Loading...

Panen dan Hama Pasca Panen Ubi Jalar

Panen dan Hama Pasca Panen Ubi Jalar
Hasil ubi jalar biasanya sangat dipengaruhi oleh benerapa factor seperti umur, jenis atau varietas, kesuburan tanah, tinggi tempat penanaman, iklim (musim tanam), serta gangguan hama dan penyakit. Ratusan spesies serangga dapat merusak ubi jalar, namun yang paling merusak adalah Cylas formicarius atau sweet potato weevil, disebut juga kumbang penggerek umbi atau hama boleng. Selain itu, daun dari ubi jalarpun tidak dapat lepas dari serangan hama spodoptera litura atau yang lebih dikenal dengan sebutan ulat grayak. Sedangkan penyakit yang sering menyerang ubi jalar adalah penyakit bercak daun. Oleh karena itu betapa pentingnya memperhatikan panen dan pasca panen agar tidak banyak terdapat umbi yang kena boleng. Pemilihan atau penyortiran ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi jalar dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis- garis pada daging umbi. Pemanenan. Pemanenan dilakukan pada umur sekitar 3.5 -4 bulan . Perhatikan pada cuaca saat menjelang panen atau umur tanaman di atas 3 bulan. Umbi siap panen yang tiba-tiba tertimpa hujan deras biasanya akan membusuk . Hal ini terjadi pada budidaya ubi jalar yang dilakukan di musim kemrau. Apabila terjadi hal tersebut segera lakukan pemanenan maksimal 7 hari setelah hujan, Panen bisa dikatakan berhasil jika tiap satu taanaman minimal menghasilkan 1 kg umbi Kalau hasil panenan kondisinya baik stsu tidsk terserang hama, akan menghasikan umbi lebih dari 30 ton/ha. Bahkan kalau varietas yang digunakan adalah varietas unggul maka bida menghasilkan sampai 40 ton / hektar. Setelah dipanen,ubi jalar dicuci dan disortir kemudian masukan dalam kaarung dan simpan disimpaa. Pasca Panen, Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan Pemilihan atau penyortiran ubi jalar sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran ubi jalar dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis- garis pada daging umbi. Penanganan pascapanen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan daya simpan. Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut: a) Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari. b) Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik. c) Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. Ubi jalar yang mengalami proses penyimpanan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 27-30 derajat C (suhu kamar) dengan kelembaban udara antara 85-90 %. Hama Pasca Panen. Hama yang menyerang ubi jalar yang terbanyak adalah hama C. formicarius dan diikuti oleh hama ulat grayak dan hama lainnya yang tidak diketahui jenisnya. Hama yang berada pada umbipada minggu pertama yaitu serangan C. formicarius dan ulat grayak yang dapat mengakibatkan kerusakan dan apabila terus menerus akan mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal pada ubi jalar. Kemudian pada minggu ke 2 hama C. formicarius mengalami perkembangan yaitu jumlahnya bertambah,hal ini mungkin larfa yang masih berada dalam umbi telah menjadi imago (C. formicarius). namun untuk ulat grayaknya sudah tidak ada,hal ini mungkin ulat grayak itu mati karena tidak tahan berada di dalam ubi,karena perlakuan yang dilakukan ubi yaitu dengan menempatkan ubi ke dalam kotak plastik, dan ulat grayak tidak tahan terhadap kondisi seperti itu. Kemudian pada minggu ke 3 hama yang masih tinggal adalah C. formicarius dan jumlahnya masih tetap dan sama dengan minggu sebelumnya yaitu berjumlah 2, namun pada perlakuan 2 terdapat hama yang tidak diketahui jenisnya, dengan ciri-ciri seperti kutu dan mempunyai tanduk kecil di bagian kepalanya, mungkin bisa di gambarkan seperti kumbang yang menyerang pada beras. Dari data diatas