Upaya perakitan varietas unggul jagung tidak hanya diarahkan pada daya hasil tinggi, tetapi juga bergizi tinggi untuk mendukung program diversifikasi pangan. Di Indonesia jagung termasuk pangan utama setelah padi dengan kandungan nutrisi yang cukup lengkap. Di beberapa daerah, jagung putih telah menjadi makanan pokok masyarakat. Pertanaman jagung putih dapat dijumpai di Nusa Tenggara Timur (Pulau Timor, Sumba, dan Flores), Nusa Tenggara Barat (Sandubaya), Jawa Tengah (Blora, Temanggung), Jawa Timur (Madura), Sulawesi Selatan (Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, dan Selayar), Sulawesi Tenggara, DI Yogyakarta, dan Gorontalo. Di masa mendatang jagung putih diharapkan akan lebih berkembang, baik sebagai pangan maupun bahan industri tepung yang dapat mensubtitusi terigu, terutama jika kualitas protein dan produksinya tinggi. Balai Penelitian Tanaman Serealia telah merakit dua varietas jagung hibrida berbiji putih dan satu varietas jagung hibrida berbiji kuning. Ketiga varietas unggul jagung hibrida ini dilepas oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2012. Dua jagung hibrida berbiji putih masing-masing dilepas degan Bima Putih 1 dan Bima Putih 2, sementara jagung hibrida berbiji kuning diberi nama Bima 16. Jagung Hibrida Biji Putih Varietas Bima Putih 1 merupakan jagung hibrida silang tunggal antara galur CML140 dan CML264Q. Kedua galur mempunyai kualitas protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung putih lokal. Varietas unggul ini memiliki batang yang besar dan perakaran kuat sehingga tahan rebah. Selain berdaya hasil tinggi (10 t/ha), Bima Putih 1 tergolong genjah, dapat dipanen pada umur 98 hari. Batang dan daun di atas tongkol masih hijau (stay green) pada saat panen sehingga dapat digunakan untuk pakan ternak. Kelebihan lain dari Bima Putih 1 adalah kandungan asam amino esensial yang tinggi, 0,23% untuk lisin dan 0,06% untuk triptofan, atau satu setengah kali lipat lebih besar dari kadar asam amino jagung putih yang ada di petani saat ini. Jagung hibrida Bima Putih 2 juga merupakan hibrida silang tunggal antara galur CML143 (induk betina) dengan CML264Q (induk jantan). Batangnya tergolong besar dengan perakaran yang kuat sehingga tahan rebah. Kelebihan lain dari varietas ini adalah berumur genjah (100 hari) dan stay green. Kandungan asam amino esensial Bima Putih 2 lebih tinggi dari Bima Putih 1, yaitu 0,29% lisin dan 0,07% triprofan. Kedua jagung hibrida berbiji putih ini dapat dijadikan sebagai bahan subtitusi beras, khususnya pada wilayah dengan penduduk yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok, seperti NTT, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Pengembangan varietas Bima Putih 1 dan Bima Putih 2 dapat menggantikan varietas lokal produktivitas rendah yang masih ditanam petani saat ini. Di masa mendatang, jagung putih diharapkan akan lebih berkembang, baik sebagai pangan maupun bahan industri tepung yang dapat mensubtitusi terigu. Jagung Hibrida Biji Kuning Varietas Bima16 juga merupakan jagung hibrida silang tunggal antara galur GC10279 sebagai tetua betina dengan galur Mr 14 sebagai tetua jantan. Varietas unggul jagung berbiji kuning ini sudah dapat dipanen pada umur 99 hari. Tinggi tanaman ± 220 cm, batang tegak, perakaran kuat, hasil rata-rata 10,9 t/ha dengan potensi dapat mencapai 12,4 t/ha pipilan kering pada kadar air 15%.Jagung hibrida Bima 16 tahan terhadap penyakit bulai (Peronosclerospora maydis L.), karat daun (Puccinia sorgi), dan bercak daun (Helminthosporium maydis). Dari aspek nutrisi, varietas unggul ini memiliki karbohidrat yang cukup tinggi, mencapai 63,1%; protein 12,1%; dan lemak 9,2%. (Penulis : Suwarna) Sumber : Balai Penelitian Tanaman Serealia, Badan Litbang Pertanian Jakarta, 2012