Loading...

Panen Jagung Di Bulango Ulu Jalan Terus Dalam Situasi Pandemi Covid 19 Penyuluh Pertanian Tetap Melaksanakan Tugas Dan Fungsi

Panen Jagung Di Bulango Ulu Jalan Terus Dalam Situasi  Pandemi Covid 19  Penyuluh Pertanian Tetap Melaksanakan Tugas Dan Fungsi
Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang pusat gerakannya ada di kecamatan saat ini gencar berperan dalam penyediaan stok pangan di tengah pandemi COVID-19. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan dengan Kostratani, pertanian lebih maju mandiri bahkan dengan pengolahan yang lebih modern. Kementerian Pertanian menetapkan Program Kostratani sebagai Prorgram Kementerian Pertanian dengan basis Pertanian di Kecamatan atau Balai Penyuluhan Pertanian. Atas dasar Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49, tanggal 7 Nopember 2019 tentang Komando Strategis Pembangunan Pertanian, Kostratani merupakan pusat kegiatan pembangunan pertanian tingkat kecamatan, melalui optimalisasi tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian dengan memanfaatkan Informasi dan Teknologi (IT) dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan pertanian. Salah satu tugas penyuluh pertanian adalah untuk meningkatkan produksi / produktivitas komoditas unggulan di antaranya tanaman pangan/ padi. Pada tanggal 16 April 2020 di kelompok tani Posamabaya Desa Mongilo Kecamatan Bulango Ulu Kabupaten Bone Bolango melakukan Panen Jagung dengan luasan 1,5 Ha yang sebelumnya dilakukan ubinan dengan hasil 6,5 Ton/Ha. Hadir dalam acara panen tersebut Kepala Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bone Bolango Roswaty Agus, Kepala Bidang Tanaman Pangan Rosna Dewi Rayusyam, Kepala Bidang Penyuluhan Yoana Rahman, Camat Bulango Ulu Wayan Ranawa, Kepala Desa Mongiilo, dari Unsur Babinsa, Pembina Wilayah, Koordinator BPP Bulango Ulu Jusri Dunggio, anggota kelompok tani Posambaya dan seluruh Penyuluh yang bertugas di BPP Bulango Ulu. Dalam situasi kondisi pada saat ini terjadinya situasi Covid 19 menjadikan semua sektor memperhatikan anjuran pemerintah yang harus dipatuhi, namun kondisi ini tidak untuk pegawai yang terkait dengan tugas dijajaran terdepan di antaranya Kesehatan, harus bersentuhan langsung dengan permasalahan Covid 19, karena sudah merupakan profesinya meskipun mengandung risiko yang cukup tinggi, demikian juga bagi penyuluh pertanian yang merupakan Kopasus bagi pertanian, garda paling depan untuk menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia, mau tidak mau suka tidak suka atas dasar profesi jabatan sebagai penyuluh maka para penyuluh dengan situasi seperti ini masih tetap bekerja di lapangan untuk mendampingi dan membina petani dalam melaksanakan budidaya pertanian, baik itu berupa tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan atau yang terkait dengan agribisnis pertanian. Atas dasar kegigihan dan keberanian penyuluh pertanian di seluruh pelosok tanah air, maka tidak terjadi kelaparan atau kekurangan pangan karena ini berkat penyuluh dan petani yang tanpa mengenal lelah dan terus berjuang maka kebutuhan pangan Indonesia tetap terjaga. Penyuluh juga memotivasi kepada petani agar petani dapat meningkatkan pendapatannya sehingga petani yang dibina menjadi sejahtera. Kegiatan penyuluh dan petani meskipun dalam situasi covid 19 tidak akan terhenti, bisa kita bayangkan apabila penyuluh dan petani berhenti maka kita sebagai abdi negara dan abdi masyarakat sebagai pelayan masyarakat atau petani untuk menghidupi rakyat Indonesia sebanyak 267 jiwa, kalau petani dan penyuluh tidak menyediakan bahan pangan bahkan seharusnya pada saat inilah penyuluh menjadi pahlawan bagi negeri dan dunia dengan cara bersama dengan petani menciptakan Indonesia hebat bagi dunia dengan menghasilkan pangan yang surplus sehingga dapat mengekspor ke negara yang membutuhkan. Dan di tangan penyuluh juga untuk kemajuan BPP sebagai lembaga terdepan untuk kemajuan pertanian di Indonesia untuk itu penyuluh harus aktif dan mempunyai komitmen, keteladan, profesionalisme, integritas dan disiplin demi kemajuan program Kostratani/BPP sehingga tujuan akhir kita untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia bisa tercapai. Penulis : Lukman Hairun, STP Penyuluh Pertanian Madya