Kebumen – Desa Watulawang merupakan salah satu desa di Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.500 jiwa, dengan mata pencaharian sebagai petani dan/atau peternak, desa ini termasuk tidak beruntung dalam bidang pertanian, khususnya padi. Ya, tidak beruntung!!! Selain karena seluruh areal sawah tadah hujan, desa ini juga tidak memiliki sumber air yang permanen, yang dapat digunakan warga untuk mengairi sawah-sawah mereka, terutama di musim kemarau. Alhasil, petani padi di Desa Watulawang, hanya bisa bertanam padi, sekali setahun. Ketidakberuntungan dalam hal budidaya padi sawah, tidak menyurutkan petani di Desa Watulawang dalam ikut serta menyukseskan pembangunan pertanian. Di musim kemarau, ketika tidak menanam padi, mereka mengalihkan fokus kegiatan pertaniannya ke sektor peternakan dan perkebunan. Di sektor peternakan, para petani (atau peternak) di Desa Watulawang lebih menyukai beternak domba, sedikit out of the box dari peternak di Kabupaten Kebumen pada umumnya, yang lebih menyukai kambing. Sedangkan di sektor perkebunan, petani Desa Watulawang mengusahakan tanaman kopi. Kopi, memang bukan tanaman yang asing bagi petani di Desa Watulawang. Secara turun temurun, budidaya tanaman kopi sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun. Meskipun, budidaya dilakukan secara sederhana, belum ada sentuhan teknologi budidaya yang efektif dan efisien. Kopi yang dibudidayakan juga bukan merupakan kopi kualitas ekspor dari jenis arabica. Namun, kebanyakan yang dibudidayakan adalah jenis robusta. Hal ini dikarenakan, ketinggian Desa Watulawang sendiri hanya berkisar antara 200 – 300 meter di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan untuk mengembangkan kopi arabica diperlukan ketinggian di atas 1.000 meter dpl. Kopi arabica memang tidak dapat dikembangkan di Desa Watulawang, tetapi, dari warisan leluhur, di Desa Watulawang terdapat kopi jenis liberica. Kopi ini sudah ada di Desa Watulawang sejak puluhan tahun yang lalu. Beraroma khas, manis dan seperti aroma buah nangka. Karena itu, kopi ini lebih dikenal sebagai kopi nangka. Salah satu pegiat kopi di Desa Watulawang, Sugito (36 tahun), mulai mengembangkan kopi liberika lokal ini di pekarangan dan kebun, berdampingan dengan kopi robusta yang produktivitasnya lebih tinggi. Budidaya kopi juga dilakukan dengan cara-cara yang tepat, bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pejagoan, serta pihak swasta yang berkecimpung dalam bidang perkopian. Hasil kerja keras bersama akhirnya mulai mendatangkan hasil, petani-petani di Desa Watulawang sedikit demi sedikit mengikuti jejak Sugito untuk mengembangkan kopi liberica dan dan robusta. Lahan-lahan yang tadinya kosong atau tidak termanfaatkan secara optimal, mulai terisi dengan tanaman penghasil minuman hitam pekat ini. Dan tahap demi tahap, petani di Desa Watulawang mulai menuai hasil. Liberika dan robusta mulai berbuah, meskipun belum maksimal, tetapi sudah dapat memberikan tambahan penghasilan. Tinggal ke depannya adalah memaksimalkan pengolahan dan pemasaran. Penyusun : Kres Dahana, SP. Tanggal : 27 Desember 2019