Loading...

Optimalisasi Jamur Tiram Pada Dataran Rendah

Optimalisasi Jamur Tiram Pada Dataran Rendah
OPTIMALISASI JAMUR TIRAM PADA DATARAN RENDAH Jamur pada umumnya tumbuh pada habitat di dataran tinggi di 650 meter di atas permukaan laut. Daerah pegunungan, lereng, maupun perbukitan adalah daerah yang menjadi habitat utamanya. Sebuah kondisi yang menunjukkan alam tumbuh jamur adalah sejuk, lembab, dan kaya oksigen. Berbagai jenis jamur sangat subur tumbuh di daerah ini, salah satunya adalah jenis jamur tiram yang sangat digemari masyarakat untuk kebutuhan mereka dengan segudang manfaatnya. Tantangan menarik tatkala kebutuhan jamur ini sudah menjadi komoditi masyarakat yang sudah mulai kesulitan memperoleh jamur liar yang organik. Keinginan untuk mendapatkannya atau membudidayakannya secara komersil di lingkungan mereka, apalagi bagi masyarakat yang berada di daerah perkotaan atau di dataran rendah. Alam yang berbeda yaitu dataran rendah jelas memiliki karakteristik tersendiri dalam membudidayakannya. Kebanyakan komoditi jamur tiram ini memang sudah dibudidayakan secara komersiil di dataran tinggi oleh petani maupun pengusaha baik skala kecil maupun besar. Sedangkan keinginan besar juga bagi masyarakat di dataran rendah yang ingin membudidayakannya. Untuk alam yang bereda ini, hal utama adalah bagaimana mengkondisikan fungsi pertumbuhan jamur optimal sesuai habitat aslinya. Secara teknis budi daya jamur tiram untuk penyediaan bibit maupun media tanam secara umum tidaklah mengalami kesulitan karena cukup banyak produsen yang menyediakannya, atau bahkan diuapayakan sendiri sekalipun dengan teknologi sederhana juga dapat dilakukan. Justru yang menarik adalah bagaimana proses menumbuhkan jamur tiram ini supaya optimal pada dataran rendah. Tips menumbuhkan jamur tiram di dataran rendah Tidak boleh terkena sinar matahari langsung Ruang penumbuhan harus dikondisikan dengan pemenuhan fungsinya agar tidak terkena sinar ultra violet secara langsung, atau harus berada pada kondisi memiliki peneduh. Sehingga ruangan harus beratap dan berdinding yang baik. Untuk atap bisa berbagai media dapat digunakan, paranet tebal, daduk jerami maupun dedaunan, asbes, genteng, dll. Bisa dipertimbangkan bahan seefektif dan seefisien mungkin sehingga terpenuhi fungsi bisnisnya dengan umur ekonomis yang baik. Sedangkan dinding juga bisa menggunakan paranet, anyaman bambu, tembok , dll. Tidak boleh terkena air hujan langsung Fungsi utamanya adalah menghindarkan kadar asam pada air hujan agar tidak terkena langsung pada tubuh buah jamur tiram. Hal ini dikarenakan kandungan asam pada air hujan akan berakibat pada percepatan pembusukan pada tubuh buah jamur. Jamur akan terlalu cepat menguning dan membusuk. Harus Lembab Pengkondisian ruang tumbuh jamur tiram juga diupayakan dalam keadaan selalu lembab. Banyak cara bisa dilakukan, dengan penyemprotan atau pengkabutan ruangan, lantai dasar berbahan pasir yang selalu basah, maupun penyemprotan pada dinding ruangan sehingga mampu mempertahan suhu rendah dan kelembaban udara yang cukup. Indikatornya pada suhu 16 sampai dengan 28 derajat selsius dan kelembaban udara 60 sampai dengan 90%. Harus ada sirkulasi udara Sirkulasi udara yang baik juga sangat dibutuhkan pada ruang penumbuhan jamur tiram. Hal ini bisa dilakukan jika dindingnya memiliki prasarana untuk itu, salah satunya adalah memiliki fentilasi udara, jendela maupun dinding yang memiliki rongga (misalnya paranet). Sirkulasi udara sangat dibutuhkan untuk membuang udara panas di dalam ruangan dan menggantikannya dengan udara baru yang lebih fresh. Apalagi didukung dengan kelembaban yang baik jelas akan mampu mempertahankan suhu dan kelembaban ideal bagi pertumbuhan jamur tiram. Untuk konstruksi bangunan cukup menyesuaikan sumber daya yang ada, karena pada prinsipnya 4 hal tersebut dapat dilakukan akan sangat mendukung penumbuhan jamur agar bisa tumbuh optimal. Lebih ideal apabila ketinggian atap maupun dindingnya diatas 2,5 meter dari lantai dasar. Hal inilah yang akan mampu menumbuhkan jamur tiram dengan baik, jamur tiram bisa tumbuh di 2 alam yang berbeda. PENULIS : IVA FACHMAWATI, SP. MM DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN PROVINSI JAWA TIMUR