Loading...

PELAKSANAAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO PADA PADI TAHUN 2016

PELAKSANAAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO PADA PADI TAHUN 2016
Peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi telah dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang dilancarkan sejak tahun 2008. Sebelum tahun 2008, upaya peningkatan produksi dan produktivitas ini ditempuh melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) atau peningkatan mutu intensifikasi, sebagai sebuah pendekatan dalam peningkatan produksi melalui pengelolaan tanaman, tanah, air, hara dan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dalam penerapannya, PTT bersifat partisipatif, dinamis, spesifik lokasi, terpadu dan sinergis antarkomponen teknologi yang diterapkan.Pelaksanaan SL-PTT sebagai pendekatan pembangunan tanaman pangan, khususnya padi, telah terbukti berhasil mengungkit pencapaian produksi padi nasional. Namun demikian, menghadapi berbagai tantangan yang lebih beragam, diperlukan penyempurnaan dan atau peningkatan kualitas pada tatanan perencanaan dan operasionalisasinya di lapangan, baik di kawasan padi inbrida seluas 75.000 ha, maupun di nonkawasan/rintisan/reguler padi inbrida seluas 225.000 haDewasa ini telah diperkenalkan berbagai teknologi tanam budidaya padi, antara lain budidaya sistem tanam benih langsung (tabela), sistem tanam tanpa oleh tanah (TOT) dan sistem tanam jajar legowo (jarwo). Salah satu penciri PTT, yaitu adanya komponen sistem tanam jarwo. Pengenalan dan penggunaan sistem tanam jarwo tersebut disamping bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimal, juga ditujukan untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani.Sistem Tanam Jajar Legowo (Jarwo)Pada kondisi jarak tanam sempit, secara umum varietas padi akan mengalami penurunan kualitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan dan malai yang lebih sedikit, panjang malai yang lebih pendek, dan tentunya jumlah gabah per malai yang yang lebih sedikit, bila dibandingkan dengan kondisi jarak tanam yang lebar (potensial). Fakta di lapangan membuktikan bahwa penampilan individu tanaman padi pada jarak tanam yang lebar lebih bagus dibandingkan dengan jarak tanam yang rapat.Beberapa kemungkinan yang menyebabkan rendahnya produktivitas pada jarak tanam yang rapat, antara lain persaingan dalam penerimaan cahaya matahari, pengurasan unsur hara yang intensif, dan meningkatnya peluang serangan penyakit endemik sebagai akibat dari kondisi lingkungan mikro yang menguntungkan perkembangan penyakit. Penerapan teknologi tanam jarwo memberikan ruang tumbuh yang lebih longgar di barisan tanaman terluar, sehingga memungkinkan sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari secara lebih baik untuk pertanaman padi. Selain itu, upaya penanggulangan gulma dan pemupukan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Hasil penerapan inovasi jajar legowo dalam sistem budidaya padi berhasil meningkatkan produktivitas rata-rata 21 %. Pelaksanaan Teknologi Tanam Jarwo Tahun 2016Sejalan dengan hal tersebut, agar manfaat yang diperoleh dari penerapan teknologi tanam jarwo lebih optimal, maka pada tahun 2016 upaya peningkatan produksi padi diarahkan pada kegiatan peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan kegiatan perluasan areal tanam (ekstensifikasi) melalui penerapan teknologi tanam jarwo. Untuk itu, seluruh kegiatan intensifikasi diwajibkan menerapkan teknologi tanam jarwo, sedangkan untuk kegiatan ekstensifikasi teknologi tanam jarwo tersebut diharapkan dapat pula diterapkan atau disesuaikan dengan kondisi setempat. Untuk mendukung penerapan teknologi tanam jarwo, maka pada tahun 2016 petani/kelompok tani/gabungan kelompok tani (gapoktan) yang ditetapkan sebagai pelaksana kegiatan difasilitasi bantuan benih dan alat tanam jajar legowo yang sederhana (caplak), atau alat bantu tanam lainnya. Selain itu, fasilitasi juga diberikan untuk biaya pembuatan papan nama, kegiatan ubinan, gerakan tanam dan panen, pembinaan, bimbingan, pemantauan dan evaluasi. Untuk wilayah pertanaman swadaya petani, pembinaan, bimbingan, pendampingan dan pengawalan tetap dilakukan. Guna mempromosikan penerapan teknologi tanam jajar legowo secara luas, kini juga telah tersedia mesin tanam jajar legowo (jarwo transplanter) dan mesin panen jajar legowo (combine harvester). Melalui upaya ini, petani/kelompok tani/gapoktandiharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya yang tersedia di sekitarnya secara terpadu dan spesifik lokasi untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani, khususnya padi. (Penulis: Ir. Diana Prasastyawati, M.Si, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, alamat e-mail: dianapras@gmail.com)Sumber informasi:1. Anonymous. 2015. Prioritas Program Kerja Balitbangtan dan Dukungan Penyuluh/ Kelembagaan Penyuluhan: Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian2. Anonymous. 2015. Petunjuk Teknis Sistem Tanam Jajar Legowo pada Padi: Jakarta. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian