Loading...

Motivasi dari Perayaan HPS ke-39 Uji coba Budidaya Bawang merah di lahan BPP Landono

Motivasi dari Perayaan HPS ke-39 Uji coba Budidaya Bawang merah di lahan BPP Landono
Cerita berawal dari kunjungan kami membantu persiapan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 di desa Puudambu kec.Angata Kabupaten Konawe selatan propinsi Sulawesi Tenggara. Saat membantu pak Yosef, pendamping HPS dari Balai Penelitian tanaman Sayuran (BALITSA) Kementerian Pertanian RI, beliau sedang melakukan penanaman Bawang merah, seraya menjelaskan kepada kami, bahwa saat ini beragam varietas telah dikembangkan mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi, sehingga seharusnya dapat ditanam diseluruh wilayah Indonesia. Jika dapat dikembangkan dilebih banyak wiilayah, maka kekurangan Bawang merah dan lonjakan harga menjelang Lebaran, Natal atau perayaan hari besar Nasional dan keagamaan dalat di tekan. Setelah mendengar penjelasan pak Yosef, kami semua tertegun, perasaan ragu semakin menguasai kami, bukan tanpa sebab, karena tanah ditempat kami bertugas bukan termasuk tanah subur, sebagian besar adalah tanah Podz[lik Merah Kuning (PMK) apakah mungkin mengembangkan tanaman Bawang merH? "Apakah Bawang merah dapat tuambuh ditempat kami? Mungkin ini kalimat yang lebih tepat mewakili keraguan kami dibanding kata ." Mengembangkan" yang terasa mustahil untuk terwujud. Bayangan kegagalan senantiasa menghantui, apalagi jika.membaca buku panduan budidaya dan cerita beberapa rekan PPL yang pernah berkunjung ke sentra bawang merah dataran tinggi, tanah subur dan gembur, serta metode intensifikai yang modern menjadi bagiaan yang tak terpisahkan dari budidaya bawang. Fakta ini semakin membuat budidaya tanaman ini begitu asing dan jauh dari angan angan kami, apalagi mau menganjurkan petani mengembangkannya. Ide uji coba di lahan BPP tiba tiba muncul, dengan sedikit memaksa dan merayu kawan kawan Balitsa, akhirnya stok bibit bawang. Yang sangat terbatas itu berhasil kami bawa pulang dengan syarat untuk dikembangkan di BPP. Tanpa menunggu lama halaman BPP langsung diolah hingga tuntas termasuk pembuatan bedengan mengikuti tekhnik budidaya yang diajarkan pak Yosef. Bedengan dibuat lebar 80 cm dan panjangnya bebas mengikuti panjang halaman. Sebelumnya pada saat pengolahan terakhir beri pupuk kandang yang telah matang sempurna dengan dosis 2 ton/ha. Bedengan yang telah terbentuk disiram dengan air hingga cukup basah, setelah itu langsung dubuat lubang tanam dengan tugal kecil ukuran 20 cm x 20 cm dalam 3 baris. Bibit Bawang disiapkan dengan cara memotong 1/4 ujung umbi, kemudian dimasukkan dalam lubang serata dengan permukaan bedengan. Selanjutnya jika bibit sudah selesai ditanam tutup dengan terpal plastik selama lebih kurang 7 hari atau diperkirakan akar tanaman telah terbentuk. Tidak ada lagi penyiraman setelah terpal plastik terpasang, ini dilakukan untuk mencegah pembusukan umbi karena masuknya air kedalam potongan umbi Bawang. Pemeliharaan mulai dilakukan setelah 7 hari kemudian saat terpal plastik dibuka, kalau kondisinya masih lembab, penyiraman tidak diperlukan, tetapi jika tanahnya mulai mengering, penyiraman sudah dapat dilakukan. Setelah 68 hari Bawang sudah dapat dipanen, ditandai dengan daun yang sudah mengering. Panen dilakukan dengan mencungkil umbi menggunakan alat sederhana seperti pisau atau parang kecil. Tiap umbi menghasilkan 5 umbi dengan rata rata diameter 2 - 2,.5 cm Tekhnik Budidaya yang diberikan Balitsa sangat berbeda dari yang pernah kami pelajari dari buku budidaya Bawang dan ternyata pertumbuhan Bawang tersebut sangat bagus. Kami belum sampai tahap menghitung usaha taninya, baru sampai tahap pembuktian, apakah tanaman Bawang merah ini berhasil tumbuh dan menghasilkan umbi yang besar di lahan BPP? Jawabannya: Yah dapat tumbuh dan menghasilkan umbi yang bernas tanpa aplikasi pupuk kimia. Belajar bisa dimana saja, apa yang kami lihat di lokasi HPS benar benar memotivasi kami untuk tidak sabar memoraktekkannya. Setelah panen Bawang di lahan BPP, tantangan selanjutnya, kami akan melakukan penanaman kembali dengan tekhnik Plot Uji coba untuk beberapa hipotesa kombinasi dosis pupuk NPK, dan Kapur dalam berbagai dosis yang dilanjutjan dengan ubinan dan analisa usaha tani dalam hamparan yang lebih luas. Diakhir tulisan kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih Bapak dan ibu Balitsa, Balitro,Balitbu dan BPTP Sulawesi Tenggara, teruslah berkarya untuk ketahanan Pangan Indinesia.