Loading...

Meningkatkan Kemampuan Para Wanita Tani melalui Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal

Meningkatkan Kemampuan Para Wanita Tani melalui Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal
Dibuka oleh Ka. Si. Kewaspadaan Pangan BKP3 Bantul, Ir. Suryanti, MMA., kegiatan Pelatihan Pangan Lokal di Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kab. Bantul telah dilangsungkan pada Rabu dan Kamis (25-26/05) lalu dengan peserta 25 Kelompok Wanita Tani (KWT) dari Kegiatan Pemberdayaan SDM KWT dan Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari. Pada hari pertama, narasumber dari BKPP DIY, Kasubid Pengembangan Mutu Konsumsi Pangan, Puryanta, SP., menguraikan tentang pemanfaatan pekarangan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). KRPL merupakan konsep model rumah pangan yang dibangun dalam suatu kawasan dengan prinsip pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan. Melalui pemanfaatan pekarangan selain dapat menghemat pengeluaran, meningkatkan kesejahteraan, juga sebagai sumber penyediaan bahan pangan yang lebih sehat dan bergizi bagi keluarga. Terkait perkembangan KWT yang telah mendapatkan pembinaan dalam pemanfaatan pekarangan pada tahun-tahun yang lalu, Puryanta mengingatkan agar senantiasa berlanjut dalam pemeliharaannya dan tertib dalam pelaporan penggunaan dana. Retnosyari Septiyani, STP., MSc., seorang praktisi pengolahan pangan, mengajak para anggota KWT untuk meningkatkan konsumsi pangan umbi-umbian dan pangan lokal lainnya untuk mendukung perkembangan penganekaragaman pangan sehingga tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan saja seperti nasi atau gandum. Disinggung pula mengenai pengolahan pangan yaitu dari bahan segar/mentah serta dari bahan olahan intermediet (tepung/pasta). Dalam bentuk intermediet, bahan yang sudah diolah dapat disimpan dalam jangka waktu lama dan pemasarannya menjadi lebih luas, penggunaannya pun menjadi lebih fleksibel dengan nilai jual tinggi. Sementara itu, Ir. Suryanti, MMA. menerangkan tentang pengemasan pangan untuk meningkatkan nilai tambahnya. Tujuan pengemasan adalah untuk memperpanjang umur simpan bahan pangan, menyelamatkan produksi bahan pangan yang berlimpah, mencegah kerusakan nutrisi, memudahkan distribusi dan menambah estetika serta nilai jual. Diuraikan pula, syarat dan macam-macam bahan pengemas serta contoh tampilannya. Perlu diperhatikan juga keamanan dalam pengemasan makanan agar tidak membahayakan bagi konsumen. Selain itu dipaparkan pula tentang manajemen pemasaran. Pelatihan diperkaya dengan praktek langsung pengolahan bahan pangan lokal pada hari kedua. Bp. Sukarno, praktisi olahan lokal dan produk herbal dari Sewon mengajar ibu-ibu KWT bagaimana mengolah tepung jagung menjadi roll dan mengemasnya dalam aluminium foil. Sedangkan Bp. Sukiman dari SMK 1 Sewon Jurusan Boga, mengajak peserta mengolah ubi kuning menjadi hidangan kue serta menghiasnya sehingga cantik dan menarik. Dalam kegiatan pelatihan ini selain pemberian materi dan praktek, juga diselingi dengan diskusi antara peserta dengan narasumber sehingga diharapkan dapat memperkaya ide serta merangsang inovasi dan kreasi para anggota KWT dalam mengolah dan menyajikan pangan berberbahan baku lokal.