Kabupaten Indramayu dikenal sebagai lumbung pangan khususnya di Provinsi Jawa Barat. Hal ini tidak terlepas dari luas areal pertanian sawah yang mencapai 118.513 Ha, dari luas areal sawah tersebut, rata-rata luas tanam padi musim rendeng selama 10 tahun (2005 – 2015) mencapai 109.859,2 Ha dengan luas panen mencapai 109.203 Ha dan menghasilkan produksi 737.042,49 ton, dengan produktivitas 61,2 Ku/Ha. Sedangkan rata-rata luas tanam musim gadu selama 10 tahun (2005 – 2015) mencapai 87.401,2 Ha dengan luas panen padi mencapai 86.956 Ha dan menghasilkan produksi 488.799,6 ton dengan produktivitas 59,3 Ku/Ha. Pembangunan pertanian di Kabupaten Indramayu lebih dititikberatkan pada upaya intensifikasi usahatani padi terutama di daaerah-daerah berpengairan teknis dan pengembangan komoditas palawija atau sayuran di daerah-daerah sawah tadah hujan dan daerah non irigasi teknis. Dalam menjalankan usahataninya peran petani memegang dua peran penting yaitu sebagai seorang juru tani (cultivator) dan sekaligus seorang pengelola (manager). Peranan petani sebagai juru tani adalah memelihara tanaman dan hewan guna mendapatkan hasil yang berfaedah. Untuk dapat memelihara tanaman ataupun ternak petani harus memiliki keterampilan. Sedangkan sebagai pengelola petani dituntut untuk mengambil keputusan dari berbagai alternatif yang ada seperti tanaman apa yang akan ditanam atau ternak apa yang akan dipelihara.Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi diantaranya penggunaan benih, penerapan jarak tanam, pengairan yang terjamin, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Perubahan penggunaan benih dari benih biasa ke benih unggul dapat menyeragamkan pertumbuhan tanaman, menambah jumlah anakan aktif, menekan tingkat serangan hama dan mempercepat masa panen yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi. Oleh karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi padi adalah dengan penggunaan benih unggul. Nilai Pembelian Benih PadiSelama ini kebutuhan benih para petani di Kabupaten Indramayu masih mengandalkan benih produksi PT. Shang Hyang Seri (PT.SHS) dan PT. Pertani serta produsen benih lainnya. Produsen benih tersebut berada di luar Kabupaten Indramayu. Kondisi seperti ini mengakibatkan uang pembelian benih dari petani lari keluar Kabupaten Indramayu dan dibawa ke Subang (PT. SHS) dan Majalengka (PT.Pertani) serta produsen benih lainnya. Berapa uang benih petani yang keluar dari Kabupaten Indramayu ?. Bila menilik data diatas, menunjukkan bahwa luas tanam rata-rata setiap tahun mencapai 197.260 hektar. Apabila kebutuhan benih padi per hektar sebanyak 20 kg dan petani yang menggunakan benih setiap musim sebanyak 60 %, maka kebutuhan benih padi di Kabupaten Indramayu selama satu tahun mencapai 2.367.120 kg atau 2.367,12 ton ( 197.260 ha x 60 % x 20 kg). Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan harga benih padi per kg antara Rp. 11.000,- sampai Rp. 13.000,-. Dan bila mengambil harga yang terendah (Rp. 11.000,-/ kg), maka nilai rupiah biaya benih petani Indramayu yang keluar mencapai Rp 26.038.320.000,-. Suatu nilai yang sangat fantastis.Untuk mengurangi nilai rupiah yang keluar dari Kabupaten Indramayu, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Balongan pada Musim tanam 2016 bekerja sama dengan PT. Pertamina melakukan kerja sama khususnya dalam pelatihan dan pembinaan penangkaran benih. Comunnity Development