Loading...

Meraup Jutaan Dari Si Ramping Kucai

Meraup Jutaan Dari Si Ramping Kucai
Nama sayuran Kucai masih terdengar asing bagi sebagian orang karena karakteristiknya yang terlihat tidak dapat dijadikan bahan utama dalam membuat hidangan sehari hari. Di desa Pangadegan Kecamatan Pasar Kemis Kabupaten Tangerang provinsi Banten, kucai kerap dijadikan bahan tambahan untuk beberapa hidangan seperti oseng oncom, tumis toge, Lumpia hingga lalapan. Sayuran yang memiliki nama latin Allium tuberosum ini memiliki bentuk yang mirip dengan daun bawang dan lokio, namun kucai memiliki pangkal dan daun yang lebih pipih memanjang. Dalam bahasa Inggris, kucai sering disebut dengan garlic-chives karena kemiripan aromanya dengan bawang putih yang kuat. Tanaman kucai seluas 8.000 m2 di lahan garapan Haerudin tumbuh dengan subur. Petani muda kelahiran tahun 1986 ini, sudah fokus membudidayakan kucai lebih dari 4 tahun. Menurutnya pasar kucai sangat menjanjikan saat ini. Dalam sekali panen Haerudin mampu meraup keuntungan kotor 24 juta rupiah, dengan modal usahatani yang terbilang cukup kecil. Harga jual kucai dipasaran cukup stabil yaitu Rp12.000/kg untuk harga jual tertinggi saat kondisi pasar yang sedikit stok kucai dan Rp 9.000/kg saat harga kucai berada di level terendah karena banyaknya kucai dipasaran. Dalam satu kali panen kebunnya dapat menghasilkan 2 ton kucai Budidaya kucai tergolong mudah, karena tidak memerlukan perlakuan khusus dan minim penggunaan pupuk. Penggunaan pupuk organic menjadi penting dalam budidaya kucai karena pupuk organic mampu mengembalikan kesuburan tanah. Selain pupuk organic, NPK juga dapat ditambahkan pada lahan dengan dosis 100Kg/ha. Memulai tanam kucai dari umbi lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan dari biji. Lama budidaya kucai dari pengolahan tanah hingga panen adalah 2 bulan. Dalam setahun kucai dapat dipanen sebanyak 3 hingga 4 kali. Permintaan kucai produksi Haerudin terus meningkat setiap bulannya, menurutnya, rasa kucai yang berasal dari kebunnya itu berbeda dengan yang lain, selain itu aroma yang khas dari kucai miliknya lebih kuat dibanding kucai yang berasal dari daerah lain. Haerudin mengatakan penggunaan pupuk dan pengolahan tanah yang tepat adalah kunci dari keberhasilan menanam kucai. Kini setengah dari keuntungan yang didapatnya setiap bulan digunakan untuk memperluas lahan garapannya. Kendala utama yang dihadapi oleh Haerudin adalah tenaga kerja dalam pengepakan. Karena kucai dipanen setiap hari maka pengepakan memerlukan tambahan tenaga kerja. Saat ini tenaga kerja yang dimiliki oleh Haerudin hanya 4 orang yang mayoritasnya adalah ibu-ibu rumah tangga dengan usia yang tidak muda, maka dari itu kini Haer (panggilan sapaannya) mulai merekrut remaja yang putus sekolah maupun yang belum mendapat pekerjaan setelah lulus sekolah untuk membantu di kebunnya, disamping itu Ia juga sambil mengenalkan kepada mereka dunia pertanian agar dapat meneruskan generasi petani selanjutnya. Estetika Ratna Ayuningtyas,A.Md Penyuluh Pertanian Kec. Pasar Kemis