Loading...

Mengurangi Kehilangan Panen Padi pada Saat Pengeringan

Mengurangi Kehilangan Panen Padi pada Saat Pengeringan
Pengeringan merupakan salah satu kegiatan penanganan pasca panen padi. Pengeringan bertujuan untuk mendapatkan gabah kering yang tahan disimpan dan memenuhi persyaratan kualitas gabah yang akan dipasarkan. Pengeringan juga ditujukan untuk memudahkan pengelolaan selanjutnya, mencegah kerusakan karena perkembangan jamur, hama, serta mencegah terjadinya penuruan kualitas fisik dan biologis gabah serta mempertahankan kandungan gizi pada gabah. Pada saat dilakukan pengeringan, sangat rentan terjadinya kehilangan hasil. Berdasarkan hasil penelitian Biro Harga Dasar Bulog dan Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyatakan bahwa perkiraan penyusutan hasil padi pada saat pengeringan dapat mencapai 1,5% (menurut BULOG), dan 2% menurut FAO (Sulardjo, 2014). Kehilangan hasil pada saat pengeringan erat kaitannya dengan proses panen dan penanganan pascapanen lainnya, seperti waktu panen yang tidak tepat, cara perontokan, pembersihan dan pengangkutan gabah. Waktu panen yang lebih awal akan menyebabkan menurunnya kualitas gabah karena gabah terlalu banyak mengandung butir hijau dan kapur. Jika panen terlalu terlambat, risiko kehilangan hasil lebih besar karena rontoknya gabah karena terlalu masak. Perontokan yang dilakukan segera setelah pengeringan juga beresiko memperbesar persentase kerusakan mekanis. Kerusakan mekanis selama perontokan atau penggilingan juga dapat disebabkan oleh pengeringan yang terlalu cepat. Khusus untuk negara-negara Asean, pengeringan seringkali dilakukan dengan cara penjemuran yang dapat menimbulkan susut akibat akibat tercecernya biji-bijian atau dimakan oleh ayam dan burung. Selama dalam pengangkutan atau penyimpanan, susut dapat terjadi akibat biji-bijian tercecer bila tidak dikemas dengan cara yang benar.Pengeringan dilakukan dengan cara mengurangi air pada gabah sampai kadar air yang dikehendaki. Untuk padi, Badan Urusan Logistik (BULOG) menetapkan kadar air maksium gabah adalah 14%. Untuk gabah yang akan disimpan, kadar sebaiknya sekitar 12%. Untuk menghasilkan beras berkualitas baik, gabah hasil panen harus segera diturunkan kadar airnya secara cepat. Jika terlambat dilakukan pengeringan, akan menyebabkan kerusakan pada gabah. Kerusakan dapat disebabkan oleh terangsangnya daya pertumbuhan gabah (gabah menajdi berkecambah). Kerusakan lainnya diakibatkan oleh tumbuhnya mikroba akibat panas respirasi yang terus berlangsung. Kehilangan hasil pada tahapan penjemuran umumnya disebabkan oleh:1. Fasilitas penjemuran seperti lantai jemur maupun alas lainnya yang kurang baik, sehingga banyak gabah yang tercecer dan terbuang saat proses penjemuran2. Adanya gangguan hewan seperti ayam dan burung.Secara umum ada dua cara pengeringan yaitu secara tradisional dengan jalan penjemuran dan secara modern dengan menggunakan mesin pengering. Pengeringan secara tradisional merupakan cara yang pengeringan yang lazim digunakan oleh petani dilakukan dengan cara menjemur langsung dengan menggunakan sinar matahari. Sedangkan cara modern dilakukan dengan dengan menggunakan alat pengering buatan (artificial dryer). Pengeringan dengan Sinar MatahariPada saat melakukan pengeringan dengan sinar matahari (penjemuran) harus memperhatikan hal-hal berikut: 1. Intensitas sinar2. Suhu pengeringan yang selalu berubah3. Ketebalan penjemura4. Frekuensi pembalikanPenjemuran yang dilakukan tanpa memperhatikan hal-hal tersebut di atas dapat menyebabkan penurunan kualitas beras, misalnya beras akan menjadi pecah waktu proses penggilingan. Penjemuran pada lapisan semen yang dilakukan dengan ketebalan yang tipis kurang dari 1 cm dapat mengakibatkan persentase beras pecah lebih dari 70% dengan rendemen giling rendah. Rekomendasi International Rice Research Institute (IRRI) merekomendasikan tata cara pengeringan menggunakan sinar matahari, yaitu: 1. Menyebarkan padi dengan ketebalan 2-4 cm2. Sebaiknya pada area yang berangin atau diberikan aerasi udara. 3. Pencampuran atau pembalikan dengan teratur, sebaiknya dilakukan setap 30 menit. 4. Lakukan proteksi atau pemberian terpal bila diperoleh temperatur melebihi 500C. 5. Simpan padi yang telah kering atau diberikan terpal bila terjadi hujan dan sewaktu malam hari. 6. Penjagaan atas hewan ternak juga diperlukan dalam memperoleh hasil yang maksimal.Pengeringan dengan Pengering BuatanPengeringan dengan alat pengering buatan akan menghasilkan gabah berkualitas lebih baik, hal ini disebabkan suhu pengering, aliran udara panas dan laju penurunan kadar air dapat dikendalikan. Terdapat tiga tipe pengering, yaitu: 1. Pengering Flat bed Kuantitas padi tetap dikeringkan hingga pengeringan selesai, kualitas padi kering lebih baik dibandingkan pengeringan sinar matahari khususnya pada musin hujan. Hanya saja ada kekurangan adanya perbedaan kadar air didekat udara masuk dan keluar sehingga diperlukan pembalikan secara regular 2. Pengering Fixed bed batch Kuantitas padi yang dikeringkan tetap seperti pengering flat bed hanya kapasitasnya lebih besar. kualitas padi kering lebih baik dibandingkan pengeringan sinar matahari khususnya pada musin hujan. Hanya saja ada kekurangan adanya perbedaan kadar air didekat udara masuk dan keluar sehingga diperlukan pembalikan secara regular 3. Pengering Re-circulating Kuantitas padi yang dikeringkan tetap hingga diperoleh kadar air yang sesuai an kemudian disalurkan secara otomatis melalui bagian bagian pengering yang tersusun. Menggunakan luasan yang minimum, secara continue mencampurkan padi sehingga tidak terlalu banyak perbedaan kadar air diantara padi dan lebih effisien. Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/930/file/MetodeMenekanKehilanganHas.pdfhttp://www.knowledgebank.irri.org/postproductioncourse/index.php/drying/machine-dryingSulardjo. 2014. Penanganan pascapanen padi. Magistra. No.88 Th.XXVI Juni 2014. Tersedia di:http://download.portalgaruda.org/article.php?article=253355&val=6820&title=PENANGANAN%20PASCAPANEN%20PADI. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi PertanianEmail: ume_humaedah@yahoo.com