Potensi lahan pekarangan di Indonesia cukup luas yaitu sebesar 10.3 juta hektar (sumber: http://sulsel.litbang.pertanian.go.id ). Sayangnya potensi lahan tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Padahal lahan pekarangan dapat dioptimalisasikan dengan melakukan penanaman sayuran, tanaman obat keluarga, memelihara hewan ternak, atau memelihara ikan. Guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk menggerakan masyarakat melalui pemberdayaan. Kelompok penggerak PKK dan kelompok wanita tani adalah salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat untuk melakukan program optimalisasi lahan pekarangan. Terlepas dari organisasi atau kelompok, setiap orang sebenarnya dapat dengan mudah melakukan optimalisasi pekarangan sendiri di rumah masing-masing. Hanya saja dibutuhkan ketekunan dalam melakukan pemeliharaan sehingga hasilnya dapat diperoleh secara maksimal. Berikut adalah beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam optimalisasi pemanfaatan pekarangan dengan mengusahakan komoditas sayuran. 1. Persiapan Media Tanam Mengapa penyiapan media tanam itu penting? Karena media tanam itu adalah tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman yang akan menentukan baik atau tidaknya kondisi tanaman tersebut. Jadi membuat media tanaman juga tidak boleh sembarangan harus diperhatikan beberapa syarat berikut, yaitu: media harus gembur untuk memudahkan tumbuhnya perakaran mempunyai porositas yang baik (dapat mengalirkan air) tersedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman baik makro maupun mikro tidak mengandung bibit penyakit Berikut adalah bahan dan alat dalam membuat media tanam: Sekop untuk mengaduk Ember untuk menakar banyaknya bahan Tanah bagian atas (top soil) Pupuk kandang atau kompos sebagai penyedia unsur hara Arang sekam untuk meningkatkan kapasitas porositas tanah Cara membuat media tanam adalah: Campurkan tanah, arang sekam, dan pupuk kandang dalam sebuah wadah atau hamparan sebanyak 1:1:1. Gunakan ember untuk mengukurnya, misalnya jika tanahnya 1 ember, maka arang sekam dan pupuk juga satu ember. Aduk hingga rata dengan menggunakan sekop dan jangan biarkan ada bagian yang menggumpal. Setelah media tanam siap, maka tinggal memasukkan ke dalam wadah penanam. Wadah penanam tidak harus selalu menggunakan pot atau polybag, kita bisa menggunakan barang-barang bekas seperti kaleng, botol plastik, karung, gedebong pisang serta barang-barang bekas lain yang dapat digunakan sebagai wadah. Nah, media tanam ini dapat digunakan langsung untuk penanaman benih tertentu seperti kangkung, oyong atau bayam yang tidak memerlukan penyemaian terlebih dahulu. Untuk benih yang perlu disemai seperti caisin, pakcoy, selada, tomat, cabai, terong, dan lain sebagainya bisa menggunakan media tanam tersebut untuk pembibitan. 2. Pembibitan Pertama, Kenali dulu benih-benih tanaman yang memang perlu dilakukan penyemaian. Pembibitan perlu dilakukan agar bibit tumbuh dengan baik terutama bagi pertumbuhan akar. Benih seperti selada, pakcoy, caisin, kemangi atau benih dengan ukuran kecil lainnya akan riskan jika langsung ditebar di area pertanaman. Biasanya benih yang mengalami penyemaian ditujukan pada benih yang harganya cukup mahal dan berukuran relatif kecil seperti cabe, tomat, selada, kaylan, pakcoy dan sebagainya. Sedangkan benih yang berukuran besar dapat ditanam langsung pada area pertanaman. Kedua, Siapkan wadah dan media penyemaian Media untuk penyemaian komposisinya sama dengan media tanam yaitu tanah:pupuk