Adat istiadat masyarakat adat Dayak di Kalimantan mengatakan tanah merupakan milik mereka yang paling berharga. Antara masyarakat dengan tanah dan dunia alam atas terdapat suatu hubungan yang sangat menyejarah. Tanah bagi masyarakat adat Dayak diyakini sebagai rantai penghubung antara generasi Dayak di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Salah satu wilayah hutan yang berlaku dalam masyarakat adat Dayak adalah simpukng ramuuq, yaitu kawasan hutan yang disediakan untuk mengambil hasil hutan yang diperlukan untuk keperluan kampung, dimana status penguasaan dan pemilikannya bersifat kolektif. Suku Dayak hidup berkelompok dan tinggal di pedalaman, gunung, dan lain sebagainya. Istilah Dayak sebenarnya diberikan orang – orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Dalam sosial budaya suku Dayak dikenal semboyan menteng ueh mamut, artinya seorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur. Karakteristik sosial budaya di wilayah binaan Kecamatan Krayan dapat dilihat dari aspek pencaharian masyarakat yang sebagian besar bergantung pada alam, khususnya dalam bertani atau berladang. Secara umum pekerjaan masyarakat bervariasi, antara lain : berladang atau bertani, yang umumnya menanam padi sawah tadah hujan, singkong serta beberapa tanaman lainnya; menebang kayu seringkali dilakukan masyarakat tani yang bermukim di sekitar areal hutan dan dilakukan berkelompok (3 – 6 orang setiap kelompoknya); berburu, merupakan mata pencaharian utama, untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan hanya sebagian kecil yang menjualnya. Penduduk asli wilayah binaan adalah suku Dayak Lundaye menempati sebagian besar wilayah binaan hingga ke perbatasan Malaysia. Pada wilayah Kabupaten Nunukan antara lain terdapat suku Dayak Tagel dan Berusu di Kecamatan Lumbis, Lundaye di Kecamatan Krayan, Tenggalan/Agabag di Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebuku. Paleo, Budaya Tani Dayak Lundaye Kebiasaan adat masyarakat di Krayan adalah gotong royong dalam melaksanakan kegiatan usahatani. Gotong royong yang dalam bahasa setempat disebut paleo, dilakukan dalam berbagai kegiatan. Kegiatan ini sudah berlangsung lama, yaitu seseorang yang tergabung dalam kelompok mengajak anggota kelompok lainnya untuk bersama – sama menggarap lahan anggota kelompok tersebut. Jika lahan tersebut usai digarap maka mereka berpindah ke lahan milik anggota lainnya. Paleo nibu pade adalah bergotong royong menanam padi, yang kegiatan sebelumnya didahului oleh paleo meledek, yaitu membersihkan sawah sebelum ditanami. Dalam kegiatan paleo meledek, sawah dibersihkan dari gulma dan jerami bekas pertanaman yang lalu dengan cara bergotong royong. Selama proses pembersihan dari gulma ini, benih padi disemaikan, yang sebelumnya benih tersebut dibawa ke gereja untuk diberkati. Tujuannya agar hasil panen dapat meningkat dan pertanaman aman dari gangguan hama/ penyakit tanaman. Acara pemberkatan benih ini disebut pade fra. Dalam merawat padi sawah, seringkali terserang hama tikus, maka dilakukan ngelabo labo atau gropyokan hama tikus. Acara gropyokan hama tikus ini biasa juga dilakukan sebelum penanaman padi. Disamping hama tikus, burung juga biasa merusak pertanaman. Pengendalian burung yang dinamai keruak yang biasa merusak pertanaman dilakukan dengan ngelabo keruak. Jika waktu panen telah tiba, maka dilakukan acara ngerupen. Seperti paleo nibu pade, acara ini juga dilakukan secara bergotong – royong dengan melibatkan petani lainnya. Mereka bergantian memanen padi di sawah. Acara ngerupen ini biasanya disertai dengan pemotongan kerbau atau babi. Tujuannya disamping memberi makan petani yang telah membantu memanen, juga sebagai wujud suka cita karena telah berhasil menuai padi. Disamping acara – acara tersebut yang dilaksanakan dalam kegiatan usahatani, masyarakat suku Lundaye di Kecamatan Krayan juga melakukan upacara adat lain seperti Nyupai Semaring, Nui Ulung, tarian Parisanan, dan Beritubang. Seluruh produk budaya ini mencerminkan bertani sebagai bagian dari kebudayaan yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat bangsa kita. Oleh : Asbudi Salam, SP., MAP. PPL Ahli Madya DPKP Nunukan Kalimantan Utara.