Pemanfaatan lahan gambut sebagai tempat kegiatan budidaya tanaman, khusus komoditas sayuran dan buah-buahan telah dilakukan oleh petani di Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk mengolah tanah gambut agar menjadi lahan yang produktif untuk menanam tanaman diperlukan sentuhan teknologi. Pada lahan gambut dangkal tersebut para petani khususnya orang Dayak dengan mudah kita temukan berbagai jenis tanaman bambu tumbuh subur, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair. Pada lahan petani ditemukan kondisi tingkat pelapukan tanah gambut yang berbeda-beda dari yang sudah melapuk sempurna sampai berupa serasah dedaunan, ranting kasar (fibrik, hemik, saprik) sehingga menjadi salah satu factor pembatas bagi petani dalam mengelola usaha taninya. Sehingga diperlukan upaya adaptasi teknologi spesifik lokalita untuk mempercepat pelapukan tanah gambut sehingga menjadi bahan organic yang tersedia sangat diperlukan oleh tanaman, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar lahan petani dangan biaya terjangkau serta ramah lingkungan tanpa melakukan pembakaran lahan. Bahan organik tanah merupakan bahan esensial yang tidak dapat digantikan dengan bahan lain didalam tanah, selain peranannya dapat mempertahankan atau memperbaiki sifat fisik tanah baik tekstur maupun struktur tanah juga peranan bahan organik dapat mendukung kehidupan mikro organisme/makro organisme tanah dan sebagai sumber nutrisi bagi beberapa mahluk hidup di dalam tanah termasuk tumbuhan. Pada tanah gambut kandungan bahan organik yang tersedia bagi tanaman masih rendah maka tanah itu diolah agar produktivitas tanah tersebut meningkat, dengan perlakuan-perlakuan khusus, seperti pemakaian pupuk cair organic dan pembuatan kompos Pemakaian pupuk cair organic dan kompos akan mempercepat perombakan bahan organik oleh biota perombak (makro maupun mikro organisme) akan menghasilkan humus yang kaya akan bahan makanan bagi tanaman. Fungsi bahan organik sebenarnya tidak hanya sebagai sumber bahan makanan, tetapi lebih dari itu bahan organik mempunyai fungsi sangat banyak. Fungsi bahan organik antara lain : (a) Sebagai sumber bahan makanan (nutrisi) untuk tanaman secara langsung; (b) Sebagai sumber nutrisi dan energi serangga perombak dan mikro-organisme pengurai; (c) Pada tahap selanjutnya, biota mengurai tersebut akan menjadi sumber bahan makanan organisme lain termasuk tanaman; (d) Memperbaiki aerasi tanah; (e) Meningkatkan kapasitas menahan air dan kapasitas menahan nutrisi; (f) Membantu proses nutrisi yang tidak tersedia menjadi tersedia melalui proses fiksasi dan; (g) Mengurangi keasaman tanah. PUPUK CAIR ORGANIK Mikro Organisme Lokal (MOL) yang artinya cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau dekomposer dan sebagai aktivator atau tambahan nutrisi bagi tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikro organisme yang tersedia sekitar kita. MOL berbentu cairan zat yang dapat merangsang pertumbuhan dan zat yang mampu mendorong perkembangan tanaman seperti: Zyberlin, Sitoxinin, Auxin dan inhibitor. Adapun bahan yang digunakan untuk mengembangkan (MOL) mikro organisme lokal tersebut yang mudah didapatkan diareal kebun petani di desa-desa Kecamatan Jabiren Raya berupa Rebung Bambu: MOL REBUNG BAMBU Bahan : (a) 2 buah rebung bambu kurang lebih 3 kg; (b) Air beras/leri 5 liter; (c) Gula merah 1,5 ons. Cara Pembuatan : (a) Rebung bambu di tumbuk halus atau diiris-iris masukan pada ember/tong plastic; (b) Campurkan dengan gula merah yang telah dihaluskan dan aduk sampai rata; (c) Rendam dengan air cucian beras sebanyak 5 liter; (d) Tutup rapat ember/tong dengan plastik, dan berikan slang plastik yang disambungkan dengan air yang berada pada botol. Biarkan selama 15 hari. Cara Penggunaan : Penggunaan pada Pengomposan: dapat digunakan sebagai dekomposer dengan konsentrasi: 1 : 5 (1 liter cairan MOL ditambah dengan 5 liter air), tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, disiramkan pada saat proses pembuatan kompos. Penggunaan pada Tanaman: penyemprotan dilakukan pada pagi/sore hari dengan konsentrasi 400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar pada umur 10 hari, 20 hari 30 dan 40 hari setelah tanam. Ditulis oleh: Mambang, SP Penyuluh Pertanian Muda, Kabupaten Pulang Pisau SUMBER: Cara Aplikasi Mol Dan RPTT, Jumarno, S.PKP,. Kumai, 2015 Manual Kompos dan MOL, Nusantara Organic SRI Center (NOSC), Nagrak-Sukabumi, 2010