Budidaya ayam kampung di Indonesia, pada umumnya masih menggunakan cara-cara tradisional. Biasanya peternak memeliharanya dengan cara diumbar, atau ayam dibiarkan berkeliaran dan mencari makan sendiri. Cara ini tentu saja kurang efektif sebab hasilnya tidak optimal. Terlebih lagi kalau tujuan pemeliharaan untuk mendapatkan keuntungan (profit oriented). Pola pemeliharaan ayam kampung secara intensif merupakan pilihan yang jitu untuk mendapatkan keuntungan sebagai sebuah bisnis. Apalagi permintaan daging ayam kampung kian hari semakin besar memberikan peluang bisnis yang menggiurkan untuk budidaya ayam kampung secara intensif. Pemeliharaan ayam kampung secara intensif ini memiliki sedikit perbedaan dengan cara tradisional. Selain memerlukan perhatian yang ekstra juga masalah pemberian pakan harus lebih diatur. Memelihara ayam kampung secara intensif memiliki keunggulan, yaitu lebih mudah melakukan kontrol terhadap penyakit. Agar usaha budidaya ayam kampung secara intensif ini bisa berhasil, diperlukan manajemen dan tata kelola yang baik dan benar. Salah satu diantaranya adalah penyusunan ransum organik secara tepat.Sebagaimana pemeliharaan ayam pada umumnya, pemberian pakan pada ayam kampung juga memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan pertumbuhannya. Meski tidaklah serumit ayam yang lain seperti broiler, ayam petelur dan sebagainya, tetap diperlukan beberapa langkah dalam penyusunan ransum organik ayam kampung. Namun, sebelum melakukan tahapan langkah menyusun ransum (formulasi ransum) tersebut terlebih dahulu harus tersedia bahan baku dalam jumlah yang cukup serta kualitas yang memadai berupa : dedak halus, menir, tepung ikan, dan bungkil inti sawit, dengan kebutuhan protein 15 %. Langkah 1. Mengidentifikasi kebutuhan zat nutrien ternakBerdasarkan hasil penelitian dan pengalaman peternak, 50% dedak padi dan 20% menir dapat digunakan dalam ransum ayam kampung. Bila kedua bahan dan perbandingan ini digunakan dalam menyusun ransum, maka jumlah protein dari kedua bahan tersebut : Dedak padi 50% = 0,50 × 12,0% = 6,0%; Menir 20% = 0,20 × 10,2% = 2,0% Jumlah 70% = 8,0%. Oleh karena kebutuhan protein ayam kampung sedang bertelur adalah 15%, maka kekurangan protein yang harus dicukupi dari tepung ikan dan bungkil inti sawit adalah = 15%-8,0% = 7.0%, dengan jumlah campuran 30%. Langkah 2. Menghitung proporsi tepung ikan dan bungkil inti sawit dengan menggunakan metode bujur sangkar Pearson.Campuran tepung ikan dan bungkil inti sawit harus mempunyai kandungan protein sebesar 7:0,3 (atau 30%) = 23.4 %. Untuk memperoleh campuran tersebut maka dengan perhitungan bujur sangkar Pearson diperoleh sebagai berikut : Tepung ikan : PK (50,0%) atau 4,7 bagian, Bungkil inti sawit PK (18,7%) atau 26,6 bagian, sehingga total keduanya (Tepung ikan dan Bungkil inti sawit) 31,3 bagian. Langkah 3. Menghitung formulasi ransumBerdasarkan hasil perhitungan bujur sangkar pearson, maka jumlah tepung ikan dalam ransum = 4,7/31,3×30% = 4,50%, jumlah bungkil inti sawit = 26,6/31,3×30% = 25,50%. Sehingga formulasi ransum disusun sebagai berikut : 1) bahan pakan terdiri dari : Dedak dengan porsi 50%, Menir 20%, Tepung Ikan 4,5% dan Bungkil Inti Sawit 25,5%; 2) Masing-masing bahan pakan ini mengandung protein secara berturut-turut : 6%,2%,2,25%, dan 4,77%; 3) Kandungan Energi (ME) masing-masing bahan pakan : 1200 Kkal/kg, 532 Kkal/kg, 134 Kkal/kg, dan 522 Kkal/kg; 4) Kandungan Kapur (Ca) masing-masing bahan pakan : 0,10%,0,02%,0,23%, dan 0,05% serta 5) Kandungan Premix vitamin dan mineral masing-masing : 0,5%, 0,02%,0,13% dan 0,14% Dari susunan ransum di atas dapat dilihat bahwa kandungan protein ransum sudah sesuai dengan yang diinginkan. Akan tetapi, kandungan energi (ME) dan kapur (Ca) untuk ayam lokal petelur masih terlalu rendah. Untuk mengatasi hal ini dapat ditambahkan bahan yang mempunyai kadar energi tinggi seperti jagung atau minyak dan bahan berkadar Ca tinggi seperti tepung kapur, tepung tulang atau tepung kulit kerang, dengan menggunakan metode di atas. Untuk memenuhi kebutuhan kalsium, maka diperlukan sedikitnya (3-0,40)/38×100% atau =6,84% tepung kapur. Sedangkan untuk memenuhi kekurangan energi diperlukan sedikitnya (2600-2388)/8600×100% atau =2.46% minyak goreng. Selain itu perlu juga ditambahkan campuran vitamin dan mineral-mineral mikro (atau yang sering disebut vitamin mineral premix). Premix vitamin dan mineral sudah banyak tersedia di toko makanan ternak. Penggunaan vitamin premix yang umum disarankan adalah 0,5%, tergantung jenis dan produsennya. Bila bahan-bahan ini ditambahkan, maka susunan ransum diatas harus banyak mengalami perubahan, karena secara otomatis akan mengurangi penggunaan bahan pakan lain dan mengurangi kandungan protein. Untuk mendapatkan susunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan, maka proses perhitungan coba-coba harus diulangi dengan mempertimbangkan penggunaan minyak,tepung kapur, pengurangan persentase dedak, menir dan bungkil inti sawit serta meningkatkan persentase tepung ikan. (Inang Sariati) Sumber:http://www.esbefarm.blogspot.co.id/http://www.organiknusantara.com/2013/09/budidaya-ternak-ayam-kampung-organik.html