diketahui hama yang paling banyak menyerang ubi jalar adalah hama C. formicarius yang dapat mengakibatkan kerusakan pada ubi jalar akibat dari serangan C. formicarius dapat mengakibatkan ubi jalar sudah tidak dapat di konsumsi dan hal ini sudah terbukti dari beberapa sumber yaitu diantaranya hasil pengujian laboratorium di Jepang menunjukkan bahwa akar tanaman ubi jalar yang terserang kumbang C.formicarius selama 24 jam akan menghasilkan terpene phytoalexins. Diduga enzim pektolitik yang terdapat pada kumbang C. formicarius adalah terpene. Selanjutnya dinyatakan bahwa sisa gerekan di dalam batang menyebabkan malformasi, penebalan, dan patahnya batang ubi rambat serta daun menjadi hijau pucat. Warna jaringan di sekitar lubang gerekan pada umbi akan berubah menjadi lebih gelap dan membusuk, sehingga umbi tidak layak dikonsumsi karena rasanya pahit. Bila dikonsumsi umbi tersebut akan merangsang pembentukan senyawa toksik yang dapat mempengaruhi kerja hati dan paru-paru manusia. Dari pernyataan tersebut maka perlu adanya tindakan untuk mencegah terjadinya serangan yang dapat mengakibatkan kerusakan yang fatal dan dapat merugikan petani dan juga merusak kesehatan bagi yang telah mengkonsumsinya. Adapun tindakan yang dilakukan ada dua cara yaitu tindakan secara prefentif dan tindakan secara kuratif. Dimana tindakan-tindakan tersebut sangat membantu untuk mengurangi atau meminimalisir tingkat serangan yang bisa terjadi. Tindakan secara prefentif adalah tindakan-tindakan yang dilakukan sebelum terkadi serangan yang bertujuan untuk mencegah adanya serangan yang mungkin bisa masuk,dan tindakan secara kuratif adalah tindakan yang dilakukan setelah terjadi serangan atau bisa dikatakan tindakan yang dilakukan pada saat ubi mengalami serangan. Pengendalian menggunakan cara prefentif, contohnya dengan menerapkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). PHT merupakan pendekatan ekologi dalam pengelolaan agroekosistem. Oleh karena itu, PHT mengutamakan berfungsinya mekanisme pengendalian alami yang secara dinamis dapat menjaga populasi hama tetap berada pada keseimbangan umum yang rendah. Komponen PHT meliputi penggunaan varietas tahan, teknik bercocok tanam, menggunakan musuh alami, dan penggunaan pestisida bila diperlukan. Pengendalian menggunakan musuh alami merupakan pengendalian yang cukup efektif. Musuh alami yang berupa pathogen belum banyak diketahui baik jenis maupun perannya. Beberapa jenis pathogen yang menjadi musuh alami C. formicarius adalah jamur, virus, bakteri, protozoa, dan nematoda. Di antara jamur Entomopatogenik, Beauveria bassiana adalah yang paling efektif. Mortalitas C. formicarius mencapai 80–90%. Untuk pengendalian secara kuratif yaitu dengan melakukan pemotongan umbi yang telah terserang dan membuangnya, hal ini merupakan salah satu cara agar serangan yang diakibatkan, tidak menyebar ke seluruh bagian umbi dan juga dengan menyortir umbi yang telah terserang dengan mengelompokkan tingkat kerusakannya dengan maksud untuk mengetahui mana yang masih bisa dipertahankan, cara ini merupakan cara yang efektif karena melihat adanya tingkat kerusakannya. Apabila tidak dilakukan maka akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar, sehingga kerugiannyapun semakin besar pula. Oleh karena itu tindakan pecegahan agar serangan tidak berlanjut menjadi besar harus dilakukan. Oleh karena itu kita harus mengetahui dan dapat memperhatikan ambang ekonominya,apabila kerusakan itu akan berlanjut, harus segera dilakukan pengendalian. Penyunting: Yulia Tri S Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber : Titis Priyowidodo, Cara Budidaya ubi jalaar Organikhttp://ahmadnur09.blogspot.com/2010/12/hama-pasca-panen-pada-ubi-jalar-dan.htmlBerbagai sumber