Kegiatan Pelatihan Adaptasi Perubahan Iklim telah di Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone pada hari Selasa - Rabu, Tanggal 02 - 03 September 2014. Kegiatan ini bersumber dari dana APBD II Satker Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kab. Bone TA. 2014. Bertempat di Balai Penyuluhan Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Pertemuan yang dihadiri oleh PPL, THL-TBPP, Kelompok tani dan Gabungan kelompok tani ini menghadirkan beberapa Narasumber antara lain : Ir.Ratulangi, Kepala Bidang Pembinaan Kelembagaan Petani & Kerjasama Penyuluhan, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kab. Bone; Ir.Berti Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Pengembangan SDM Petani, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kab. Bone; Astiani Asady, SP., MP, Fungsional Kabupaten; Syarkawi,S.Pd, MH Kepala Balai Penyuluhan Kecamatan Bontocani; Kamaruddin,SP Kepala Balai Penyuluhan Kecamatan Kahu. Adapun sasaran diadakannya pelatihan ini adalah agar petani dapat lebih cermat dalam membaca situasi iklim yang tidak menentu serta mengeimplementasikan inovasi teknologi yang rentang terhadap perubahan iklim. Dan petani dapat meningkatkan kewsapadaan terhadap kekeringan dengan cara membuat sumur serapan air, serta pengembangan embung/ kolam. Perubahan Iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Pertanian diketahui merupakan sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Di Indonesia, dampak perubahan iklim memiliki implikasi besar terutama bagi ketahanan pangan nasional. Beberapa studi menyebutkan bahwa tanpa dilakukannya adaptasi perubahan iklim, produksi tanaman pangan pada tahun 2050 diperkirakan akan mengalami penurunan yang cukup signifikan terutama padi yang merupakan produk pertanian yang paling esensial untuk masyarakat indonesia pada umumnya. Adapun kegiatan yang merupakan kegiatan adaptasi terhadap perubahan iklim terutama disektor pertanian yaitu dalam pengurangan pupuk dan pestisida kimia, pemakaian varietas padi jenis unggul, komsumsi karbohidrat selain beras, seperti kentang, sagu dan jagung. Kegiatan-kegiatan disektor pertanian lainnya dalam mengantisipasi gagal tanam dan gagal panen yaitu dengan mengimpelementasikan dan mengaplikasikan systen pola tanam dan pengaturan sistem irigasi, melakukan pengolahan lahan dan pemupukan dengan cara menanam padi hemat air, pengolah lahan tanpa bakar dan pemanfaatan sampah organik untuk melakukan pemupukan. Dengan pengembangan inovasi teknologi dalam mengurangi kerentanan atau untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Adaptasi dengan penggunaan inovasi teknologi sangat mendukung terhadap perubahan iklim apabila dilakukan secara efektif. Dalam pelatihan tersebut diharapkan petani mampu memahami dan mengetahui tentang adaptasi iklim, petani yang membuka lahan baru agar tidak memilih membakar lahan karena dapat mengakibatkan erosi serta pelunya kesadaran semua pihak untuk mengantisipasi kondisi iklim yang dapat berubah sewaktu-waktu. (Wahyuni Gazali, SP; Panitia Pelaksana Pelatihan)