Loading...

MERAIH UNTUNG DARI TANAMAN BUNGA KOL DATARAN RENDAH

MERAIH UNTUNG DARI TANAMAN BUNGA KOL DATARAN RENDAH
Kabupaten Indramayu sudah sejak lama dikenal sebagai kabupaten lumbung pangan khususnya padi di Jawa Barat bahkan nasional. Hal ini dikarenakan luas lahan ketahanan pangan mencapai 173.008 ha, lahan sawah 116.759 ha dan lahan non sawah 56.249 ha (82,40 %). Sedangkan lahan non ketahanan pangan seluas 36.934 ha (17,60 %). Pengairan lahan sawah berasal dari bendung rentang seluas 64.479 ha dan dari bendungan Jatiluhur seluas 24.000 ha sisanya lahan tadah hujan. Produksi padi Tahun 2015 sebesar 1.375 Juta ton Gabah Kering Giling (GKG) setara dengan 812,771 ton Beras. Bila asumsi tingkat konsumsi penduduk Indramayu sebanyak 197.230 ton Beras, maka Kabupaten Indramayu Surplus beras sebesar 641,449 Ton.Selain mempertahankan dan meningkatkan produksi padi, Kabupaten Indramayu juga mengembangkan sayuran dataran rendah seperti bawang merah, cabe merah, cabe rawit, kacang panjang, dan bunga kol. Bunga kol yang dahulu hanya bisa ditanam di dataran tinggi, sejalan dengan adanya teknologi dan pengembangan bibit bunga kol untuk dataran rendah, banyak petani Indramayu yang menanam tanaman bunga kol. Tanaman bunga kol di Indramayu pada Tahun 2015 seluas 13 ha dengan produksi total 80,70 ton dan tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Jatibarang, Kecamatan Balongan, Kecamatan Losarang dan Kecamatan Patrol.Bunga kol (Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cauliflora DC) adalah jenis sayuran yang masuk dalam famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga putih kecil). Masyarakat Indonesia biasa menyebutnya kubis bunga atau blum kol (berasal dari bahasa Belanda Bloemkool). Untuk membudidayakan bunga kol, awalnya hanya bisa ditanam di daerah yang memiliki temperatur minimum 15.50-180 C dan maksimum 240 C dengan kelembaban optimum antara 80-90%.. Tapi dengan diciptakannya kultivar baru yang tahan terhadap temperatur tinggi, membuat budidaya bunga kol juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-200 m dpl) serta menengah (200-700 m dpl).Salah satu petani bunga kol adalah pak Wasdi dari Desa Muntur Kecamatan Losarang. Pak Jalil ini mengelola lahan seluas 80 bata ( 1.120 M2) dengan jumlah 3.000 tanaman bunga kol. Menurutnya harga bunga kol saat ini sedang bagus Rp. 6.000,- /kg di Pasar Sayuran Patrol. Pernah pula menjual dengan harga Rp. 1.500,-/kg dan harga paling tinggi yang pernah dialaminya yaitu Rp.10.000,-/kg. Bahkan pada Bulan April 2016 harga bunga kol mencapai Rp.12.000,-/kg nya. Berdasarkan perhitungannya usahatani bunga kol ini baru impas atau kembali modal pada kisaran harga Rp.3.500,-/kg. Dalam satu tanaman pak Wasdi mampu menghasilkan bunga kol antara 0,5 – 0,8 kg / tanaman. Apabila berat bunga kol per tanaman mencapai 1.0 kg, konsumen berpikiran bunga kol tersebut sudah tua dan kurang diminati. Selera konsumen banyak yang memilih bunga kol ini dengan berat antara 0, 5 kg sampai 0,8 kg.Teknik BudidayaUntuk menghasilkan bunga kol sebesar itu pak Wasdi menerapkan cara berbudidaya sebagai berikut : Dalam mempersiapkan bibit bunga kol ini ada 2 cara, yaitu dengan melakukan pembibitan sendiri dan membeli bibit yang sudah jadi. Persiapkan bibit tanaman dengan baik dengan memilih benih yang baik, karena benih sangat berpengaruh terhadap produksi. Benih bunga kol sebaiknya beli di toko yang sudah langganan. Untuk pembenihan bunga kol, lakukan dengan cara membuat perbenihan di tempat plastik yang telah diberikan pupuk organik. Pak wasdi sendiri lebih memilih membeli bibit yang sudah jadi di pembibitan dengan harga Rp. 250,- per batang (Umur 20 hari). Hal ini dilakukan karena setiap pembibitan bunga kol banyak yang tidak optimal. Sambil mempersiapkan bibit bunga kol, lalukan pengolahan tanah dengan membuat bedengan dengan lebar 100 cm dan panjang sesuai dengan panjang petakan. Jarak