Loading...

MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI MELALUI TUMPANGSARI JAGUNG DAN CABAI RAWIT

MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI MELALUI TUMPANGSARI JAGUNG DAN CABAI RAWIT
Pendahuluan Untuk memaksimalkan penggunaan lahan dan meningkatkan pendapatan, beberapa petani menerapkan budidaya dengan teknik campuran atau tumpang sari. Teknik menanam dengan pola tumpang sari sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pertanian di Indonesia, sejak jaman dahulu kakek-nenek kita sudah menerapkan pola ini. Tapi seiring dengan perkembangan jaman pola tanam tumpang sari mulai ditinggalkan, namun saat ini mengingat ketersediaan lahan pertanian yang semakin hari terus menyempit pola tanam campuran ini kembali digalakkan. Sistem tumpang sari atau multiple cropping adalah suatu metode bercocok tanam dengan menanam dua tanaman atau lebih dalam satu lahan dalam waktu yang hampir bersamaan. Tanaman tumpangsari sangat bagus jika dikombinasikan dua tanaman inti dan satu tanaman penolak hama. Salah satu contoh budidaya campuran atau tumpang sari adalah budidaya jagung dan cabai rawit. Jagung adalah salah satu jenis tanaman bahan makanan pokok sumber karbohidrat pengganti nasi yang memiliki nilai ekonomis terlebih lagi jagung manis yang dipanen muda memiliki nilai jual yang baik. Sementara cabai rawit adalah tanaman yang tidak bisa diragukan lagi nilai ekonomisnya, meskipun kadang-kadang harganya anjlok. Jagung dan cabai rawit bisa ditumpang sari dan tetap bisa tumbuh dan berproduksi secara maksimal. Teknik tumpang sari jagung dan cabai rawit dilakukan dengan pola tertentu dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu satu sama lain. Salah seorang petani Warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan budidaya kedua jenis komoditas tersebut saling mendukung dengan usia tanam hampir berbarengan. Saat jagung dipanen pada usia tiga bulan lebih, tanaman cabai rawit memasuki usia empat bulan atau memasuki tahap pematangan buah pertama. Beberapa Kelebihan Yang Dimiliki oleh Pola Tanam Tumpangsari. 1. Efisien penggunaan ruang dan waktu Dengan pola tanam tumpang sari ini, akan dihasilkan lebih dari satu jenis panenan dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Lebih dari satu hasil panen yang dihasilkan dalam satu waktu merupakan salah satu efisiensi produksi dalam kaitannya dengan waktu. Dalam beberapa penelitian, tumpangsari diketahui mampu meningkatkan produktivitas lahan. Tumpangsari memang menurunkan hasil untuk masing-masing komoditas yang ditumpangsarikan karena adanya pengaruh kompetisi, tetapi, berdasarkan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL), berkurangnya hasil tiap-tiap komoditas masih berada di dalam kondisi yang menguntungkan. 2. Mencegah dan Mengurangi Pengangguran Musiman Pada tumpangsari, tanaman yang diusahakan lebih beragam. Perawatan yang dilakukan untuk setiap jenis tanaman kebanyakan juga tidak dalam waktu yang sama. Dengan demikian, petani akan selalu memiliki pekerjaan selama siklus hidup tanaman. 3. Pengolahan Tanah menjadi Minimal Kelebihan dari pengolahan tanah minimal adalah tidak terjadinya kerusakan struktur tanah karena terlalu intensif diolah. Selain itu, pada pengolahan tanah minimal atau tanpa oleh tanah resiko erosi akan lebih kecil dari pada yang diolah secara sempurna 4. Meragamkan gizi masyarakat Hasil tanaman yang lebih dari satu jenis tentunya akan memberikan nilai gizi yang beragam. Setiap tanaman pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang berbeda-beda. Ada sebagian yang mengandung karbohidrat, ada juga yang mengandung protein, lemak, ataupun vitamin-vitamin. Penganekaragaman jenis tanaman juga akan memberikan keanekaragaman jenis gizi kepada masyarakat. 5. Menekan serangan hama dan patogen Pola tanam dengan sistem tumpangsari sama dengan memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan pengendalian OPT memberikan keuntungan: (1) penjagaan fase musuh alami yang tidak aktif, (2) penjagaan keanekaragaman komunitas, (3) penyediaan inang alternative, (4) penyediaan makanan alami, (5) pembuatan tempat berlindung musuh alami, dan, (6) penggunaan insektisida yang selektif. Budidaya Tumpangsari Jagung dan Cabai Rawit. Persiapan Lahan Budidaya Tumpang sari Jagung dan Cabai Mempersiapkan lahan untuk budidaya tumpang sari jagung dan cabai rawit tidak berbeda dengan persiapan lahan budidaya tanaman tunggal, yaitu diawali dengan pengolahan lahan, prosesnya adalah pembersihan lahan, penggemburan / pembajakan, serta pembuatan bedengan. Langkah nya sbb : (a) bersihkan lahan dari gulma atau sisa-sisa tanaman sebelumnya, (b) lahan dibajak/dicangkul supaya gembur, (c) pembuatan bedengan, dengan ukuran lebar 80m – 90 cm, tinggi bedengan kira-kira saja asalkan tidak tergenang air, panjang bedengan disesuaikan dengan lahan. Bedengan sebaiknya dibuat tidak terlalu tinggi agar mudah melakukan pendangiran, (d) cek pH tanah, jika pH kurang dari atau dibawah 5,5 taburkan kapur pertanian (dolomit) sesuai kebutuan. biarkan selama beberapa hari agar tersiram air hujan Pemberian Pupuk Dasar Tumpang sari Jagung dan Cabe Rawit Pupuk dasar diberikan dengan tujuan untuk menambah ketersediaan unsur hara didalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk dasar wajib diberikan pada tanah yang kurang subur, berupa pupuk kandang atau kompos, bisa juga ditambah dengan pupuk NPK. Pupuk ditaburkan merata diatas bedengan kemudian diaduk hingga tercampur rata dengan tanah. Dosis pupuk kandang dan pupuk kimia disesuaikan dengan kebutuhan. Biarkan selama kurang lebih 7 hari sebelum penanaman. Cara Penanaman Jagung Jagung ditanam dengan jarak antar tanaman 30 cm dan jarak antar baris dalam bedengan 50 cm. Tanam satu benih jagung dalam satu lubang tanam. Sebelum ditanam benih jagung bisa juga dicampur dengan fungisida dan insektisida, tujuannya untuk mencegah penyakit jamur dan gangguan hama. Jagung manis bisa dipanen pada usia 60 – 65 hari setelah tanam tergantung varietas dan lokasi penanaman. Didataran rendah jagung manis lebih cepat panen daripada didataran tinggi. Sedangkan jagung kering bisa dipanen ketika berusia 85 – 95 hari setelah tanam. Waktu Penyemaian Benih Cabai Rawit Benih cabai rawit disemai 10 hari sebelum penanaman jagung atau bersamaan dengan penanaman jagung. Benih cabai sebaiknya disemai menggunakan polybag atau try semai agar tidak stres saat pindah tanam. Bibit cabai bisa dipindah tanam ke lahan ketika tanaman jagung sudah berumur 20 – 30 hari setelah tanam. Pada saat itu bibit cabai rawit sudah berusia 1 bulan. Tanam bibit cabai rawit diantara tanaman jagung dengan mengikuti barisan tanaman jagung diatas bedengan. Jarak tanam cabai 60 x 60 cm atau 70 x 60 cm. Ketika jagung manis sudah siap dipanen tanaman cabai sudah berumur 35 – 40 hari setelah tanam. Pada saat itu tanaman cabai rawit sudah mulai berbuah dan jagung sudah siap dipanen sehingga kedua tanaman tidak saling mengganggu. Jika jagung dipanen kering usia panen lebih lama, tetapi tanaman cabai tidak akan terganggu sebab daun-daun jagung sudah mulai mengering dan dipangkas untuk mempercepat pengeringan tongkol. Teknik Pemeliharaan dan Perawatan Tumpang sari Jagung dan Cabai Pemeliharaan dan perawatan meliputi: penyiangan, pemupukan, pendangiran dan penyiraman. Penyiangan dilakukan segera jika terlihat rumput liar atau gulma mulai tumbuh. Penyiangan hendaknya dilakukan secara manual dan hindari penggunaan herbisida. karena bisa mengganggu pertumbuhan tanaman dan merusak tanah jika dilakukan terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Pemupukan yang dimaksud adalah pemupukan susulan, pupuk susulan diberikan setelah penyiangan dan setelah itu segera dilakukan pendangiran. Dosis dan jenis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Jika tidak turun hujan penyiraman harus dilakukan agar tanaman jagung dan cabai rawit bisa tumbuh dengan maksimal PENUTUP Usaha tani tumpangsari jagung dan cabai rawit lebih menguntungkan dibandingkan tanam secara monokultur Usaha tani tumpangsari jagung dan cabai rawit memperkecil resiko kegagalan panen secara total, bila salah satu komoditas mengalami gagal panen, masih bisa memperoleh keuntungan dari komoditas lainnya. Bisa mendapatkan hasil panen dari 3 jenis komoditas yakni: jagung muda (putren/jagung kempit), jagung pipilan kering dan cabai rawit itu sendiri. Meningkatkan pendapatan petani Sumber : Mitalam.com, pertanian Lampung Penyusun: Nasriati