Loading...

MONITORING PADI SAWAH SIAP PANEN DI WKPP DESA SUKAWANGI KECAMATAN SINGAJAYA KABUPATEN GARUT

MONITORING PADI SAWAH SIAP PANEN DI WKPP DESA SUKAWANGI KECAMATAN SINGAJAYA KABUPATEN GARUT
Jelang panen bulan April nanti, PPL WKPP Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kab. Garut Agus Taufik, SST, ada sekitar 12 hektar lahan padi warga yang akan dipanen pada april nanti. Untuk itu, bersama ketua kelompok tani turun ke sawah mengecek kondisi padi. Tak hanya itu, air juga diperhatikan. Sawah yang akan dipanen ini merupakan sawah yang berada di Kelompok Tani Bongas Jaya Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut, melakukan pendampingan untuk membantu petani. Pendampingan yang dilakukan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi padi dan mensukseskan program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Kegiatan pendampingan yang dilakukan PPL ini merupakan tugas pokok dan UPSUS pertanian dan peran PPL sebagai motivator agar para petani tetap bersemangat dalam merawat tanamannya, sehingga program pemerintah terkait swasembada pangan akan tercapai sesuai target. Untuk melindungi hasil panen dari cepatnya kerusakan diperlukan penanganan yang disebut penanganan pascapanen. Penanganan pascapanen sebenarnya dimulai sejak produk itu telah dipanen hingga prosesing (pengolahan). Namun umumnya pembahasannya telah dimulai sejak poduk itu dipanen, karena perlakuan panen mempengaruhi hasil dan penanganan selanjutnya. Tujuan utama penanganan pascapanen adalah memperkecil kehilangan dan kerusakan produk panen. Secara sederhana, kita dapat merumuskan bahwa kehilangan pascapanen ialah jumlah panenan dikurangi dengan jumlah yang dikomsumsi. Besarnya kehilangan pascapanen sangat bervariasi menurut komoditi dan tempat penghasil. Dinegara berkembang diperkirakan sekitar 20% sampai 50% terjadi kehilangan pascapanen. Sedangkan dinegara maju hanya sekitar 5 % hingga 7 %. Perbedaan jumlah kehilangan ini disebabkan karena Negara maju telah menggunakan teknologi pascapanen yang memadai. Sebaliknya dinegara berkembang, Indonesia misalnya, penelitian terhadap kehilangan pasca panen belum banyak diperhatikan. Jika diamati penanganan pasca panen dari sentra produksi hingga tiba dikonsumen, tidak mustahil nilai jumlah kehilangan hasil akan lebih mengagetkan. Usaha untuk memperkecil kehilangan pascapanen adalah dengan menentukan perbaikan tindak penanganan. Sebelumnya, tentu saja harus diketahui resiko setiap tahap penanganan yang kini dilakukan. Teknologi yang digunakan juga harus sesuai dengan waktu, biaya serta tingkat keberhasilannya.