Dengan fakta keberhasilan IB kambing ditingkat lapangan khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan membuat penulis ingin mengungkap kembali cikal bakal adanya IB kambing di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tepatnya dikelompok tani Mekar Mandiri Desa Kalibaru Kecamatan Batu benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah telah dilaksanakan pelatihan aplikasi teknologi IB (Inseminasi Buatan) pada ternak kambing. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama Pememerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Program Pasca sarjana ULM (Universitas Lambung Mangkurat) propinsi Kalimantan Selatan. Pelatihan dilaksanakan selama satu hari yaitu pada hari selasa tanggal 28 Agustus 2018 yang lalu, hadir sebagai nara sumber atau pelatih pada saat itu adalah Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Si dengan keahlian technology of Animal Reproduction, bersama anggota tim lainnya dari ULM Banjarmasin Kalimantan Selatan. Jumlah peserta pelatihan tersebut sekitar 20 orang yang berasal dari beberapa kecamatan namun sebagian besar peserta didominasi oleh anggota kelompok tani Mekar Mandiri. Ternak kambing yang dijadikan objek praktek adalah milik ketua kelompok Mekar Mandiri yaitu Bapak H. Radiansyah atau sering dipanggil H. Radi. Bapak H. Radi hingga saat itu sudah memelihara ternak kambing sebanyak 29 ekor. Semula beliau hanya memelihara 17 ekor induk betina dan 6 ekor jantan membeli dari salah seorang peternak kambing yang ada di Hulu Sungai Tengah, selama memelihara 47 hari ternak kambing Bapak H. Radi sudah melahirkan 6 ekor anak sehingga jumlah ternak kambing beliau menjadi 29 ekor dan sekarang ini umlah ternak kambingnya sudah berkembang mencapai 50 ekor lebih.. Begitu antusiasnya peserta mengikuti pelatihan IB kambing tersebut sampai-sampai peserta memohon kepada pelatih untuk memperbanyak diktat/ bahan pelatihan guna pendalaman materi bagi peserta setelah selesai mengikuti pelatihan. Sebagai pendahuluan ……oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Rizal. M.Si menyampaikan latar belakang dikenalkannya teknologi IB pada kambing dihadapan peserta pelatihan. Disebutkan oleh beliau bahwa tujuan pelaksanaan IB pada Kambing adalah untuk memperbaiki mutu genitik keturunannya melalui perbaikan pejantan karena kenyataan dilapangan sebagian besar pejantan milik petani masih menggunakan turunan sedarah sehingga kualitas genetik turunannya semakin rendah/buruk. Demikian pula umur pejantan yang relative masih muda mengakibatkan anak turunan menjadi kurang sehat dan mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi. Hal ini sejalan dengan informasi yang sebagaimana disampaikan oleh Bapak Ir. Bambang Irawan. M.Si di Desa Labunganak Kecamatan Batang Alai Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada saat menghadiri pelatihan pembuatan formulasi ransum untuk unggas beberapa waktu lalu bahwa berdasarkan hasil penelitian ULM ternyata penurunan populasi ternak kambing mencapai rata-rata 12,9% per tahun. Hal inilah yang menyebabkan dipandang perlunya memperkenalkan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak kambing melalui pelatihan untuk menjadi Inseminator. Dijelaskan oleh pelatih bahwa metode IB pada dasarnya ada dua pendekatan pertama dengan metode konvensional atau tanpa bedah. Metode ini ada yang disebut rektovaginal terutama dilakukan pada ternak ruminansia besar seperti sapi dan kerbau dengan desposisi semen (transcervical) umumnya dicorpus uteri atau diposisi 4. Sedangkan pada ruminansia kecil seperti ternak kambing dan domba desposisi semen dilakukan didalam lumen civic ataudisebut juga metode intra sercical. Pendekatn yang kedua adalah dengan metode bedah yakni dengan melakukan pembedahan kecil didaerah lekuk lapar kemudian dengan jarum suntik disuntikkan semen kedalam lumen cornua uteri. Cara ini dapat pula menggunakan alat bantu seperti laparoskopi untuk mempermudah pelaksanaan dilapangan. Yang lebih penting sebagaimana disampaikan pelatih bahwa perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dalam pelaksanaan IB yaitu peralatan IB, managemen container N2 cair, deteksi birahi, teknik pelaksanaan IB, waktu pelaksanaan IB, diagnosis kebuntingan, dan recording atau pencatatan kegiatan Inseminasi Buatan (IB). Pada pelatihan IB tersebut para peserta telah dibekali tahapan-tahapan kegiatan melalui praktek langsung mulai dari penampungan atau pengambilan semen, evaluasi semen, pengenceran semen, dan cara mendeposisi semen didalam lumen cervic, serta penyimpanan semen. Metode penampungan semen bisa dilakukan dengan menggunakan vagina buatan, atau electro ejaculator, atau pengurutan (masase). Untuk kegiatan evaluasi semen ditujukan pada warna, volume, pH, bau dan kekentalan semen. Keberhasilan teknologi IB pada kambing menunjukkan angka yang cukup signifikan, bahkan hasil IB ini dapat dikatakan melebihi kawin alam karena hampir selalu melahirkan anak kembar. !!!!!!! Penulis : H. Hairul Safii. S.Pt PP Programer BP Ilung HST.