Kedelai (Glycine max L.) saat ini masih merupakan komoditi penting bagi masyarakat dan masalah pemenuhan kebutuhan di dalam negeri masih dipenuhi dari impor. Kenaikan impor dan penurunan penyediaan produksi kedelai di dalam negeri menyebabkan pemerintah berupaya untuk mencapai swasembada kedelai agar ketergantungan produk impor dapat di tekan atau dikurangi.Membanjirnya impor kedelai untuk konsumsi seperti kecap, tahu, tempe, tauco maupun sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak di Indonesia membuktikan bahwa komoditas ini belum bisa dipenuhi dari dalam negeri. Ini berarti peluang besar bagi pelaku agribisnis untuk memanfaatkan potensi kedelai.Bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya konsumsi kedelai menyebabkan kebutuhan kedelai selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan akan kedelai mencakup kebutuhan untuk manusia, ternak, bahan baku industri, dan benih. Jumlah kebutuhan untuk manusia tergantung dari jumlah penduduk dan konsumsi per kapita.Berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk dan rata-rata konsumsi per kapita per tahun, kebutuhan kedelai Indonesia pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 2,3 juta ton dan tahun 2020 mencapai 2,6 juta ton. Jika produktivitas kedelai masih masih di bawah 1,3 t/ha maka untuk memenuhi kebutuhan kedelai pada tahun 2020 diperlukan luas areal tanam sebanyak 2,1 juta ton. Namun, bila produktivitas dapat meningkat menjadi 1,5 t/ha dan 2,0 t/ha maka luas areal tanam yang diperlukan berturut-turut sebanyak 1,8 juta ton dan 1,3 juta ton. Apabila tren areal tanam kedelai nasional masih seperti kondisi saat ini (turun setiap tahun) maka pada tahun 2020 diperlukan tambahan areal tanam 1,6 juta ton (produktivitas Untuk mencapai swasembada kedelai, titik ungkit untuk meningkatkan produksi kedelai di Indonesia adalah : (1) Penambahan areal tanam, dan (2) Meningkatkan produktivitas kedelai. Secara teknis, perluasan areal tanam harus berorientasi resources base, disesuaikan dengan kondisi sumber daya alam yang cocok, karena ketidaksesuaian dapat menyebabkan kegagalan dan kerugian finansial yang bisa menjadikan petani jera untuk mengusahakan kedelai. Sementara itu, peningkatan produktivitas dapat di capai melalui perbaikan proses produksi dengan menerapkan inovasi teknologi kedelai, seperti Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) kedelai.Agar tujuan dan sasaran pengembangan kedelai dapat tercapai, diperlukan dukungan dan partisipasi dari seluruh stakeholder : (1) Kebijakan pemerintah, mulai dari subsistem hulu hingga ke subsistem hilir; (2) Komitmen dari stakeholder swasta/pengusaha untuk berpartisipasi dalam menekan ketergantungan pangan dari impor; (3) Partisipatif aktif pemerintah daerah dan aparat pertanian (penyuluh) serta masyarakat pertanian dalam pengembangan budidaya kedelai.Selain itu, diperlukan berbagai kebijakan yang mencakup : (1) Kemudahan prosedur untuk mengakses modal kerja (kredit usaha) bagi petani dan swasta yang berusaha dalam bidang agribisnis kedelai; (2) Percepatan alih teknologi /diseminasi hasil penelitian dan percepatan penerapan teknologi di tingkat petani melalui revitalisasi tenaga penyuluh pertanian; (3) Pembinaan/pelatihan produsen/penangkar benih dalam aspek teknis (produksi benih), manajemen usaha perbenihan serta pengembangan pemasaran benih. Penyediaan kredit usaha perbenihan bagi produsen atau calon produsen benih; (4) Mendorong/membina pengembangan usaha kecil/rumah tangga dalam subsistem hilir (pengolahan produk tahu, tempe, kecap, tauco, susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi sesuai dengan tuntutan konsumen; (5) Kebijakan makro untuk mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri dengan memberlakukan tarif impor yang cukup tinggi; (6) Pengembangan prasarana/infrastruktur pertanian secara umum (pembukaan sawah/lahan pertanian, pembuatan fasilitas irigasi, dan jalan juga akan mendorong pengembangan kedelai di dalam negeri; (7) Kebijakan alokasi sumbert daya (SDM, anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan pengembangan dalam rangka menghasilkan teknologi tepat guna.Komitmen yang tinggi dari pemerintah agar tercapai swasembada kedelai dalam hal alokasi investasi (anggaran) akan sangat menentukan keberhasilan yang hendak di capai. Gerakan peningkatan produksi pangan di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor perlu dicanangkan oleh pimpinan nasional.DitulisKembaliOleh :HarnatiRafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)AlamatEmail : harnati_r@yahoo.comSumberBacaan :1. Atman. 2014. Produksi Kedelai; Strategi Meningkatkan Produksi Kedelai Melalui PTT. Graha Ilmu. Yogyakarta. 2. Adisarwanto, T. 2014. Kedelai Tropika; Produktivitas 3 ton/ha. Penebar Swadaya. Jakarta.