Kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu komoditas pangan bergizi tinggi sebagai sumber protein nabati dan rendah kolesterol dengan harga terjangkau. Kedelai juga merupakan komoditas pangan yang penting setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan dapat meningkatkan gizi masyarakat. Di Indonesia, kedelai banyak diolah untuk berbagai macam bahan pangan, seperti : tauge, susu kedelai, tahu, kembang tahu, kecap, oncom, tauco, tempe, es krim, minyak makan, dan tepung kedelai. Selain itu, juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.Tanaman Kedelai di beberapa provinsi tempat di Indonesia ada yang ditanam pada lahan sawah baik sawah tadah hujan, sawah semi intensif, maupun pada sawah irigasi teknis. Lahan sawah tersebut, ada yang ditanami dua kali dan ada juga satu kali. Kendala utama penanaman kedelai terutama adalah kondisi iklim yang tidak menentu dan tingginya serangan hama dan penyakit. Perubahan iklim yang secara tiba-tiba akan mengganggu pertumbuhan dan produksi kedelai. Kedelai merupakan tanaman yang sangat peka pada curah hujan yang tinggi dan kekeringan yang berkepanjangan.Oleh karena itu ada beberapa varietas unggul kedelai yang toleran terhadap kekeringan dan genangan, yaitu : 1). Varietas unggul umur genjah, yaitu Varietas kedelai yang berumur genjah ( 2). Varietas unggul umur sedang, Varietas kedelai umur sedang (81-89 hari) antara lain : Burangrang (82 hari), Sinabung (88 hari), Kaba (85 hari), Tanggamus (88 hari), Sibayak (89 hari), Lawit (84 hari), Menyapa (85 hari), Ijen (83 hri), Panderman (85 hari), dan Rajabasa (85 hari), Gumitir (81 hari), Argopuro (84 hari), Detam-1 (84 hari), Detam-2 (82 hari). 3). Varietas unggul umur dalem, Varietas kedelai umur dalam (90> hari) antara lain : Arjasari (98 hari),Seulawah (93 hari), Merubetiri (95 hari), Anjasmoro (92 hari), Mahameru (94 hari), Nanti (91 hari), Manglayang (92 hari), dan Ratai (90 hari). 4). Varietas unggul biji besar, Varietas kedelai biji besar antara lain : Grobogan (18 g/100 biji), Arjasari (19,2 g/100 biji), Argopuro (17,80 g/100 biji), Gumitir (15,75 g/100 biji), Rajabasa (15 g/100 biji), Panderman (18 g/100 biji), Baluran (15 g/100 biji), Anjasmoro (15,3 g/100 biji), Mahameru 16,5 g/100 biji), Burangrang (17 g/100 biji), Detam-1 (14,84 g/100 biji) dan Argomulyo (16,0 g/100 biji). 5). Vairetas unggul biji sedang, Varietas kedelai biji sedang antara lain : Detam-2 (13,54 g/100 biji), Ratai (10,5 g/100 biji), Ijen (11,23 g/100 biji), Merubetiri (13 g/100 biji), Lawit (10,5 g/100 biji), Sibayak (12,5 g/100 biji), Nanti (11,5 g/100 biji), Tanggamus (11,0 g/100 biji), Kaba (10,37 g/100 biji), dan Sinabung (10,68 g/100 biji). 6). Varietas unggul biji kecil, Varietas kedelai biji kecil antara lain : Gepak Ijo (6,82 g/100 biji), Gepak Kuning (8,25 g/100 biji), Seulawah (9,5 g/100 biji), dan Menyapa (9,1 g/100 biji). 7). Varietas unggul untuk lahan kering masam, Varietas unggul baru yang adaptif pada lahan kering masam antara lain : 1)Varietas Tanggamus dengan potensi hasil 2,8 t/ha, tahan rebah, dan tidak mudah pecah, 2) Varietas Nanti dengan potensi hasil 2,50 t/ha, tahan rebah, dan tidak mudah pecah, 3) Varietas Ratai dengan potensi hasil 2,70 t/ha, dan agak tahan rebah, 4) Varietas Seulawah dengan potensi hasil 2,50 t/ha dan agak tahan rebah, dan Varietas Rajabasa dengan potensi hasil 3,90 t/ha, tahan rebah, dan adaptif pada lahan kering masam. 8). Varietas unggul toleran/tahan terhadap serangan hama dan penyakit, Varietas unggul baru yang tahan/toleran terhadap hama : 1) Gepak Ijo tahan terhadap serangan ulat grayak, Aphis sp, dan penggulung daun, dan Phaedonia sp, 2) Gepak Kuning agak tahan terhadap ulat grayak, Aphis sp, penggulung daun, dan Phaedonia sp, 3) Detam-2 agak tahan terhadap pengisap polong, 4) Detam-1 agak tahan terhadap pengisap polong, 5) Argopuro agak tahan terhadap lalat kacang, pengisap polong, ulat grayak, 6) Rajabasa tahan terhadap penyakit karat daun, 7) Ratai agak tahan terhadap penyakit karat daun, 7) Panderman agak tahan terhadap ulat grayak, 8) Ijen agak tahan terhadap ulat grayak, 9) Anjasmoro moderat terhadap karat daun, 10) Mahameru moderat terhadap karat daun, 11) Nanti tahan terhadap penyakit karat, 12)Tanggamus moderat terhadap penyakit karat daun, 13) Kaba agak tahan terhadap karat daun, 14) Sinabung agak tahan terhadap penyakit karat daun, 15) Burangrang toleran terhadap penyakit karat daun, 16) Argomulyo teleran terhadap penyakit karat daun, 17) Pangrango tahan terhadap karat daun. Ditulis oleh : R Dani Medionovianto Sumber Bacaan : Teknologi Budidaya Kedelai pada Lahan Sawah, BPTP Sulawesi Selatan