Loading...

Monitoring kegiatan UPSUS padi kabupaten Pasaman Barat

Monitoring kegiatan UPSUS padi kabupaten Pasaman Barat
Pada Kamis, 4 Agustus 2016 tim UPSUS pusat Kementerian Pertanian melakukan koordinasi dan monitoring kegiatan seputar UPSUS (padi dan jagung) khususnya tentang laporan luas tambah tanam padi di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Pasaman Barat. Diskusi di ruang kantor DPTPHP bersama beberapa staf yang menangani kegiatan UPSUS ini disaat bersamaan juga dihadiri oleh tim UPSUS dari propinsi (BPTP). Pada pertemuan tersebut mendiskusikan perkembangan laporan tambah tanam periode Januari sampai Juli 2016, dimana secara keseluruhan realisasi luas tanam Januari- Juli mencapai 86,95% yaitu seluas 15.540 Ha dari target 17.872 Ha. Akan tetapi pada musim tanam periode ASep (April September 2016) realisasi luas tambah tanam baru mencapai 31, 56% (April- Juli) yakni seluas 4.736 Ha dari target tanam 15.005 Ha. Pada triwulan I (Januari- Maret) pencapaian luas tanam cukup tinggi 10.805 Ha, memasuki triwulan II (April- Juli) ini, rata- rata luas tambah tanam sekitar 1.180 Ha ini merupakan angka rata- rata per bulan untuk semua kecamatan yang ada di Pasaman Barat terjadi penurunan dari triwulan I Ada banyak faktor mengapa pada periode tanam ASep ini luas tambah tanam masih rendah (31, 56%). Di beberapa kecamatan ada yang sedang melakukan kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi, sehingga terjadi pengeringan air irigasi untuk persawahan dengan demikian mengakibatkan jadwal tanam petani mundur. Selain itu, dampak konversi lahan tidak bisa dipungkiri turut mengurangi luas tambah tanam padi. Faktor lain yang membuat pencapaian luas tanam (ASep) ini rendah adalah faktor alam dan sosial masyarakat. Faktor alam seperti banjir jelas berdampak pada jadwal tanam padi petani, masalah banjir ini sering melanda daerah lahan tadah hujan pada wilayah pesisir seperti kecamatan Sasak Ranah Pasisia dan Sungai Beremas. Adapun faktor manusia (sosial masyarakat) sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku manusia tersebutContoh kasus hasil investigasi kami ke lapangan nagari Sinuruik; kecamatan Talamau merupakan sentra padi di kabupaten Pasaman Barat, selama ini masyarakat di kecamatan Talamau ini menanam padi hanya 1 kali dalam setahun, betapa ruginya tidak memanfaatkan potensi produksi padi jika petani mau merubah perilakunya dengan meningkatkan IP menjadi 200%. Akan tetapi, seiring perkembangan jaman dan intensifnya kegiatan penyuluhan pertanian, kebiasaan tersebut perlahan sudah mulai berubah sebagian petani sudah melakukan tanam padi 2 kali setahun, sudah mau menerapkan sistem tanam jarwo, teknik salibu, mina padi dll yang semuanya bermuara kedalam upaya peningkatan produksi untuk mensukseskan program pemerintah swasembada pangan. Namun hal ini bukan bearti langsung meningkatkan luas tanam apalagi peningkatan produksi, mengapa? Karena hal ini belum dipahami dan dilaksanakan secara bersama- sama oleh masyarakat, akibat yang ditimbulkan salah satunya adalah terjadi serangan hama tikus karena pertanaman yang tidak serentak. Mengapa tidak serentak? Karena tidak semua petani atau belum semua mau meningkatkan IP tanamannya menjadi 200% atau 2 kali, sehingga hamparan sawah yang sangat luas tapi sebagian ditanam sebagian tidak maka sebagian yang tidak akan menjadi sarang empuk sang pengerat tersebut. Dalam hal ini, penyuluhan pertanian yang intensif sangat berperan dalam merubah pola pikir dan perilaku petani. Faktor sosial budaya lainnya adalah kebiasaan masyarakat untuk tidak turun kesawah pada musim puasa dan lebaran (Juni- Juli), hal tersebut berpengaruh terhadap perubahan jadwal tanam mundur. Dari beberapa faktor itulah yang menyebabkan target luas tambah tanam periode ASep masih rendah, diharapkan akhir bulan ini dan awal September target pencapaian bisa terlaksana sesuai yang direncanakan (Zuhelmi, penyuluh SRP)