Penanganan pasca panen tembakau bertujuan untuk mengubah daun tembakau menjadi bahan setengah jadi berupa kerosok atau rajangan, Tembakau Virginia sebagian besar diproses menjadi bentuk kerosok, hanya sebagian kecil yang diproses menjadi rajangan. Senyawa-senyawa kimia yang berpotensi mendukung mutu yang ada pada daun tembakau seperti kandungan gula total, karoten, santofil, dan senyawa fenol harus dipertahankan tetap tinggi di dalam daun sedangkan senyawa klorofil dan pati diusahakan serendah-rendahnya.Penanganan pasca panen daun tembakau dikategorikan sebagai proses kiuring (curing) yaitu proses yang mengubah daun tembakau segar menjadi kerosok sehingga daun tembakau dapat dimanfaatkan oleh perusahaan. Penanganan pasca-panen daun tembakau menjadi kerosok dibagi menjadi dua tahap kegiatan, yaitu: 1) Mengatur suhu dan kelembaban udara ruang oven yang sesuai sehingga di dalam daun terjadi perubahan kimia dan biokimia yang diinginkan; 2) Mempertahankan potensi mutu yang terbentuk di dalam daun karena terjadinya reaksi-reaksi kimia di atas dengan cara menaikkan suhu sehingga reaksi perubahan kimia tersebut terhenti.Penanganan Pasca panen daun tembakau Virgiinia menjadi kerosok.1. Tahap persiapanPada tahap persiapan dilakukan pembuatan omprongan (oven), pengadaan peralatan antara lain kompor, bahan bakar, gelantang, sujen, tali, alat pengukur suhu dan kelembaban, dan lain-lain. Omprongan (oven) merupakan bangunan tembok dengan atap seng yang dilengkapi dengan lubang udara (ventilasi), dak atau andang tempat gelantang, ruang pemanas, alat pengukur suhu dan kelembaban. Sujen adalah bilah bambu yang ujungnya runcing dengan ukuran panjang 25-30 cm, sedangkan gelantang (dolok) adalah potongan bambu atau kayu dengan ukuran panjang 100-125 cm dan gari tengahnya 2,5-3 cm. 2. Sortasi daun sebelum pengovenanPisahkan antara daun yang kurang masak (daun lebih hijau dan segar), tepat masak (hijau kekuningan) dan kelewat masak (kuning dan bagian ujung atau tepi daunnya berwarna cokelat). 3. PenyujenanSelanjutnya dilakukan penyujenan, dalam satu sujen diisi 20 lembar daun degan posisi dan kemasakan daun sama. 4. PengovenanPengisian oven dilakukan mulai dari rak bagian atas ke bawah dengan jarak antara gelantang satu dengan yang lain adalah 15 cm. Satu oven ukuran 6m x 6m x 7 dapat diisi 3,5-4 ton daun basah (650-800 gelantang). Daun yang kelewat masak ditempatkan di andang paling bawah, daun yang tepat masak di tengah dan kurang masak di bagian atas.5. Fase penguninganPada fase penguningan, kelembaban dipertahankan agar tetap tinggi sehingga pengurangan kandungan air daun terjadi secara bertahap. Suhu udara ruangan oven dari 25-30o C dinaikkan secara bertahap sampai 38oC dengan kenaikan 2oC/jam. Suhu dipertahankan 38oC sampai terjadi perubahan warna hijau menjadi kuning rata dan layu. Perubahan terpenting yang terjadi pada fase penguningan adalah perombakan klorofil menjadi klorofiled dan fitol yang tidak berwarna, bersamaan dengan perombakan pati menjadi gula dan dekstrin. Klorofil perlu dihilangkan agar asap tembakau tidak menyebabkan iritasi pada tenggorokan, sedangkan sisa pati menyebabkan rasa pedas. Pada akhir fase penguningan, permukaan daun berwarna kuning merata, kandungan pati tinggal 1-2 %, sebagian besar ula yang terbentuk masih tertinggal di dalam daun, dan kandungan air yang tersisa 50-60% dan daun tembakau telah layu. 6. Fase pengikatan warnaSetelah fase penguningan selesai, suhu udara ruang oven dinaikkan dari 38oC menjadi 54oC secara bertahap dengan kenaikan 2o C/jam dan kelembaban diturunkan menjadi 40-50% dengan cara membuka ¼ sampai ¾ ventilasi atas dan ventilasi bawah. Fase pengikatan warna selesai bila 80-90% lamina daun telah kering dan ujungnya melengkung.7. Fase PengeringanPaa fase pengeringan, suhu udara dinaikkan dari 54oC menjadi 60-65 oC dengan kenaikan 2oC per jam. Ventilasi dibuka seara bertahap sampai terbuka penuh agar kelembaban menjadi serendah mungkin. Jika hanya tinggal bagian ibu tulang aun yang belum kering, maka ventilasi ditutup agar menghemat penggunaan bahan bakar dan dapat menaikkan suhu sampai 70oC. Pada fase fixing dan drying merupakan fase kritis sehingga suhu harus sesuai dengan ketentuan. Peningkatan atau penurunan suhu yang terlalu ekstrim akan merusak mutu/warna kerosok. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Pusluhtan, BPPSDMP, Kementan).Sumber: Pedoman Teknis Penanganan Pascapanen Tembakau. Direktorat Pasca Panen dan Pembinaan Usaha. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. 2012.