Pada tahun-tahun terakhir Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi guna mewujudkan swa sembada pangan. Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan berbagai stimulan seperti perbaikan jaringan irigasi, jalan usahatani, pemberian sarana produksi, bantuan hand traktor, mesin panen (combine harverter) dan alat tanam (transplanter). Semua stimulan tersebut secara simultan diharapkan mampu mendongkrak produksi pangan khususnya padi. Alhamdulillah pada Tahun 2016 Indonesia telah mampu swasembada beras. Kabupaten Indramayu dengan luas areal sawah 110.000 hektar merupakan salah satu kabupaten penghasil padi/beras di Jawa Barat. Rata-rata pertahun produksi padi yang dihasilkan Indramayu sebesar 1.7 juta ton GKP. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu surplus beras setiap tahun tidak kurang dari 750 ribu ton. Desa Tanjunpura Kecamatan Karangampel dengan luas pertaniaan 158 ha merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Indramayu. ini terbagi menjadi empat kelompoktani yaitu Bala Dewa, Dewa Sri, Sri Jemblong dan Sri Sender. Petani di dessa ini selain berbudidaya padi juga berbudidaya palawija seperti kacang hijau dan sayuran lainnya. Permasalahan dalam mengelola usahatani padi antara lain adalah kekurangan buruh tanam pada saat dibutuhkan. Seringkali petani terlambat tanam gara-gara tidak mendapatkan buruh tanam dan berebut mencari tenaga tanam. Menurut Koordinator Penyuluh Pertanian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Karangampel, Hj. Siti Maemunah di BPP Karangampel sudah ada 4 alat transplanter. Keempat alat tersebut berada di Desa Pribnggacala, Desa Dukuh Tengah, Desa Karangampel dan Desa Karangampel Kidul. Melihat permasalahan tersebut Kelompok tani Sri Sender yang diketuai oleh Bapak Wastim dengan Bendahara Bapak Zaenal Muhtarom serta sekretaris Bapak Kasta berupaya untuk mencari pinjaman alat transplanter kepada kelompok tani di tetangga desa nya. Ketertarikan Ketua Kelompoktani Sri Sender ini dalam penggunan transpalnter, karena pernah mengikuti pelatihan penggunaan alat tanam transplanter pada Bulan Oktober 2017. Sepulangnya dari latihan, Pak Wastim sudah berniat untuk menerapkan tanam menggunakan transplanter. Pada musim tanam ini Pak Wastim menerapkan tanam legowo 4, walaupun alat transplanternya hasil meminjam dari Koramil. Berdasarkan perhitungan ekonomi sederhana, menurut ketua kelompoktani Bapak Wastim pada saat tanam padi dilahannya seluas 125 bata (1 bata =14 m2) hanya menghabiskan 1,5 liter bensin dengan waktu 1,5 jam. Itupun dengan banyak ngobrol karena banyak juga petani yang bertanya. Seandainya konsentrasi khusus menanam waktu yang dibutuhkan lebih hemat lagi. Apalagi biaya borongan jasa tanam saat ini dalam 1 bau mencapai Rp. 900 ribu bahkan sampai Rp. 1,2 juta. Hal ini sangat memberatkan petani. Ditambahkan pula kondisi tanah yang dapat ditanam dengan transplanter harus macak-macak, jangan sampai berlumpur apalagi tergenang. Kalau berlumpur roda sering terangkut tanah lumpur yang mengakibatkan berat jalannya. Ibu Sutiah sebagai istri pak Wastim ikut pula mencoba tanam dengan transplanter ini. Ternyata menurutnya sangat mudah dan praktis tanam dengan transplanter. Tenaga yang dibutuhkan ringan dan pengeluaran biaya tanam lebih hemat. Menurut Sutiah alat transplanter ini ringan dan mudah dioperasikannya, sehingga dia bisa membantu suaminya untuk menanam padi.Walaupun Pak Wastim baru menerapkan alat transplanter dalam mengoperasikannya tidak ada kendala. Justru permasalahan yang dijumpai antara lain : a. kepadatan benih dalam troy masih kurang, sehingga pada saat masuk transplanter bibit tidak terbawa (tanam banyak yang terlewat), b. jalannya transplanter masih bungkak bengkok, sehingga bibit yang tertanam tidak lurus, c. tanah yang ada berlumpur, sehingga transplanter sering ambles. Dalam pembuatan persemaian Pak Wastim menggunakan troy dengan umur benih 18 hari. Walaupun sebenarnya dapat langsung di hamparan sawahdengan alas plastik. Persemaian di sekitar rumah, setelah diperam 48 jam benih disebar ditroy yang sudah diberikan tanah dan pupuk organik. Biarkan bibit selama 16 hari dan siram setiap padi dan sore untuk menjaga kelembaban. Sambil menunggu bibit berumur 16 hari tanah diolah sampai siap tanam. Baru setelah semuanya siap bibit dapat ditanam dengan menggunakan transplanter. Berbeda dengan persemaian di sekitar rumah, persemaian di sawah setelah direndam bibit yang sudah dalam troy langsung disimpan di hamparan persemaian. Menurut Penyuluh Pertanian setempat, Budi Kusmayadi, SPt pada saat demontrasi penggunaan transplanter banyak petani yang melihat dan penasaran dngan penggunaan transplanter ini. Dari pertanyaan pertanyaan yang disampaikan petani tidak ada satu pun respon petani yang negatif. Justru mereka ingin pula pada musim gadunya menerapkan tanam dengan transplanter. Bahkan sudah ada yang menayakan berapa jasanya bila bibit dan alatnya dari pak ketua kelompoktani. Permasalahan dalam penerapan transplanter ini karena jumlah troy yang ada terbatas. Satu bau memerlukan 275 buah sampai 300 buah troy, sedangkan anggota kelompoktani tidak sanggup menyediakannya. Apalagi kalau tanam dilakukan secara serentak. Budi Kusmayadi, SPt menambahkan sebenarnya persemaian untuk transplanter tidak harus di menggunakan troy, bisa juga dengan sistim dapog yang langsung persemaiannya di lahan. Menurut Ketua Kelompoktani Sri Sender untuk mengoptimalkan hasil penggunaan transplanter, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Dalam pembuatan bibit padi sebaiknya harus dikasih alas dengan dengan plastik agar akar tidak tembus ke bawah troy serta harus padat, b. agar jalannya transplanter lurus, maka sebaiknya dipaskan dengan galengan terlebih dahulu atau membuat kenca dengan menarik tambang sebagai lajur/baris awal, c. Prioritaskan terlebih dahulu sawah-sawah yang tidak kumplung, baru terakhir menanam sawah yang kumplung. Dijelaskan lebih lanjut bahwa untuk menyebarluaskan penggunaan alat ini perlu ada pelatihan persemaian dapog agar para anggota kelompoktani dapat juga menerapkan legowo dengan alat transplanter. Disamping itu apabila para anggota kelompoktani sudah doyan penggunaan alat transplanter, maka tentunya penyediaan alat ini harus mencukupi jangan sampai kekurangan.Harapan pak Wastim karena alat transplanter ini dapat meminjam dari Koramil, maka dimasa datang kelompoktani Sri Sender berharap dapat stimulan transplanter. Sehingga semua anggotanya dapat menanam menggunakan transplanter dan bisa menekan biaya produksi. Semoga pula kelompoktani Sri Sender lebih berkembang lagi. Penyusun : Burhanudin, SST. - Penyuluh Pertanian Pertama abpp kertasemayaDinas Pertanian Kabupaten Indramayu