, dan Sinabung. Untuk lahan kering tidak masam pada MH II (Februari – Mei) menggunakan varietas: Argomulyo, Burangrang, Baluran, dan Ijen. Varietas kedelai yang cocok ditanam pada lahan lebak, antara lain: Anjasmoro, Baluran, Rajabasa, Burangrang, Argomulyo, Tanggamus, Sinabung, Wilis, dan Ijen. Sedangkan Varietas kedelai yang dianjurkan untuk lahan pasang surut pada MH I sama dengan MH II, meliputi: Anjasmoro, Rajabasa, Tanggamus, Seulawah, Wilis dan Ijen. (Penulis: Susilo Astuti Handayani, Penyuluh Pertanian Pusluhtan). Sumber Informasi:1. Teknologi Budidaya Kedelai pada Berbagai Ekosistem di Sulsel. BPTP Sulawesi Selatan. 2015.2. Pedoman Teknis Pengelolaan Produksi Kedelai Tahun 2015. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. 2015.