Oleh: Sudirman Ramang, SP Musim tanam Asep 2016 Kelompoktani Mappisabbi 1 desa Siwolongpolong kecamatan Mattirosompe akan menggunakan pupuk kompos sebagai penyubur tanaman padi. Pupuk kompos yang akan digunakan berasal dari jerami dan limbah pertanian lainnya. Munculnya kesadaran petani untuk manfaatkan limbah pertanian jadi pupuk berawal dari kegiatan Penerepan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) skala luas yang diprakarsai oleh Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan penyuluh pertanian..Pembuatan Pupuk kompos ini dilaksanakan oleh Mursalim ketua Poktan Mappisabbi I bersama anggotanya dibimbing oleh POPT Mattiro Sompe Fadli, SP bersama Penyuluh Pertanian Desa Siwolong. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai lahan praktek penggunaan Pupuk kompos skala luas, meyakinkan petani dengan penggunaan kompos dapat memperbaiki struktur tanah yang sudah mengalami kekurangan unsur hara atau akibat penggunaan bahan kimia. Unsur hara dan bahan organik tanah semakin lama akan semakin habis. Selama ini unsur hara lebih banyak dipenuhi dengan menambahkan pupuk-pupuk kimia anorganik. Bahan-bahan organik yang ada di dalam tanah tidak mendapat perhatian dan kandungannya di dalam tanah semakin menipis. Jerami dari sisa panen padi sebaiknya jangan dibakar, tetapi diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik tanah, dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah. Selain jerami padi sebagai bahan baku pembuatan kompos juga dedak dan limbah ternak. Pada kegiatan PPHT tersebut bahan dan peralatan yang digunakan dalam membuat pupuk kompos antara lain Kotoran Sapi 25 ton, sekam padi 6 ton, dedak 500 kg, jerami padi 15 karung, trichoderma (pengurai) 30 kg, pipa paralon 3 inci 5 buah dan terpal 5 lembar.Cara pembuatan kompos jerami diawali dengan persiapan bahan dan peralatan. Kemudian menimbang bahan lalu dicampur dan ditumpuk dengan susunan paling bawah adalah sekam kemudian kotoran sapi selanjutnya jerami kemudian dedak dan dipercikkan trichoderma yang telah diencerkan pada setiap lapisannya. Kemudian diulang lagi dengan mencampur bahan tadi seperti susunan yang pertama dan di taruh pipa di tengah campuran tadi kemudian ditutup terpal. Tumpukan bahan kompos tersebut ditutup dengan plastik, ikat plastik dengan tali agar tidak mudah lepas. Kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat lain agar plastik tidak tebuka karena angin. Dilakukan pengamatan suhu, penyusutan volume, dan perubahan warna tumpukan jerami. Inkubasi/fermentasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih satu bulan. Selama proses fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna. Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 derajat celsius. Pada saat suhu meningkat, mikroba akan dengan giat melakukan penguraian/dekomposisi jbahan organik. Akibat penguraian jerami dan bahan organik lainnya, volume tumpukan akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 40-50% dari volume semula. Sejalan dengan itu wana jerami dan kotoran sapi juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya perubahan fisik bahan baku, perubahan itu antara lain: jerami berwarna coklat kehitam-hitaman, lunak dan mudah dihancurkan, kotoran sapi dan dedak juga demikian, Suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan, tidak berbau menyengat, dan volume menyusut hingga setengahnya. Kompos yang sudah memiliki ciri-ciri demikian berarti sudah cukup matang dan siap diaplikasikan ke sawah. Kompos yang jadi nanti diharapkan sebanyak 25 ton dan diaplikasikan di lokasi pertanaman padi anggota Poktan Mappisabbi I sebanyak 25 Orang dengan 1 ton kompos / ha, sehingga pemakaian pupuk kompos ini dalam 1 hamparan, pupuk kompos di aplikasikan pada saat pengolahan (setelah pembajakan) agar komposnya dapat menyebar dan menyatu dengan tanah sawah.(Editor: ASA)