PGS adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan dan berat badan ideal (IPB dan Sarihusada, 2012). Dalam PGS disebutkan beberapa prinsip yang harus kita laksanakan yaitu:a. membiasakan konsumsi beranekaragam makananb. mempertahankan berat badan (BB) ideal untuk orang dewasa dan BB normal untuk balita dan anakc. aktif berolahragad. menentukan porsi makanan yang seimbang dengan kebutuhan menurut aktifitas, usia, keadaan biologis, penyakit dan budayad. menjaga keamanan makananJadi, selain mengatur porsi makan kita juga dituntut untuk menjaga kebugaran dan mempertahankan BB dengan aktif berolahraga. Implementasi dari konsumsi pangan berdasarkan PGS dapat diterapkan melalui pengaturan porsi makan berdasarkan prinsip B2SA.Secara umum B2SA adalah susunan makanan untuk dikonsumsi seseorang sekali makan atau untuk sehari menurut waktu makan (pagi, siang, dan sore/malam), yang mengandung zat gizi untuk memenuhi kebutuhan tubuh dengan jumlah yang memenuhi kaidah gizi seimbang yang sesuai dengan daya terima (selera, budaya) dan kemampuan daya beli masyarakat serta aman untuk dikonsumsi. Cara Menyusun Menu B2SAUntuk menyusun menu B2SA sehari-hari hal pertama yang harus diketahui adalah berapakah kebutuhan pangan kita sehari-hari. Kebutuhan pangan sehari-hari sangat berbeda pada tiap individu karena ditentukan oleh jenis kelamin, umur, serta aktifitas sehari-hari. Untuk memudahkan, saya menggunakan kartu putar porsi metri berikut ini:Kebutuhan pangan saya sehari-hari terdiri dari:1. makanan pokok sebanyak 4,5 porsi, 1 porsi = 100 gram2. Lauk hewani 3 porsi, 1 porsi = 50 gram3. Lauk nabati 3 porsi, 1 porsi = 50 gram4. Sayuran 3 porsi, 1 porsi = 100 gram setelah dimasak5. Buah-buahan 5 porsi, 1 porsi = 50 gram6. Gula 2,5 porsi, 1 porsi = 5 gram7. Minyak 4 porsi, 1 porsi = 5 gram8. Air 2 liter Kelebihan dan Kekurangan Menu B2SAPola makan dengan menu B2SA mengajak kita untuk berkreasi dalam mengatur menu makan sehari-hari tanpa ada batasan tertentu. Batasan yang ada hanyalah jumlah porsi makanan harus terpenuhi sesuai dengan jenis kelamin, umur, berat badan dan aktifitas. Porsi makanan tersebut tidak boleh kurang dan tidak boleh berlebih.Namun begitu bukan berarti pengaturan pola makan melalui Menu B2SA ini tidak memiliki kekurangan. Bagi orang yang serba praktis hal ini cukup rumit karena kita memerlukan takaran untuk mengatur porsi makanan. Paling tidak kita memerlukan timbangan untuk mengetahui jumlah porsi makanan. Seseorang yang melaksanakan pola ini pertama kali akan merasakan kerumitan dan bisa jadi tidak akan melanjutkan pola makan seperti ini, akan tetapi apabila sudah terbiasa dan hafal dengan jumlah porsi yang dibutuhkan maka pengaturan pola makan dengan menu B2SA cukup mudah. Kemudian ada bagian yang sulit yaitu pemenuhan gula dan minyak. Konsumsi gula mungkin bisa kita kendalikan, tetapi untuk minyak masih sulit untuk menyesuaikan dengan porsi yang telah ditentukan kecuali kita memasak sendiri makanannya.Sumber Informasi:[1] Apriani, A. 2014. Strategi Penyusunan Menu B2SA untuk Keluarga. Pelatihan Pangan Lokal Berbasis Sumber Daya. Bogor[2] MWA Training & Consulting. 2014. Menu Makanan & Jajanan/Kudapan yang BeragamBergiziSeimbangAman (B2SA). BogorBaliwati, Y. F., Prativi, M. N dan Widyawati, I. K. 2010. Alat Peraga Porsi dalam Ukuran Rumah Tangga. MWA Training & Consulting. Bogor. 64hal.IPB dan PT Sarihusada. 2012. Ayo Melek Gizi. Bogor 107hal. Oleh : ARIEZA NOVITA, SP (BPP SIDOREJO)