Loading...

Optimalisasi Penggunaan Air Untuk Mendukung Pelaksanaan IP Padi 400

Optimalisasi Penggunaan Air Untuk Mendukung Pelaksanaan IP Padi 400
Menaikkan indeks pertanaman (IP) di lahan sawah merupakan salah satu alternatif pertumbuhan produksi padi. Teknologi tersedia untuk mendukung upaya peningkatan IP, antara lain adalah penggunaan varietas umur pendek dan percepatan tanam dengan sistem tanpa olah tanah (TOT). Sistem TOT juga memungkinkan cakupan areal tanam serempak lebih luas, menghemat pemakaian air dan mempercepat panen. Sistem TOT yang ditujukan untuk mengurangi tenaga kerja diharapkan mengurangi biaya produksi dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Efisiensi penggunaan air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pelestarian swasembada beras. Hal ini disebabkan pada masa mendatang, baik kuantitas, kualitas, dan pola permintaan maupun pasokan air akan mengalami perubahan dengan arah yang cenderung berlawanan yaitu permintaan meningkat sedangkan pasokan relatif menurun. Peningkatan permintaan air disebabkan meningkatnya kebutuhan air. Pasokan air mengalami perubahan ke arah kelangkaan akibat perubahan tata guna lahan yang mengarah kepada degradasi. Perlunya efisiensi pendayagunaan air, khususnya dalam bidang pertanian berkaitan dengan (1) keterbatasan dana untuk investasi penambahan lahan sawah baru, (2) kehilangan produksi padi akibat penyusutan lahan sawah karena konversi ke penggunaan lain, dan (3) derajat kerawanan wilayah persawahan terhadap bencana kekeringan semakin meningkat. Tingkat efisiensi pemanfaatan air irigasi di Indonesia sampai saat ini baru sekitar 50% karena kehilangan air dalam jaringan irigasi cukup besar. Rendahnya efisiensi irigasi antara lain disebabkan oleh ketidakteraturan petak-petak sawah dan ukuran petak tersier yang tidak baku. Upaya yang dilakukan antara lain mengubah sistem penyaluran dan atau sistem pemberian air yang didukung dengan pemilihan jenis tanaman, masa tanam, dan manajemen yang tepat. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah merupakan pendekatan budidaya yang berorientasi pada efisiensi penggunaan produksi dan sumber daya. Secara umum, PTT padi di lahan sawah mempunyai komponen teknologi (1) penggunaan kompos jerami 2 ton per ha, (2) penanaman bibit muda 15 hari, 2-3 bibit/lubang tanam dengan jarak tanam 20 x 20 cm, (3) penggunaan pupuk kimia berdasarkan pengelolaan hara spesifik lokasi, (4) penggunaan herbisida dan penyiangan mekanis, (5) pengairan secara berselang. Sejak padi ditanam sampai matang fisiologis, pengairan biasanya dengan selang 3 - 4 hari. Hasil padi dengan budi daya PTT dapat lebih tinggi 10-15% dibanding dengan budi daya secara konvensional. SRI merupakan sistem budidaya padi yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan cara konvensional, yaitu (1) tanaman hemat air (tinggi genangan maksimum 2 cm sebagai batas atas dan 80% jenuh lapang sebagai batas bawah, (2) selama fase vegetatif, kondisi tanah bersifat aerobik dengan frekuensi penyiangan lebih dari lima kali, (3) hemat biaya karena sedikit membutuhkan benih, (4) hemat waktu (bibit muda 10 hari, satu bibit per lubang tanam dengan jarak tanam 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm), dan (5) ramah lingkungan (pupuk non kimia, herbisida, dan insektisida hayati). Pada prinsipnya pengairan tanaman dengan model SRI adalah basah kering selama fase vegetatif, penggenangan dangkal selama fase reproduktif, dan pengeringan selama fase pematangan. Dengan sistem ini, penggunaan air irigasi dapat dihemat sampai 50% dan laju rembesan dapat ditekan. Strategi Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Di Tingkat UsahataniEfisiensi penggunaan air bergantung pada tujuan dan sasaran yang akan dicapai, antara lain adalah efisiensi produksi. Upaya untuk meningkatkan efisiensi produksi adalah (1) mempertahankan produktvitas dan mengurangi konsumsi air, (2) meningkatkan produktivitas tanpa menambah konsumsi air, dan (3) meningkatakan produktivitas walaupun mengurangi konsumsi air. Efisiensi penggunaan air dalam suatu sistem pengairan akan tercapai apabila rata-rata hasil persatuan luas naik dari luas tanam/panen sesuai dengan rencana atau bahkan lebih luas. Pengurangan air per satuan luas akan menekan konsumsi air dan surplus air bisa digunakan untuk memperluas areal tanam/panen, terutama pada musim kemarau. Penghematan penggunaan air waduk akan memperluas areal tanam pada musim kemarau atau minimal mempertahankan areal panen pada musim kemarau. Untuk menstabilkan areal tanam/areal panen padi pada musim kemarau dapat diupayakan dengan mengefisienkan penggunaan dari waduk agar kelebihan air volume air di waduk dapat mensuplai penurunan debit air di sungai. Efisiensi penggunaan air dapat ditingkatkan melalui perbaikan teknik budidaya padi sawah, antara lain melalui (1) sistem olah tanah, (2) tanam benih langsung, (3) penanaman varietas toleran kekeringan, (4) cara pemberian air, dan (5) pemupukan organik dan anorganik. Dengan demikian, peningkatan intensitas tanam (IP) dari IP 200 menjadi IP padi 400 di lahan sawah irigasi teknis, merupakan peluang dalam meningkatkan produksi padi, meskipun implementasinya dihadapkan kepada banyak kendala. Keberhasilan peningkatan intensitas tanam ditentukan oleh kondisi infrastruktur jaringan irigasi, pasokan air yang relatif terjamin, bukan wilayah rawan kekeringan/kebanjiran atau endemik hama/penyakit, dan kinerja kelembagaan sosial/ekonomi petani. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat)Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan