Loading...

MENGHITUNG KEHILANGAN HASIL SAAT PANEN PADI

MENGHITUNG KEHILANGAN HASIL SAAT PANEN PADI
Panen merupakan pekerjaan akhir dari budidaya tanaman (bercocok tanam), tapi merupakan awal dari pekerjaan pasca panen, yaitu melakukan persiapan untuk penyimpanan dan pemasaran. Pada dasarnya yang dituju pada perlakuan panen adalah mengumpulkan komoditas dari lahan penanaman, pada taraf kematangan yang tepat, dengan kerusakan yang minimal, dilakukan secepat mungkin dan dengan biaya yang rendah ( Poerwodarminta, W.J.S., 2002). Melakukan pemanenan yang baik yaitu menekan kerusakan yang dapat terjadi dan menekan kehilangan hasil. Panen padi merupakan salah satu masalah yang kini dihadapi petani. Masalah utama dalam penanganan panen adalah masih tingginya kehilangan hasil selama penanganan panen yang besarnya sekitar 9 % ( (Hassanudin, A. dkk., 2002). Melihat besarnya angka tersebut petani banyak mengalami kerugian karena kehilangan hasil ini. Tetapi pada kenyataannya banyak petani kurang peduli atau mungkin mereka menganggap bahwa kehilangan hasil merupakan hal yang biasa dan tak perlu dipikirkan. Sebab ternyata dari berbagai teknologi yang disampaikan kepada petani untuk menekan kehilangan hasil kurang mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari mereka. I. Kehilangan Hasil Saat Panen Padi Gabah yang hilang adalah pengurangan atau penurunan berat gabah akibat tercecer yang tidak dapat diambil kembali oleh petani baik kuantitas maupun kualitas selama proses penanganan panen padi. Kehilangan gabah berarti keadaan yang menimpa atau dialami produsen (petani) akibat lenyapnya gabah hasil panenan tanpa seizin petani. Kehilangan kuantitatif ditujukan kepada jumlah atau bobot, sedangkan kehilangan kualitatif ditujukan kepada penurunan mutu (Nugraha, S., dkk., 1990).Tahapan panen padi yang utama meliputi pemotongan padi dan pengumpulan padi. Setiap proses pada masing-masing tahapan akan terjadi kehilangan hasil. Faktor yang mempengaruhi besarnya kehilangan hasil pada masing-masing tahapan berbeda-beda. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kehilangan hasil padi antara lain :(1) Varietas PadiVarietas unggul baru padi yang telah dilepas dan diadopsi oleh petani sebagian besar termasuk yang mudah rontok. Jika padi sudah lewat masak fisiologis, gabah akan mudah lepas dari malainya atau rontok. (2) Umur Panen PadiUmur panen padi sangat berpengaruh terhadap besarnya kehilangan hasil. Bila panen muda atau belum masak optimum maka mutu gabah yang dihasilkan akan rendah, banyak butir hijau. Sebaliknya padi yang dipanen terlalu tua atau terlewat masak, hasil akan turun karena gabah banyak yang rontok. Tanda-tanda padi masak optimum dan ideal untuk di panen adalah (1) kadar air gabah berkisar antara 21 – 26%, (2) 35 – 45 hari setelah berbunga rata, (3) 90 – 95 % malai tampak kuning dan umur padi menurut deskripsi varietas.(3) Alat PanenSabit harus tajam agar saat pemotongan padi tidak terjadi goyangan yang kuat, sehingga tidak menyebabkan gabah rontok. Penggunaan sabit bergerigi sebagai upaya untuk mengurangi goyangan ternyata tidak berkembang karena penggunaannya terbatas hanya untuk panen, sementara petani mengharapkan sabit yang serba guna.(4) Sistem PanenPemanenan padi sistem individual (keroyokan) dengan jumlah pemanen yang tidak terbatas, mendorong pemanen untuk berebut memotong padi sebanyak-banyaknya. Pengumpulan padi dilakukan secepat-cepatnya, agar dapat segera pindah ke tempat lain. Pemanenan padi sistem kelompok untuk membatasi jumlah pemanen dan dengan sistem kerja secara beregu akan menekan kehilangan hasil panen padi. Karena pada sistem ini terdapat pembagian tugas yang jelas dan dapat diterapkannya penggunaan alat perontok pedal thresher atau power thresher untuk mengurangi tingkat kehilangan hasil.(5) Perilaku PemanenPerilaku pemanen dalam memanen padi sangat berpengaruh terhadap kehilangan hasil. Dalam pemanenan padi pada umumnya semua aktivitas dilakukan oleh pemanen bukan oleh petani. Pemanen yang berperilaku buruk seringkali berbuat curang, mencuri atau menyembunyikan gabah. Panen padi sistem kelompok/beregu lebih mudah dikontrol dibanding dengan sistem keroyokan. II. Strategi Menekan Kehilangan Hasil Panen PadiUpaya peningkatan produktivitas padi di berbagai sentra produksi belum diikuti penanganan panen yang memadai, sehingga berakibat terhadap tingginya kehilangan hasil baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kehilangan hasil secara kuantitatif lebih banyak terjadi pada kegiatan panen dan perontokan, sedangkan kehilangan hasil secara kualitatif atau turunnya mutu lebih disebabkan oleh rusak atau rendahnya mutu gabah akibat terlambatnya proses perontokan dan pengeringan.Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, 2 hal utama yang perlu diperhatikan pada pemanenan yaitu : a. Menentukan waktu panen yang tepat, yaitu menentukan kematangan yang tepat dan saat panen yang sesuai, dapat dilakukan berbagai cara yaitu :• Cara visual/penampakan : misal dengan melihat warna kulit, bentuk buah, ukuran, perubahan bagian tanaman seperti daun mongering, dll• Cara fisik : misal dengan perabaan, bulir keras, bulir mudah dipetik, dll• Cara komputasi : misal menghitung umur tanaman sejak tanam atau dari masa primordial/bunting.b. Melakukan panen yang baik, yaitu menekan kerusakan yang dapat terjadi. Dalam suatu usaha pertanian (bisnis) cara-cara panen yang dipilih perlu diperhitungkan, disesuaikan dengan kecepatan atau waktu yang diperlukan (sesingkat mungkin) dan dengan biaya yang rendah. III. Menghitung Kehilangan Hasil Saat Pemanenan Adanya kehilangan hasil saat pemanenan disebabkan terdapatnya butir gabah yang tercecer atau tidak tertuai akibat perlakuan pemanenan dan peralatan panen. Untuk mendapatkan nilai kehilangan hasil (susut) saat pemanenan tersebut dilakukan dengan cara membandingkan hasil dari satu Petak/Plot ubinan Mantis (PM) dengan empat Petak Kontrol (PK). Penempatan PM (2,5 x 2,5 m) dan PK (1 x 1m) dilakukan secara acak (rendom) dengan menggunakan sumbu X dan Y dari barisan tanaman padi. Pemanenan PM dilakukan oleh petani dengan kebiasaan dan kecepatan setempat, sedangkan PK pemanenan dilakukan secara teliti menggunakan gunting untuk setiap malai. Dari hasil pengukuran di lapangan didapat nilai awal sebagai berikut : Nomor Plot Ubinan Mantis (PM) Plot Kontrol (PK)1 a Kg b Kg2 c Kg3 d Kg4 e KgRata – rata a = BUM kg b+c+d+e = BPK kg Keterangan : BUM = Berat rata-rata Ubinan Mantis dan BPK = Berat rata-rata Petak Kontrol Selanjutnya nilai-nilai tersebut dikonversikan pada luas 1 (satu) hektar :1. Berat rata-rata Ubinan Mantis per hektar (BM) = BUM kg x 1.600 = ........ kg2. Berat rata-rata Petak Kontrol per hektar (BK) = BPK kg x 10.000 = ....... kg Dengan data perhitungan di atas dapat dihitung besarnya susut (kehilangan hasil) saat panen sebagai berikut : SPn = BK – BM X 100% (Sumber : Iwan Ridwan, 1990) BK Contoh cara penghitungan : Telah dilakukan ubinan untuk menghitung kehilangan hasil saat pemanenan terhadap seorang petani di Desa Cikadu Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang. Dari ubinan tersebut diperoleh data Berat Ubinan Mantis (BUM) 5,6 kg dan empat petak kontrol (BPK) masing-masing : 0,85 kg, 0,95 kg, 0,90 kg, dan 0,90 kg. Hasil penghitungannya adalah sebagai berikut :Tabel hasil pengukuran :Nomor Plot Ubinan Mantis (PM) Plot Kontrol (PK)1 5,6 Kg 0,85 Kg2 0,95 Kg3 0,90 Kg4 0,90 KgRata – rata 5,6 Kg 0,90 kg a. Konversi pengukuran terhadap berat per hektar :1. BM = 5,60 x 1.600 kg = 8.960 kg2. BK = 0,90 x 10.000 kg = 9.000 kgb. Besarnya kehilangan hasil saat panen :9.000 - 8.960 kgSPn = x 100 % = 0,44 % 9.000 Jadi besarnya kehilangan hasil saat pemanenan adalah sebesar 0,44 % dari total hasil panen. Jika diperkirakan produksi padi per hektar sebanyak 5 ton, maka jumlah kehilangan hasilnya adalah 5.000 kg x 0,44% = 22 kg. Penulis : Dede Iskandar, S.ST (PP Ahli Desa Cikadu BPP Kec.Cijambe Distan Kab.Subang)Disusun : Tim BPP Kecamatan Cijambe Sumber :Hassanudin, A., Agus Styono, Soetjipto Ph. Dan Eko Ananto. 2002. Tinjauan Berbagai Hasil Kajian/Penelitian tentang Kehilangan Hasil Pascapanen Padi. Puslitbangtan, Jakarta. Ridwan, Iwan., 1990. Methode Menghitung Susut Pascapanen untuk Komoditi Padi (Methode Biro Pusat Statistik). Dinas Pertanian kabupaten Lebak. Nugraha, S., A. Setyono dan D.S. Damardjati. 1990. Pengaruh Keterlambatan Perontokan Padi terhadap Kehilangan dan Mutu. Kompilasi Hasil Penelitian 1988/1989. Pascapanen. Balitan Sukamandi. Poerwodarminta, W.J.S. 1987. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud. Balai Pustaka, Jakarta.