kandang/kompos:arang sekam = 1:1:1. Untuk wadahnya bisa menggunakan bak, seed tray, wadah plastik atau karung yang didatarkan. Apabila semuanya telah tersedia, lalu masukkan tanah ke dalam wadah kemudian diratakan. Buatlah lubang tanam dengan ukuran sekitar 0,5 cm untuk menyemai benih berukuran besar, sedangkan untuk benih berukuran kecil cukup dibuatkan alur saja pada media. Ada satu cara penyemaian yang mudah, murah dan ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan daun pisang. Caranya adalah dengan memotong daun pisang seukuran lebar 2-3 cm dan panjang 6 cm. Kemudian daun pisang digulung menjadi bentuk tabung yang bagian atas dan bawahnya bolong. Lalu masukkan media tanam ke dalamnya. Selanjutnya benih ditanam secara langsung pada gulungan daun pisang tersebut sebanyak satu benih per gulungan hingga proses transplanting bibit. Keuntungan menggunakan cara ini adalah untuk meminimalisir kerusakan akar pada saat transpanting. Ketiga, Taburkan benih dan tutup dengan lapisan tipis tanah Untuk benih berukuran besar seperti cabai dan tomat sebelum disemai perlu dilakukan perendaman terlebih dahulu. Caranya dengan merendam benih pada air hangat (30 derajat celcius) selama 10 menit. Gunanya adalah untuk memisahkan benih yang tenggelam dengan benih yang mengapung sekaligus membantu proses imbibisi. Benih yang mengapung umumnya memiliki cadangan makanan (endosperm) yang rendah sehingga tidak akan menghasilkan bibit yang baik atau cenderung tidak tumbuh. Sedangkan benih yang tenggelam memiliki cadangan makanan yang cukup untuk membantu proses inisiasi akar beserta calon batang dan daun. Setelah itu benih ditaburkan ke dalam media pembibitan, lalu tutup benih dengan lapisan tanah yang tipis. Keempat, Lakukan penyiraman secara perlahan Penyiraman dilakukan secara perlahan dan usahakan tidak merusak lubang serta alur yang sudah dibuat. Lakukan penyiraman dua kali sehari pada saat pagi dan sore. Namun jika kondisi tanah masih cukup lembab maka jangan lakukan penyiraman dulu agar benih tidak busuk. Kelima, Letakan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung Gunanya untuk menjaga kelembaban benih karena pada tahap persemaian membutuhkan kelembaban yang optimum. Keenam, Pemeliharaan Pemeliharaan pada tahap penyemaian adalah dengan melakukan penyiangan apabila ada gulma atau tumbuhan pengganggu yang muncul di sekitar area persemaian, kemudian menjaganya dari serangan hama seperti semut serta keong, dan melakukan penyiraman sesuai kondisi persemaian. Benih akan berubah menjadi bibit apabila sudah terjadi proses pertumbuhan. Bibit yang sudah boleh dilakukan pemindahan ke lapangan atau transplanting adalah bibit yang memiliki daun utama minimal 3 helai daun pada umur 7-14 hari setelah semai. 3. Wadah Penanaman Wadah penanaman ini digunakan bagi lahan atau pekarangan yang tidak memungkinkan untuk ditanam. Misalnya pada pekarangan yang tidak memiliki tanah karena diplester atau luas lahan pekarangan yang sempit. Kemudian untuk pemilihan jenis wadah, ada baiknya menggunakan wadah-wadah bekas yang ada di sekitar untuk melakukan penanaman. Tujuannya adalah selain mengurangi jumlah sampah, juga dapat menghemat biaya serta menumbuhkan kreatifitas. 4. Transplanting Bibit Transplanting atau pemindahan bibit itu tidak boleh dilakukan sembarangan karena jika salah melakukannya akan merusak dan membuat bibit tidak dapat tumbuh. Lalu apa saja yang harus diperhatikan? Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memindahkan bibit: 1. Bibit yang akan dipindahkan sudah memiliki perakaran yang baik dan memiliki minimal 3 buah daun sempurna. Jika sudah terbentuk tiga daun namun ukurannya masih kecil ada baiknya tunggu seminggu lagi agar daun terbentuk sempurna. 2. Media dan wadah yang diperlukan sudah tersedia terlebih dahulu sebelum bibit dipindahkan. Ini bermanfaat untuk mencegah kelayuan. Wadah yang digunakan memiliki ukuran lebih besar dari wadah sebelumnya sehingga media yang diperlukan juga lebih banyak. Media yang digunakan masih sama dengan komposisi yang sudah dijelaskan sebelumnya. 3. Dilakukan pada pagi hari atau sore. Jangan melakukan transplanting pada siang hari karena akan menyebabkan bibit mengalami kelayuan karena penguapan. 4. Bibit yang sudah dipindah jangan terkena matahari secara langsung karena bibit membutuhkan adaptasi terhadap lingkungan barunya. Akar tanaman yang dipindah belum mampu menyerap air secara langsung maka jika dia terpapar sinar matahari akan menyebabkan kelayuan. Apabila sudah memahami hal-hal yang harus diperhatikan pada saat transplanting, maka dapat melakukan pemindahan bibit. Caranya adalah: 1. Lakukan penyiraman terlebih dahulu pada bibit yang akan dipindah agar tanah menjadi lunak dan memudahkan pemindahan. 2. Jika menggunakan polibag maka dorong tanah dari bawah polibag dan jika menyemai di tanah maka ambil bibit bersama tanah yang ada di sekitar bibit. Jangan mencabutnya karena akan merusak akar. 3. Buatlah lubang tanam di wadah atau tempat tumbuhnya bibit yang baru. 4. Masukkan bibit beserta tanah yang terbawa kemudian tutup secara perlahan. 5. Letakkan di tempat yang tidak terkena matahari secara langsung dan lakukan penyiraman untuk menjaga kelembaban. 6. Jika bibit sudah mampu beradaptasi, maka dia dapat dipindahkan pada tempat yang mendapatkan cahaya untuk memudahkan proses fotosintesis. Bibit dapat dipindah lebih dari satu kali sesuai dengan besarnya tanaman dan kapasitas wadah. Jika Ia tumbuh semakin besar maka membutuhkan tempat yang lebih besar pula sehingga diperlukan pemindahan kembali. Nah, setelah proses transplanting selesai dilakukan, maka tahap berikutnya adalah proses pemeliharaan hingga nanti kita bisa memanen hasil yang kita tanam. Mengenai pemeliharaan akan saya jelaskan pada postingan berikutnya ya. 5. Pemeliharaan Beberapa hal yang harus dilakukan pada tahap pembesaran dan pemeliharaan tanaman diantaranya: 1. Pemberian Pupuk Susulan Penanaman sayuran di pekarangan bertujuan untuk dikonsumsi sendiri guna membantu pemenuhan sayuran keluarga. Oleh karena itu diusahakan untuk menggunakan bahan organik dalam setiap proses budidayanya. Pemupukan susulan diberikan kepada tanaman dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk kandang, kompos atau pupuk organik cair (POC). Untuk pemberian POC biasanya dilakukan sebanyak 3-7 hari sekali dengan melarutkan 10-100 ml pupuk alam 1 liter air yang disiramkan pada media tanam. Sedangkan untuk pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang dapat diberikan setiap 30 hari sekalis ebanyak 50-100 gra atau 2-3 genggam pupuk per tanaman. 2. Penyiraman Umumnya penyiraman dapat dilakukan sebanyak 1-2 kali sehari tergantung dengan umur tanaman, media tanam, populasi serta cuaca. Semakin besar ukuran tanaman dan semakin banyak populasinya maka intensitas penyiraman semakin sering dilakukan. Terutama pada saat tanaman sedang berbunga dan berbuah. Pada tahap ini penyiraman tidak boleh terlambat karena akan menyebabkan gugurnya bunga sehingga tidak terjadi pembuahan. 3. Penggemburan Tanah Penggemburan tanah bermanfaat untuk mengembaikan aerasi tanah agar ketersedian oksigen tetap terjaga serta memberikan kesempatan agar akar dapat berkembang lebih baik. Penggemburan dapat dilakukan bersamaan pada saat roguing. 4. Roguing Roguing atau penyiangan gulma penting untuk dilakukan. Gulma adalah tanaman penggangu yang keberadaannya tidak dikehendaki pada pertanaman. Menyiangi gulma dapat memberikan kesempatan bagi tanaman budidaya untuk mengoptimalkan penyerapan unsur hara dan ruang tumbuh tanaman. 5. Pengendalian hama penyakit terpadu Pengendalian hama dan penyakit terpadu untuk tanaman pekarangan diharuskan menggunakan bahan-bahan organik seperti pestisida nabati. Hal ini bertujuan agar sayuran yang dihasilkan aman dari cemaran bahan kimia berbahaya seperti pestisida yang dapat mengganggu kesehatan keluarga. Pembuatan pestisida nabati sangat mudah dilakukan karena umumnya menggunakan bahan yang sudah tersedia di sekitar. Untuk pembuatan pestisida nabati ini akan diuraikan pada postingan yang berbeda. Selain itu untuk mengendalikan hama dan penyakit juga dapat dilakukan secara mekanis seperti eradikasi atau pembuangan atau pemusnahan hama secara mekanis dan mencabut tanaman yang terserang penyakit agar tidak menyebar kepada tanaman lainnya. Lalu bisa menggunakan musuh alami untuk mengendalikan hama, contoh musuh alami yang mudah ditemukan adalah laba-laba, belalang kumis panjang, Coccinellid, dan lain-lain. 6. Pemanenan Proses pemanenan ini tergantung dari komoditas sayuran yang kita tanam karena ada sayuran yang dipanen sekaligus dan ada juga yang dipanen berulang. Umumnya sayuran yang hanya berumur hingga satu bulan hanya dipanen satu kali saja, sedangkan sayuran daun serta sayuran berbuah yang umurnya lebih dari satu bulan dapat dipanen berulang tergantung dari kondisi tanaman. 1. Sayuran daun dipanen hanya satu kaliContohnya adalah bayam, selada, sawi, caisin, pakcoy, bawang daun dan lain-lain. Cara pemanennanya dengan langsung mencabut keseluruhan bagian tanaman hingga akarnya. Agar tanaman tidak rusak pada saat pemanenan, maka ada baiknya tanah dibasahi atau digemburkan terlebih dahulu supaya akar mudah dicabut sehingga tidak merusak batang dan daun tanaman. Letakkan pada tempat yang jauh dari jangkauan sinar matahari agar sayuran tetap segar. 2. Sayuran daun dipanen berulangContohnya adalah kangkung, kaylan, seledri, kemangi, dan kenikir. Cara pemanenannya adalah dengan memotong batang atau pucuk daun. Pada batang yang dipotong tersebut nantinya akan tumbuh tunas daun kembali sehingga kita dapat memanennya lagi. Pemanenan ini umumnya dapat dilakukan hingga tiga kali pemotongan. 3. Sayuran berbuah dipanen bertahapSayuran buah yang dipanen bertahap disesuaikan dengan fase pematangan buah. Contoh sayuran buah yang dipanen bertahap adalah cabe, tomat, terong, mentimun, kacang panjang, buncis, oyong dan lain sebagainya. Untuk meminimalisir kerusakan sebaiknya gunakan gunting pada saat memanen buah, kecuali cabai yang dapat dipanen dengan menggunakan tangan langsung.Proses pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar sayuran hasil panen masih dalam keadaan segar. Sayuran ini kemudian dapat diolah sesuai dengan selera atau disimpan dalam refrigerator. Kemudian tanah yang ada dalam pot penanaman sebaiknya jangan dibuang, biarkan saja ada di dalam pot untuk kemudian digunakan kembali dengan menambahkan pupuk kandang lagi pada saat penanaman nanti. Penulis : Evrina Budiasturi Jabatan : Penyuluh Pertanian Pertama (BPP Wilayah V Dramaga)