PT. Pertamina Solihin, mengemukanan bahwa PT. Pertamina melalui dana CSR mempunyai 4 (empat) program yaitu perbaikan lingkungan, perbaikan kesehatan, pemberdayaan sumberdaya manuasia, dan meningkatan kualitas pendidikan. Pada tahun ini pemberdayaan difokuskan untuk penangkaran benih dan pelatihannya. Hal ini mengingat kebutuhan akan benih sangat kurang. Pada Tahun-tahun sebelumnya pemberdayaan dilaksanakan untuk kegiatan pembuatan pupuk kompos dan pemanfaatan lahan tidur bagi masyarakat sekitar PT. Pertamina. Rencana tahun depan masih ada pengembangan penangkaran benih, karena para pengurus kelompoktani yang dilatih sekaran ini diharapkan mampu menjadi penangkar benih kembali.Kepala BPP Balongan Ir. H. Heri Jamhari, menambahkan bahwa penangkaran benih ini dilaksanakan di Kelompoktani Mitra Mekar Tani Desa Tegalsembadra Kecamatan Balongan dengan luas 1 ha. Pelaksana / Penangkar benih yaitu Ibu Hj. Tuti anggota kelompoktani dengan varietas padi yang ditangkar Inpari 34.Selain pembinaan langsung di lapangan para pengurus kelompoktani sebanyak 20 orang ( 2 orang per desa) mendapatkan pelatihan selama lima kali pertemuan. Adapun materi yang disampaikan pada pelatihan ini antara lain : Teknoogi Budidaya padi, Pembuatan Kompos, Manajemen Keuangan, Mamajemen Kelembagaan Kelompoktani, Manajemen Pasca Panen dan Pemasaran. Sedangkan materi penagkarannya adalah Pencatatan Riwayat Lahan, Budidaya Penangkran Benih Padi, Pengambilan tanaman lain (Rouging) dan Pengujian Sampel Benih. Desa Mandiri BenihLuas Desa Tegalsembadra 174 ha, sedangkan Keamatan Balongan sendiri luas sawahnya 1.887,ha. Pada musim hujan hampir semua lahan sawah ditanami padi sedangkan pada musim kemarau hanya sekitar 1.724 ha yang ditanami padi. Bila kita berhitung luas Desa Tegalsembadra yang 174 ha, maka kebutuhan benihnya 4,35 ton 3.480 kg atau 3,48 ton (174 ha x 20 kg). Sedangkan benih yang dhasilkan oleh kelompoktani Mitra Mekar Tani diperkirakan mencapai 5 ton, sehingga dengan demikian Desa Tegalsembadra akan menjadi desa mandiri benih. Namun untuk Kecamatan Balongan maasih belum mandiri benih.Pengembangan perbenihan padi di Kelompoktani memerlukan pembinaan yang berkelanjutan karena kegiatan perbenihan ini relatif swadaya tanpa ada subsidi, terutama dalam pemasaran benih kepada petani di desa atau di lingkungan kecamatan bahkan lingkunagn kabupaten Sedangkan perbenihan yang dikelola oleh Perusahan Pemerintah yang ada selama ini memperoleh subsidi dari Pemerintah. Oleh karena itu peran semua pembina baik di lapangan maupun dari Dinas Pertanian dan Perternakan Kabupaten Indramayu sangat dibutuhkan dalam rangka memajukan kelompoktani penangkar benih. Majulah kelompoktani penangkar benih semoga dengan kepercayaan yang tinggi dari anggota kelompoktani, petani di desa, di kecamatan bahkan di kabupaten menuntut kualitas penangkar benih yang lebih baik lagi, sehingga bisa bersaing dengan perusahaan. Bagi petani Tegalsembadra dan umumnya petani Indramayu marilah kita membiasakan diri untuk menggunakan benih yang berasal dari penangkaran benih kelompoktani kita. Jangan hanya melihat merk produsennya, karena pada prinsipnya penangkaran benih yang dilakukan baik oleh produsen besar maupun oleh penangkar kelompoktani sama saja. Bahkan kalau penangkaran benih ada di sekitar kita, petani bisa langsung melihat bagaimana pertumbuhan dan produksi calon benih yang akan dihasilkannya (Edi Harnadi)