Tanpa Olah Tanah ( TOT ) cara mempersiapkan lahan tanpa adanya proses pembalikan dan penggemburan tanah terlebih dahulu, sehingga untuk menanam jagung hanya di perlukan lubang untuk membenamkan benih kedalam tanah. Pada metoda tanpa olah tanah biasanya penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal untuk mebuat lubang tempat benih di tanam. Biasanya metoda ini di laksanakan pada tanah sawah bekas tanaman padi dan dilakukan pada musim gadu pertama menjelang musim kemarau. Disamping itu dilakukan baik itu di sawah tadah hujan atau sawah irigasi teknis yang menerapkan rotasi tanaman dan jerami bekas tanaman padi yang digunakan sebagai mulsa untuk tanaman jagungMetoda Tanpa Olah Tanah (TOT) mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari TOT adalah : Waktu budidaya akan lebih cepat karena tidak melakukan olah tanah, Ongkos tenaga kerja lebih hemat, Kerusakan tanah bisa di minimalisir karena tanah tidak banyak di bolak, Balik, mineral tanah tidak banyak yang hilang, Mengurangi erosi tanah lapisan atas. Sedangkan kekurangannya adalah : Pertumbuhan gulma yang dapat mengganggu tanaman pokok, Kemungkinan sisa sisa hama masih ada, karena tanah tidak di olah.Metoda ini selain ada kekurangan dan kelebihanya , yang terpenting adalah untuk lebih memotivasi petani untuk bisa memanfaatkan lahanya supaya lebih produktif dan mau mencoba berbagai macam metoda dalam berusaha taninya, salah satunya metoda TOT ( Tanpa Olah Tanah ).Di WKPP Desa Wanakaya penanaman dengan metoda ini sebenarnya sudah banyak yang melakukanya terutama pada budidaya tanaman sayur sayuran yang merupakan tanaman sela. Sehingga adanya program Sekolah Lapang (SL) jagung ini, penerapan metoda Tanpa Olah Tanah (TOT) tidak terlalu banyak kendala, yang menjadi kendala bukan dari penerapan metoda nya, akan tetapi dari keberadaan sumber airKendala pelaksanaan SL jagung di WKPP Desa Wanakaya khususnya dan umumnya di Haurgeulis adalah pengairanya, dimana lahan sawahnya termasuk tadah hujan, belum pengairan teknis.Jagung pada umumnya dapat di budidayakan pada lahan kering juga lahan sawah ( tadah hujan atau irigasi), dengan demikian alternatif komponen teknologi produksi jagung yang dapat diterapkan dengan pendekatan PTT adalah :1. Varietas unggul baru2. Benih bermutu3. Penyiapan lahan , dilakukan pengolahan bila tanah bertekstur berat dan tanpa olah tanah (TOT) jika tekstur tanah ringan4. Populasi tanaman sekitar 66.600 tanaman per hektar5. Pemupukan N berdasarkan hasil pengamatan dengan BWD dan sesuai stadia pertumbuhan6. Pemupukan P dan K sesuai dengan kebutuhan7. Bahan Organik (pupuk kandang 1,5-2,0 ton/ha)8. Pembuatan saluran drainase9. Pemberian air melalu saluran irigasi di sesuaikan kebutuhan10. Pengendalian gulma secara terpadu11. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu12. Panen tepat waktu dan prosesing dengan alat dan mesin.Dengan pelaksanaan Sekolah Lapang (SL) budidaya jagung tahun 2017 ini diharapkan diperoleh hasil yang maksimal baik itu hasil produksinya maupun keilmuanya bagi para petani, supaya di tahun berikutnya para petani mau melakukan rotasi tanaman dengan menerapkan teknologi pertanianya.Demikian semoga bermanfaat. Penyusun : Endang Kirno K. / PP Madya Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu