Loading...

Pedoman Teknik Pengapuran Tanaman Kedelai di Lahan Kering Masam Dataran Rendah Iklim Basah

Pedoman Teknik Pengapuran Tanaman Kedelai di Lahan Kering Masam Dataran Rendah Iklim Basah
Pengapuran lahan masam ditujukan untuk mencapai 3 (tiga) hal, yaitu: (1) meningkatkan pH tanah pada taraf yang dikehendaki, (2) menurunkan kandungan hara yang meracuni tanaman, utamanya aluminium (Al) tersedia dalam larutan tanah, dan (3) menaikkan kandungan hara Ca atau Ca dan Mg. Kandungan Al dalam larutan tanah akan sangat bergantung pada tingkat kejenuhan Al- dapat ditukar (Al-dd) pada konteks pertukaran tanah. Al-dd pada umumnya sudah sangat rendah atau tidak terbaca apabila pH tanah ( pH-H2O ) lebih besar dari 5,30. Namun untuk mencapai tujuan point 1 dan 2 tersebut di atas, pengapuran tidak perlu memberikan bahan kapur hingga kandungan Al-dd nol, melainkan sampai pada taraf kandungan Al yang dapat ditoleransi tanaman kedelai, yakni pada tingkat kejenuhan Al-dd sekitar 20%. Pada taraf kejenuhan Al-dd 20%, hasil kedelai dapat mencapai sekitar 90% dari hasil optimalnya. Selain penentuan jumlah kapur, hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengapuran lahan masam adalah jenis dan ukuran butiran/partikel bahan kapur dan cara aplikasinya. 1. Bahan kapur Bahan kapur dapat berupa: (a) batu kapur kalsit atau CaCO3, (b) batu kapur dolomit atau CaMg(CO3)2, (c) kapur bakar, yaitu batu kapur kalsit atau dolomit yang dibakar atau biasa disebut batu gamping, dan (d) kapur terhidratasi, yakni batu gamping yang telah diberi atau bereaksi dengan air. Dari segi harga dan kemudahan aplikasi, batu kapur kalsit atau dolomit mempunyai kelebihan dibandingkan dengan 2 (dua) bahan kapur lainnya, sebab harga akan lebih murah dan praktis aplikasinya. Apabila tersedia, disarankan menggunakan batu kapur dolomit, sebab disamping menambah unsur Ca juga unsur Mg,dua unsur hara tersebut uumnya tersedia rendah pada lahan masam. Batu kapur dolomit mempunyai kemampuan menetralkan pH tanah lebih besar daripada batu kapur kalsit, yakni 1,09 kali batu kapur kalsit, sehingga jumlah bahan kapur yang diperlukan akan lebih sedikit apabila menggunakan batu kapur dolomit. 2. Jumlah Bahan Kapur Sesuai dengan toleransi tanaman kedelai terhadap kandungan Al-dd yakni pada taraf 20%, maka jumlah bahan kapur yang diperlukan ditetapkan dengan formula seperti berikut: BK = ((kejenuhan Al-dd “ 0,20) x KTK-efektif) x Y dimana : BK=jumlah bahan kapur yang diperlukan dalam ton per hektar;Al-dd=tingkat kejenuhan Al-dd dalam persen, contoh 40% ditulis 0,40; sehingga 0,20 adalah 20% (ditulis 0,20), yakni tingkat toleransi tanaman kedelai terhadap kejenuhan Al-dd;KTK efektif=nilai KTK ( Kapasitas Tukar Kation ) pada nilai pH tanah asli, yang diperoleh dengan cara menjumlahkan kation basa (Ca, Mg,K, Na),H, dan Al yang terjerap pada kompleks pertukaran tanah, atau yang dapat ditukar;Y=nilai sebesar 1,65 jika menggunakan batu kapur kalsit dan 1,51 jika menggunakan dolomit.Sehingga jika tanah masam mempunyai kejenuhan Al-dd 40%, KTK-efektif 7,0 me/100 g tanah, dan bahan kapurnya dolomit, maka jumlah dolomit yang dibutuhkan adalah sebesar: ((0,40 “ 0,20) x 7,0 x 1,51 ton per hektar atau sama dengan 2,11 ton dolomit per hektar. 3. Ukuran Butiran Batu Kapur Ukuran batu kapur akan menentukan kecepatan reaksi antara bahan kapur dengan tanah. Makin halus ukuran butiran batu kapur akan semakin cepat reaksinya dengan tanah. Ukuran butiran batu kapur disarankan antar 80 “ 100 mesh, dengan ukuran ini 2 (dua) sampai 3 (tiga) minggu dari aplikasi, batu kapur sudah cukup bereaksi dengan tanah. 4. Waktu dan cara aplikasi bahan kapur Dengan ukuran kehalusan batu kapur 80 - 100 mesh, batu kapur hendaknya diaplikasikan 2 “ 3 (dua sampai tiga) minggu sebelum pertanaman kedelai. Batu kapur diaplikasi secara disebar dan diaduk merata dengan tanah lapisan atas (sekitar 20 “ 25 cm teratas) bersama-sama dengan pengolahan tanah. Ditulis oleh: Jamhari Hadipurwanta, Tri Kusnanto dan Edwin Herdiansyah Sumber: Balitkabi Malang