antar bedengan sekitar 40 cm. Pengolahan tanah ini sampai rata dan gulma-gulma yang ada harus dicabuti sampai akarnya. Antar bedengan digali dengan kedalaman 35cm.Bila pengolahan tanah sudah siap dan bibit pun sudah siap dicirikan dengan helai daun antara 3-4 buah, maka, lakukan penanam bunga kol dengan cara memindahkan dari tempat persemaian ke lahan dan harus diperhatikan jangan sampai merusak akar dan daun bibit bunga kol. Bila bibit tersebut hasil pembelian langsung tanam. Jarak tanam nya 30 cm x 40 xm. Apabila setelah tanam terdapat tanaman yang kurang baik tumbuhnya atau mati, maka dapat disulam sampai 10 hari setelah tanam (HST). Bila lebih dari waktu tersebut , maka penyulaman kurang optimal hasilnya. Untuk menghindari tumbuhnya gulma rumput yang tidak diharapkan, maka dilakukan penyiangan sampai masa vegetatif. Untuk menjaga kualitas bunga tetap baik, maka tunas yang keluar dari batang tanaman dipangkas/dipotong dan dibiarkan tumbuh satu batang. Disamping itu untuk mempertahankan warna bunga kol tetap putih, bila telah keluar bunga daun-daun tua diikat menaungi bunga kol tadi.Menurut Pak Wasdi pemupukan dilakukan selama 3 kali dengan cara pupuk dicampur dengan air kemdian disiramkan per dapur tanaman. Kebutuhan pupuk untuk 80 bata sebanyak urea 45 kg, SP 15 kg dan pupuk mtiara 15 kg. Pemupukan pertama pada saat 7-10 HST yang terdiri dari SP-36 sebanyak 5 kg/ha, Urea sebanyak 15 kg/ha,dan mutiara sebanyak 5 kg, Pemupukan kedua pada saat 20 HST dengan dosisi SP-36 sebanyak 4 kg/ha, Urea sebanyak 10 kg/ha,dan mutiara sebanyak 4 kg. Pemupukan terakhir diberikan 30-35 HST yang terdiri dari SP-36 sebanyak 6 kg/ha, Urea sebanyak 20 kg/ha,dan mutiara sebanyak 6 kg Urea Untuk mejaga kelembaban tanah dan tanah dilakukan penyiraman pada sore hari, penyiraman dilakukan setiap 2 hari sekali tergantung kondisi tanaman dan tanah. Bila cuaca hujan maka penyiraman tidak diperlukan. Penyiraman lebih difokuskan pada saat pertumbuhan awal dan pembentukan bunga. Lebih jauh dijelaskan bahwa hama yang biasa menyerang tanaman bunga kol antara lain kresek dan ulat. Pencegahan kresek dilakukan dengan penyemprotan delsene dengan dosis 1,5 ml/liter air. Sedangkan hama ulat dikendalikan dengan pestisida Amacel dan Rampag dengan dosis 1,5 ml/liter air.Panen bunga kol mulai dari umur 74 hari sampai 100 hari, hal ini tergantung pemeliharaannya. Apabila tanaman bunga kol relatif sama, maka panen akan serempak. Panenan dilakukan setiap 2 atau 3 hari sekali dan jumlah panen bunga kol antara 8 sampai 10 kali panenan. Menurutpak Wasdi analisa usahatani bunga kol secara sederhana tanpa memperhitungkan tenaga dan tenaga istrinya (karena tenaga kerja tidak menggunakan tenaga kerja dari luar), untuk tanamanan bunga kol sebanyak 2.000 batang membutuhkan biaya (bibit dan sarana produksi) Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Sedangkan produksi yang dihasilkannya dari 2.000 tanaman sebanyak 1.000 kg (rata-rata 0,5 kg per tanaman). Jika harga bunga kol saat ini mencapai Rp. 6.000,-/ kg, maka pendapatannya mencapai Rp. 6.000.000,- dengan biaya usahatani sebesar Rp. 1.000.000,-, maka Pak Wasdi memperoleh keuntungan Rp. 5.000.000,- (belum termasuk biaya tenaga dan tenaga istrinya).Melihat prospek usahatani bunga kol ini sangat menjanjikan, maka tidak heran banyak petani Indramayu yang terjun mengelola usahatani ini. Semoga dengan meluasnya tanaman ini tidak lantas menurunkan harga jualnya. Kepada para petani agar bisa lebih cerdik lagi kapan harus menanam dan kapan harus istirahat, karena kalau pasar. banjir dengan bunga kol teori ekonomi akan berlaku. Harga akan jatuh dan merugilah para petani. Semoga para petani di masa depan dapat melihat-lihat dulu tanaman yang ada di sekitar kita baru memutuskan tanaman apa yang harus diusahakan. Jayalah para petani kita karena hasil pertanian satu-satunya penopang kehidupan keluarganya. (Edi Harnadi)