Kegiatan pemanenan dan perontokan merupakan dua kegiatan yang rentan mengakibatkan kehilangan hasil padi. Hasil penelitian Biro Harga Dasar BULOG memperkirakan penyusutan hasil padi pada kegiatan panen dan perontokan masing-masing sebesar 2 persen. Artinya, kegiatan pemanenan dan perontokan berpotensi menyebabkan kehilangan hasil gabah sebesar 4 persen. Sedangkan hasil penelitian Badan pangan dunia (FAO) memperkirakan kehilangan hasil pada saat perontokan mencapai 2-6 persen. Upaya Mengurangi Kehilangan Hasil pada Waktu Panen Potensi kehilangan hasil yang dapat terjadi pada proses pemanenan padi adalah pada saat penumpukan dan pengumpulan padi untuk dirontok. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil saat panen sebaiknya pada waktu penumpukan padi dan pengangangkutan menggunakan alas plastik, sehingga gabah yang rontok dan tercecer dapat ditampung dalam wadah tersebut. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil hingga 2.36%.1. Tentukan Waktu Pemanenan yang TepatPenentuan waktu panen yang tepat merupakan langkah awal untuk mengurangi terjadinya kehilangan hasil. Pemanenan yang terlalu awal akan mengakibatkan penurunan kualitas dan penyusutan hasil karena gabah terlalu banyak mengandung butir hijau dan kapur, gabah terlalu banyak mengandung kapur redemennya rendah dan menghasilkan lebih banyak dedak.Jika pemanenan dilakukan terlalu terlambat, akan menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi akibat kerontokan gabah di lapangan. Penentuan umur panen dapat dilakukan secara visual dengan melihat kenampakan padi, melihat umur tanaman berdasarkan diskripsi masing-masing varietas maupun menggunakan tes kadar air gabah. Pengamatan secara visual umur panen dapat ditentukan berdasarkan pengamatan visual dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan sawah. Umur panen optimal padi dicapai setelah 90-95% butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan.Selain itu, berdasarkan umur tanaman hari setelah berbunga rata (hsb) antara 30 – 35 hari setelah berbunga rata atau umur tanaman berdasarkan saat tanam (hst) yaitu antara 135 – 140 hari setelah tanam, dan penentuan umur panen berdasarkan kadar air gabah. Umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22-23% pada musim kemarau, dan antara 24-26% kadar air gabah pada musim penghujan Kegiatan panen padi meliputi kegiatan pemotongan, penumpukan sementara di lahan, pengumpulan padi ke tempat perontokan, penumpukan/penundaan perontokan, perontokan, pengangkutan gabah ke rumah petani dan penjemuran gabah. Penekanan kehilangan hasil yang dapat di lakukan terutama pada proses pemanenan dengan panen secara berkelompok atau beregu dan perontokan padi dilakukan dengan menggunakan mesin perontok atau power thresher dengan penerapan proses yang baik (GMP). 2. Gunakan Alat Panen yang Tepat Pemanenan padi dapat dilakukan secara manual dan mekanis. Secara manual, pemanenan dapat menggunakan ani-ani, sabit dan sabit bergerigi. Sedangkan secara mekanis, dapat menggunakan mesin (Brinder atau Combine Harvesting). - Ani-aniPanen dengan menggunakan ani-ani memiliki resiko kehilangan hasil panen relatif sedikit. Namun pemanenan dengan alat ini membutuhkan tenaga kerja dan biaya yang banyak. - SabitPanen dengan menggunakan alat ini selain banyak butir gabah yang rontok (terutama dari jenis cere dan unggul) juga butir gabah masak (tua) dan yang belum masak (muda) akan terpanen secara sekaligus. Untuk mengurangi kerontokan digunakan sekarang sabit bergerigi - Mesin (Brinder atau Combine Harvester)Mesin pemanen jenis ini merupakan alat pemotong dan pengumpul yang dikombinasikan dengan alat perontok, pemisah gabah dari tangkai dan kotoran lainnya, sehingga dengan menggunakan alat pemanen ini akan diperoleh gabah bersih Upaya Mengurangi Kehilangan Hasil pada Waktu Perontokan Perontokan adalah proses melepaskan butiran gabah dari malai padi yang dapat dilakukan melalui proses mekanis yaitu dengan proses menyisir atau membanting malai padi pada benda yang lebih keras ataupun alat perontok tertentu. Pada beberapa kasus, tidak semua petani langsung melakukan perontokan padinya setelah melakukan pemotongan. Di beberapa daerah penundaan perontokan atau terjadinya keterlambatan perontokan selalu terjadi. Beberapa hal yang mungkin terjadi selama proses penundaan antara lain : (1) terjadi kehilangan hasil yang disebabkan oleh gabah yang rontok selama penumpukan atau dimakan binatang, dan (2) terjadi kerusakan gabah karena adanya reaksi enzimatis, sehingga gabah cepat tumbuh berkecambah, terjadinya butir kuning, berjamur atau rusak. Kerusakan gabah setelah penundaan perontokan selama 3 hari pada musim kemarau mencapai 2,84 % dan selama 1 hari berkisar 1.25-2%.Perbaikan teknologi penundaan perontokan dapat dilakukan dengan cara : (1) menggunakan alas plastik pada saat penundaan padi, dan (2) penundaan boleh dilakukan tetapi tidak boleh lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan padi tidak lebih dari 1 m. Dengan implementasi teknologi penundaan tersebut dapat menekan kehilangan hasil antara 1,35%.Penyebab utama kehilangan hasil pada perontokan padi adalah : (1) perilaku petani yang bekerja kurang hati-hati, (2) cara penggebotan dan frekuensi pembalikan padi, (3) kecepatan silinder perontok dan (4) besarnya alat plastik yang digunakan pada saat merontok. Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/930/file/MetodeMenekanKehilanganHas.pdfSulardjo. 2014. Penanganan pascapanen padi. Magistra. No.88 Th.XXVI Juni 2014. Tersedia di:http://download.portalgaruda.org/article.php?article=253355&val=6820&title=PENANGANAN%20PASCAPANEN%20PADI. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com