MENINGKATKAN GEMAR BERTANAM CABE DI KALANGAN MASYARAKATUNTUK MENEKAN HARGA JANGAN SAMPAI PEDAS Cabe adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan. Bagi seni masakan Padang, cabai bahkan dianggap sebagai "bahan makanan pokok" kesepuluh (alih-alih sembilan). Sangat sulit bagi masakan Padang dibuat tanpa cabai…(Wikipedia)Awal tahuanan 2017 ini cabai menjadi fenomenal dan banyak diperbincangkan bahkan melebihi berita-berita politik dan kasus gayus, hal ini dikarenakan harga cabai yang meroket naik. Di beberapa daerah harga cabai mencapai 100 ribu per kg, bahkan ada juga yang menjual cabe satu glintir atau satu buah cabe seharga seribu rupiah. Ini sungguh mengerikan, betapa tidak berartinya nilai uang kita saat ini. Tidak heran kalau di pasaran yang dicari tidak lagi cabai segar tetapi cabe busuk atau layu. Hal ini dilakukan sejumlah pedagang makanan yang tidak ingin kehilangan pelanggan karena menaikkan harga makanan.Naiknya harga cabe juga mempengaruhi naiknya kontribusi pengaruh komoditi terhadap inflasi. Di Indonesia komoditi menyumbang 17% dari besaran inflasi. Dengan naiknya harga cabe ini tentu juga memberikan pengaruh, walaupun mungkin tidak besar tetapi perlu juga diperhatikan.Dari sisi masyarakat dalam artian rumah tangga, banyak dari ibu-ibu mulai mengurangi masak-masakan yang banyak cabe dengan digantikan dengan tahu atau tempe goreng saja, tanpa samba bagi pecinta masakan yang pedas tentu akan tersiksa dengan kondisi tersebu.Istilahnya Ibarat makan gorengan tanpa cabai serasa tidak komplet tentunya.Sedangkan dari sisi kesehatan, cabe rawit ternyata banyak mengandung vitamin C dan A Dengan dikurangi proporsi cabe dalam masakan berarti berkurang juga asupan vitamin A dan C Dari berbagai berita yang saya baca naiknya harga cabai dikarenakan anomali cuaca yang mengakibatkan banyak cabe gagal panen. Dengan musim penghujan yang terus menerus mengakibatkan banyak cabe diserang hama dan akhirnya rusak.Akhirnya dapat kita lihat bahwa kita sendiri yang mengakibatkan kesulitan dan kesusahan dimuka bumi ini. Industrialisasi yang tidak memperhatikan alam membuat cuaca menjadi tidak menentu, dan berakibat komoditi seperti cabe manjadi langka karena gagal panen. Apakah cabai juga mau dibuat sintetis,atau dibuat saja industri pembuatan cabai,Itulah kenapa kita harus menghargai alam kita. Industrialisasi seharusnya tanpa merusak alam, mempertimbangkan keseimbangan ekosistem dan pada akhirnya menjaga kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita nanti. Dan tetap bisa menikmatiData Info Pangan Jakarta (IPJ) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (2/1/2017), menunjukkan, harga cabai merah keriting mencapai Rp 38.000 per kilogram, naik Rp 5.000 dari hari sebelumnya, cabai merah besar Rp 21.000 per kilogram, naik Rp 1.000 dari hari sebelumnya.Selanjutnya, cabai rawit merah Rp 75.000 per kilogram, naik Rp 3.000 dari hari sebelumnya dan cabai rawit hijau mengalami kenaikan tertinggi Rp 25.000 menjadi Rp. 62.000 per kilogram.Di daerah, kenaikan harganya bikin geleng-geleng kepala. Tiga hari terakhir pasca-libur tahun baru, harga cabai rawit merah di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, melonjak hingga Rp 140.000 per kilogram. Padahal, biasanya pedagang menjualnya di kisaran Rp 60.000 per kilogram.Harga yang lebih fantastis lagi terjadi di Pasar Induk Segiri Samarinda, Kalimantan Timur. Sejak akhir Desember 2016, pedagang mencatat harga cabai terus naik.Harga cabai merah yang biasa dijual Rp 30.000 per kilogram naik menjadi Rp 110.000 per kilogram, sedangkan harga cabai rawit tiung menembus harga Rp 250.000 per kilogram.Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan bahwa produksi cabai masih memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, para petani tidak boleh memanen karena musim hujan."Tidak boleh panen kalau musim hujan. Busuk nanti. Tapi produksi aman kan, tidak ada impor, cabai, bawang dan beras," demikian penjelasan Amran di Kompleks Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/12/2016).Presiden Joko Widodo yang sempat turun memantau harga cabai di Pasar Kanjen, Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (9/1/2017), juga menunjuk cuaca hujan yang terus-menerus sebagai biang keladi kenaikan harga cabai sehingga kondisi pertanian cabai pada akhir 2016 memang kurang bagus."Yang namanya harga tergantung supply dan demand. Karena musim 2016 kemarin memang jelek untuk cabai sehingga banyak yang busuk dan gagal panen sehingga supply-nya kurang," ujar Jokowi saat itu.Ase, pedagang cabai di Pasar Sentral Inhutani Nunukan, menilai, harga cabai meroket karena dipengaruhi kerterlambatan pasokan dari Sulawesi pasca-libur tahun baru. Selain itu, musim hujan di wilayah penghasil cabai di Sulawesi itu dinilai turut menjadi faktor penyebab.Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menginstruksikan supaya cabai di daerah yang pasokannya melimpah didistribusikan ke daerah yang kekurangan pasokan.Kenaikan harga cabai yang fantastis ini membuat masyarakat dan pemerintah, terutama di daerah, memutar otak. Pasalnya, Indonesia dikenal dengan warganya yang tak pernah bisa lepas dari kuliner pedas.Di salah satu kantor misalnya, pedagang tahu bakso mengurangi jumlah cabai rawit yang menyertainya dari yang biasanya 4-5 buah cabai menjadi kini hanya 2 buah. Para penikmat pedas yang biasa membeli tahu bakso tersebut tentu saja gusar.Kegusaran Masyarakat ini tentu diiringi alasan yang jelas karena masyarakat Indonesia hampir pengkonsumsi cabe,apapun jenis masakan dan kuliner masyarakat Indonesia tak lepas dari cabe Dia berharap pemerintah segera melakukan langkah kongrid untuk menekan harga,hal ini tak mungkin bisa terwujud dalam waktu dekat,perlu seluruh elemed di kerahkan seluruh instansi terkait dari pusat sampai pada pimpinan daerah,perlu himbauan dan ajakan khusus nya para penggiat bidang cabe,seperti petani cabe.dan masyarakat umum prlu di himbau mari bersama Ramai kampanye "ayo tanam cabai sendiri"Harga cabai yang melambung tinggi membuat sejumlah kepala daerah memiliki ide cemerlang dengan berkampanye menanam cabai di halaman rumah sendiri.Bupati agam Ir indra catri Datuak malako nan putiah,Pada waktu haraga cabe melonjak sampai 100 000 dikalangan pengencer menyarankan warganya untuk memanfaatkan "warung hidup" di rumah masig-masing. Beliau menyebutkan sejumlah tanaman bumbu dapur yang bisa ditanam sendiri, mulai dari cabai, bawang-bawangan, dan seledri, di halaman atau pekarangan rumah sendiri. Cukup dua sampai lima pohon cabai saja untuk satu keluarga. dan juga memerintahkan dinas terkait untuk menyiapkan bibit cabai dan dibagikan kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Agam. Dia sedang memikirkan waktu yang tepat untuk menggelar kegiatan menanam cabai serentak di daerahnya.Selain itu, menyarankan agar masyarakat mengendalikan penggunaan cabai pada penganan yang dimasaknya sehari-hari.Usul serupa juga diungkapkan oleh Gubernur Sumatera Barat bapak irwan Prayitno Anjuran tersebut sejalan dengan surat Gubernur Sumatera Barat nomor 521.1/12037/Diperta/2016, tanggal 24 Oktober 2016, tentang Antisipasi Inflasi"Mulai sekarang, yok kita tanam cabai di depan rumah. Kalau di Nagari atau kampuang , bisa tanam di lahan. Kalau di kota yang tidak memiliki lahan, maka bisa menggunakan pot. Kalau kita bisa tanam sendiri, itu luar biasa,Menurut Gubenur Sumbar, meroketnya harga cabai, terutama Cabe merah, di Sumatera Barat disebabkan banyak cabai yang justru dijual ke luar Sumatera Barat. Artinya, perniagaan cabai hanya memutar dari daerah satu ke daerah lain."Karena dijual di Luar Sumatera Barat sehingga harga sampai di pasaran sudah terbebani dengan ongkos transportasi," kata dia. Beda lagi dengan Pengakuan salah seorang pengusaha rumah makan ampera di Kab.Agam Tek Yus."Sambalnya di-mix, jadi sambel terong, sambal teri. Cabainya juga di-mix," ungkap Diana.Jadi guna menanggulangi harga yang begitu menggila waktu awal tahun kemaren ini betul kiranya himbauan kepala daerah ini di galakan bagi seluruh masyarakat,,petani penggiat tanaman cabe,penyuluh pertanian di tingkat kecamatan harus menyambung lidah dari himbauan kepala daerah mari menanam cabe di pekarangan rumah,kantor dinas instansi,Kapan perlu kepala daerah buatkan perbup nya dengan berkonsiluasi dengan dinas Pertanian,setiap rumah diajurkan menanam 10 Batang minimal tiap rumah Tangga diwajibkan menanam cabe tersebut,semoga kenaikan cabe biasa sedikit ditekan dikalangan rumah tangga,Hal ini telah ditanggapi cepat oleh kepala daerah kab agam,bupati Agam Ir Indra Catri telah pernah membagikan bibit cabe ke Masyarakat Kab Agam beberapa bulan yang lalu untuk ditanam di pekarangan rumah tangga di Kab Agam,semoga hal ini biasa menjadi salah satu solusi untuk menekan naiknya harga cabe di pasaran,Mudah mudahan beberapa bulan kedepanyan di harapkan masalah kenaiakan cabe biasa di tanggulangi,semoga.Penulis :Indra Jaya.SH ,Kasubag TU Wilayah kerja BP4K2P Kec.Tilatang Kamang,Kab.Agam,Sumatera Barat