Penyakit bulai (downy mildew) pada tanaman jagung merupakan penyakit yang paling merusak karena tingkat infeksinya yang tinggi dan penyebarannya luas sehingga dapat menyebabkan puso. Penularan penyakit bulai pada varietas yang rentan dapat menyebabkan kehilangan hasil 100%. Masa riskan pada tanaman jagung yang terserang bulai adalah pada fase vegetatif umur tanaman 0-21 hari setelah tanam (HST). Bila infeksi terjadi pada tanaman sangat muda, biasanya tanaman tidak membentuk buah, namun bila serangan terjadi pada tanaman yang lebih tua, tanaman masih dapat tumbuh dan berbuah, namun buah yang terbentuk sering mempunyai tangkal yang panjang dengan klobot yang tidakmenutup pada ujungnya dan hanya membentuk sedikit biji. Penyakit bulai dapat dikendalikan dengan beberapa cara diantaranya menanam varietas yang tahan terhadap penyakit bulai, tanam tanaman pada areal yang luas, pergiliran tanaman berbeda famili, eradit tanaman yang terserang penyakit bulai, perlakuan benih dengan fungisida, dan melakukan proteksi tanaman jagung di daerah endemik bulai dengan penyemprotan fungisida yang mengandung zat pengatur tumbuh (ZPT). Serangan penyakit bulai pada tanaman jagung hampir selalu terjadi di setiap musim tanam. Pengendalian serangan secara terpadu juga belum memberikan dampak yang maksimal bagi produksi jagung. Guna mendukung pertumbuhan tanaman jagung yang baik,tahan penyakit dan dapat menghasilkan produksi yang maksimal, petani perlu melakukan pengendalian dalam menghambat perkembangan penyakit bulai pada tanaman jagung dengan pengaplikasian bakteri Pseudomonas flourescens (PF). Bakteri Pseudomonas flourescens (PF) merupakan bakteri yang digunakan sebagai agen antagonis yang menghambat perkembangan penyakit bulai jagung, meningkatkan daya tahan/antibodu tanaman itu sendiri serta meningkatkan populasi mikroba baik bagi tanaman dalam tanah. Dalam pengaplikasiannya bakteri Pseudomonas flourescens (PF) dengan takaran 10 ml/liter air/aplikasi, dengan volume semprot 500 liter/ha. Kelebihan penggunaan Agensia hayati yaitu elektifitas tinggi dan tidak dapat menimbulkan ledakan hama baru dan resurgensi hama, sudah tersedia dilapangan, dapat berkembang biak, menyebar dan mencari inangnya sendiri,Pengendalian dapat berjalan sendiri,dan tidak menimbulkan resistensi pada tanaman inang. Penulis : SULASTRI, PPL MARON