Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Usaha untuk meningkatkan produksi telah berhasil dilakukan oleh pemerintah, namun belum diikuti dengan penanganan pascapanen yang optimum, sehingga hasil yang diperoleh lebih kecil dari yang seharusnya. Salah satu tahapan kegiatan pascapanen adalah penggilingan padi.Penanganan pasca panen padi adalah tindakan atau penanganan hasil panen padi yang meliputi pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan gabah, pengemasan dan penyimpanan gabah, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan beras.Masalah utama dalam penanganan pascapanen padi yang dihadapi petani adalah masih tingginya kehilangan hasil selama penanganan pascapanen yang besarnya sekitar 20%, rendahnya mutu gabah dan beras yang dihasilkan. Hal ini semua disebabkan belum optimalnya penanganan pada setiap tahapan pascapanen padi. Sebagai contoh, terjadi kehilangan hasil pada tahapan pemanenan yang mencapai 9,19%, pada tahapan perontokan sebesar 4,98%, pada tahap penggilingan 3,25 %.Untuk itu diperlukan adanya upaya optimasi pada setiap tahap kegiatan pascapanen padi tersebut baik melalui perbaikan teknologi maupun manajemen, tentunya termasuk pada tahap penggilingan gabah. Penggilingan Gabah Pengilingan gabah adalah proses pengupasan gabah untuk menghasilkan beras melalui tahapan proses sbb: pengupasan sekam (pecah kulit/PK), pemisahan gabah, penyosohan, pengemasan dan penyimpananData survei yang ada, menunjukan bahwa penggilingan gabah yang ada di lapangan mempunyai kapasitas giling dengan kualitas dan kuantitas rendemen beras yang masih rendah. Hal ini menunjukan masih terjadi adanya kehilangan hasil pada proses penggilingan gabah, yang berdasarkan penelitian sebesar 3,25 %. Berdasarkan data survey tahun 2008 dari 110.452 unit penggilingan padi terdapat 3 jenis penggilingan yaitu; 1) penggilingan padi besar (PPB) dengan kapasitas diatas 3000 kg/jam berjumlah 4.950 unit (4,48%); 2) penggilingan padi sedang (PPS) dengan kapasitas 1.500 kg/jam s/d 3000 kg/jam berjumlah 15.102 (13,67 %); 3) penggingan padi kecil (PPK) dengan kapasitas 1.500 kg/jam berjumlah 90.400 unit (81,84%)Faktor yang mempengaruhi peningkatan rendemen dan mutu beras yang dihasilkan dari proses penggilingan adalah: 1) kualitas gabah yang akan digiling bermutu baik yang diperoleh bila tahap proses pascapanen sebelummnya dilakukan degan cara yang tepat,2) sarana mekanis penggilingan yang dipakai memadai, 3) SDM operator yang terampilGabah yang berkualitas baik setelah digiling belum tentu akan menghasilkan beras dengan jumlah dan kualitas yang tinggi, karena beras yang dihasilkan juga dipengaruhi pada kelengkapan mekanis penggilingan (mesin penggilingan)Mesin penggilingan padi terdiri dari beberapa komponen yaitu:1) Motor penggerak2) Pengupas sekam /mesin pemecah kulit gabah (husker)3) Pemisah gabah dan beras (separator) ada 3 tipe yaitu: (a) separator kompartement, merupakan kotak oscillator terdiri dari 1, sampai 4 lapis/dek; (b) separator tipe dek terdiri dari 3 sampai 7 rak denghan posisi miring, rak disusun dengan jarak 5 cm; (c) separator tipe saringan, terdiri dari ayakan saringan yang bergetar berjumlah 6 –15 ayakan4) Penyosoh, Tipe mesin penyosoh yang dipakai untuk rice milling unit adalah tipe jet partlou, terdiri beberapa bagian (a) poros yang tipis dan lubang dari tabung untuk mengalirkan udara; (b) dinding heksagonal yang berlubang membungkus tabung besi yang berputar. Jarak renggang dinding heksagonal dan tabung besi dapat diatur dengan sekrup; (c) unit pembawa/conveyorBerdasarkan inventarisasi penggilingan padi di Indonesia, sebanyak 90.400 unit (81,84%) merupakan penggilingan padi kecil (PPK) yang sebagian besar masih menggunakan sistem kerja one pass (proses pemecah kulit dan penyosoh menyatu), sehingga jumlah beras (rendemen) dan kualitasnya masih rendah atau belum optimal. Untuk itu perlu upaya untuk mengoptimalkan PK yang ada untuk meningkatkan jumlah dan kualitas rendeman/beras.Optimasi Penggilingan Padi Kecil (PPK) dapat dicapai melaui program revitalisasi PPK dengan langkah-langkah, yaitu menambah atau mengganti satu atau beberapa komponen mesin penggilingan padi seperti mesin pembersih, mesin pemecah kulit gabah (husker), mesin pemisah gabah dan beras pecah kulit (separator), mesin penyosoh (polisher), mesin pemisah beras kepala, beras patah dan menir (shifter), dan atau mesin pengkristal/pencuci beras (shining)Penambahan separator akan meningkatkan rendemen 0,94%, penambahan mesin cleaner (pembersih gabah) akan meningkatkan rendemen sebesar 0,95. Dengan penambahan komponen mesin penggiling tersebut diharapkan akan meningkatkan rendemen sebesar 1 – 2 %.Untuk perbaikan pada proses penggilingan perlu dipenuhi factor-faktor berikut: 1) gabah yang akan digiling berkadar air 14 %; 2) proses pecah kulit bertahap 2 kali; 3) penyosohan bertahap 2 kali; 4) susunan mesin penyosoh tergantung pada tujuan; 5) pengkilapan; 6) disarankan tidak menabah senyawa lainPengemasan Beras dan PenyimpananKualitas beras sampai ke konsumen dapat turun bila tidak diikuti deangan pengemasan dan penyimpanan yang baikBeberapa hal yang harus diperhatikan sebelum dilakukan pengemasan: 1) Beras hasil gilingan sebaiknnya tidak langsung dikemas, tetapi menunggu sampai sisa panas akibat penggilingan hilang; 2) Jenis kemasan disesuaikan dengan berat isinya, untuk kemasan lebih dari 10 kg sebaiknya menggunakan karung plastik yang dijahit tutupnya, untuk ukuran 5 kg dengan kantong plastik dengan tebal 0,8 m; 3) Faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis kemasan adalah kekuatan kemasan, bahan kemasan (tidak korosif, tidak mencemari, kedap udara); 4) Label kemasan beras hendaknya mencantumkan nama varietas (untuk menghindari pemalsuan)Beras yang sudah dikemas disimpan dalam ruangan/gudang yang bersih kering (tidak lembab), bersih dari serangga, debu dan kotora lainnya serta mempunyai sirkulasi udara yang baik. Tumpukan kemasan beras dialasi dengan papan kayu. Sumber : Direktorat Pasca paneb, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Gambar: ttp://diah.duwiarsana.com/apa-itu-beras-plastik/ http://surabaya.indonetwork.co.id/alloffers/Mesin-Penggilingan-Padi.htmlPenulis : Marwati (Penyuluh Pertanian BPPSDMP-Kementan)