Loading...

MENINGKATKAN PRODUKSI JAGUNG, UPAYA DAN STRATEGINYA

MENINGKATKAN PRODUKSI JAGUNG, UPAYA DAN STRATEGINYA
Sebagai salah satu tanaman pangan yang telah lama dikenal masyarakat dunia termasuk di Indonesia, jagung sudah menjadi kebutuhan pokok untuk dikonsumsi sehari-hari. Terlebih lagi, tanaman ini tidak sulit untuk dibudidayakan, bahkan cukup mudah dibandingkan menanam sayuran misalnya, atau pun tanaman yang lain. Selain mudah dibudidayakan, keuntungan lain yang dapat kita peroleh jika menanam jagung antara lain adalah jumlah permintaan serta kebutuhan akan jagung cukup tinggi. Ini dikarenakan, tanaman ini memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi sebagai pengganti beras dan gandum. Oleh karena itu, petani pasti tidak akan salah jika memilih komoditi ini untuk ditanam dan dikembangkan. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mendorong petani meningkatkan produksi jagung. Sebagai upaya sistematis agar produksi jagung meningkat, pemerintah telah melaksanakan strategi umum terpadu melalui pengembangan kawasan pangan. Caranya, dengan upaya simultan antara lain peningkatan luas tanam, peningkatan produktivitas, penurunan tingkat kehilangan hasil dan peningkatan kualitas mutu hasil. Pendekatan terpadu ini dilaksanakan pada satu kawasan dengan luasan minimum tertentu yang memenuhi skala ekonomis. Langkah strategi peningkatan produksi tanaman jagung tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1) Peningkatan Produktivitas. Peningkatan produktivitas dilakukan melalui upaya penerapan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen utama meliputi pemakaian benih varietas unggul bermutu termasuk jagung hibrida dan jagung komposit, peningkatan populasi dengan pengaturan jarak tanam 75 cm x 20 cm atau 70 cm x 20 cm, satu biji per lubang atau 75 cm x 40 cm atau 70 cm x 40 cm, dua biji per lubang, pemupukan berimbang dan pemakaian pupuk organik, pupuk bio-hayati, pengapuran pada tanah masam dan pengelolaan pengairan. Selain itu, untuk memastikan PTT diterapkan maka dilakukan pengawalan, pendampingan agar jika ada masalah di lapangan dapat ditangani lebih dini. Strategi peningkatan produktivitas terutama dilaksanakan di wilayah yang sudah tidak memungkinkan dilakukan perluasan areal tanam, sehingga dengan penerapan teknologi spesifik lokasi, produktivitas tanaman diharapkan masih dapat ditingkatkan. Upaya peningkatan produktivitas ini juga dapat dilakukan dengan cara pengamanan produksi yaitu dengan mengurangi dampak perubahan iklim seperti kebanjiran dan kekeringan serta pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). 2) Perluasan Areal Tanam. Perluasan areal tanam dilakukan melalui upaya penanaman di areal tanam baru atau dengan melakukan peningkatan indeks pertanaman baik di lahan kering atau lahan sawah di musim kemarau. Perluasan areal tanam baru bisa dilakukan di lahan bukaan baru (misalnya lahan eks peremajaan perkebunan, perhutani, dan lain-lain) atau di daerah yang selama ini belum pernah menanam jagung. Sedangkan peningkatan indeks pertanaman dapat dilakukan dengan pengaturan pola tanam di lahan kering yang sebelumnya ditanami jagung satu kali menjadi dua kali atau di lahan sawah di musim kemarau (padi-padi-jagung). Perluasan areal tanam juga dapat dilakukan di daerah eks pengembangan/ perbaikan irigasi (seperti JITUT, JIDES dan Tata Air Mikro) karena dengan perbaikan irigasi akan dimungkinkan ketersediaan air di musim kemarau yang cukup untuk fase awal pertanaman jagung. Demikian pula, kawasan yang menerima program pengembangan irigasi air tanah (pompanisasi) juga sesuai untuk program peningkatan indeks pertanaman. 3) Penurunan Susut Hasil. Penurunan susut hasil khususnya akibat kehilangan pada waktu panen dilakukan dengan upaya panen yang tepat yaitu antara lain dengan menetapkan umur panen yang cukup yaitu sekitar umur panen 120 hari. Selain itu, juga diterapkan penggunaan alat panen dan alat pemipil yang baik untuk menghindari kehilangan dan kerusakan pipilan seperti patah, pecah, dan sebagainya. 4) Mempertahankan Kualitas. Peningkatan produksi jagung juga diupayakan dengan mempertahankan mutu produk sehingga memenuhi spesifikasi yang diinginkan pasar. Dalam kaitan ini budidaya jagung harus diikuti dengan pasca panen yang tepat yaitu khususnya pengeringan dan penyimpanan untuk mencegah tumbuhnya jamur yang menghasilkan aflatoxin. 5) Penguatan Manajemen Kawasan. Agar pelaksanaan program dapat berjalan sesuai rencana, diperlukan penyempurnaan manajemen yang telah ada. Penyempurnaan manajemen tersebut diperlukan karena dengan pendekatan GP-PTT ini proses budidaya dikendalikan secara terpadu dalam satu kawasan produksi. Salah satu tujuan GP-PTT antara lain adalah menumbuhkan kawasan produksi yang berkelanjutan, mencapai skala ekonomis serta mencapai produktivitas yang maksimal. Oleh sebab itu, maka kegiatan budidaya dalam kawasan GP-PTT perlu dikoordinasikan dalam satu manajemen, khususnya terkait dengan penyediaan input, penyediaan sarana alat dan mesin pertanian, pengelolaan pasca panen dan pemasaran. Diharapkan, dengan manajemen yang terpadu dan terkoordinasi ini akan diperoleh peningkatan produksi tanaman pangan sesuai dengan yang diharapkan. (Inang Sariati) Sumber:1. Pedoman Teknis GP-PTT Jagung 2015,Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian2. https://www.google.com/search?q=jagung&rlz