Loading...

Peluang Pengembangan Kedelai dan Ubi Kayu di Lahan Kering Masam

Peluang Pengembangan Kedelai dan Ubi Kayu  di Lahan Kering Masam
Budidaya ubi kayu biasanya diusahakan secara luas di lahan kering masam dan umumnya ditanam secara monokultur. Padahal potensi ini cukup baik untuk dikembangkan apa bila diusahakan secara tumpang sari dengan kedelai. Pola tanam seperti ini di beberapa lokasi terbukti tidak mengganggu produktivitas ubi kayu bahkan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi petani (Harsono at al.2011).Pola tanam tumpang sari ubi kayu dengan kedelai di lahan kering sudah biasa diterapkan petani di jawa dengan keuntungan : (1) tanaman kedelai memanfaatkan ruang kosong antar barisan tanaman muda ubi kayu, (2) petani memperoleh hasil panen dalam waktu singkat (80-85 hari) dari tanaman kedelai, (3) dari daun kedelai yang rontok dan perakaran kedelai yang membentuk bintil rhizobium akan menambah kesuburan tanah, (4) produktivitas lahan dan nilai ekonomi usahatani dalam satu tahun meningkat, dan (5) secara empiris kombinasi tanaman ubi kayu dan kedelai menghasilkan pertumbuhan yang serasi. Pada pota tanam tumpaang sari ubi kayu-kedelai, setelah kedelai dipanen masih dapat ditanami beberapa alternatif tanaman, seperti kedelai,kacang tanah, kacang hijau atau kacang tunggak sehingga pendapatan usahatani dalam setahun meningkat.Pemanfaatan lahan kering masam dihadapkan pada rendahnya kesuburan tanah dan pH rendah yang menyebabkan kandungan Al, Fe, dan Mn terlarut tinggi sehingga meracuni tanaman, dan miskin unsur makro esensial seperti N, P, K, Cad an Mg serta (Sudarman dkk 1987).Ameliorasi dan Pupuk HayatiBahan ameriolasi tanah yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering masam adalah yang mampu meningkatakan pH tanah dan kandungan Cad an/Mg dalam tanah. Dari pertimbangan ketersediaan dan kemudahan dalam memperoleh ameliorant yang prospektif adalah kapur dan bahan organik.Kapur pertanian yang umum digunakan adalah kalsit atau dolomit dengan tingkat kehalusan 60 mesh. Pada tanah masam daerah tropika, yang keasamannya terkait dengan kandungan Al-dd tinggi, takaran kapur yang diberikan didasarkan pada penurunan tingkat kejenuhan Al-dd. Pada tanaman kedelai jumlah kapur yang diberikan tidak perlu setara dengan 1,5 Al-dd (Kamprath (1970) yang dapat menurunkan kejenuhan Al-dd hingga menjadi 13% atau kurang, mengingat tanaman kedelai mampu menoleransi (kadar kritis) kejenuhan Al-dd hingga menjadi 20% (Arya 1990). Pengapuran dengan pendekatan penurunan kejenuhan Al-dd menjadi 20% akan mengurangi penggunaan kapur, atau biaya produksi sehingga lebih operasional atau praktis diimplementasikan petani. Penggunaan pupuk hayati rhizobium yang efektif mampu memacu pembentukan akar secara maksimal dan mencegah gugur daun lebih awal karena ada suplai Nitrogen hasil simbiosis. Pada kondisi optimal, simbiosis antara rhizobium dengan tanaman kacang-kacangan mampu memasok kebutuhan N bagi tanaman hingga 60% (Nambiar and Dart, 1980). Pada lahan kering masam yang belum pernah ditanami kedelai, tanaman tidak mampu membentuk bintil akar yang efektif menambat N2 dari udara karena kondisi rhizobiumnya sangat rendah (Soedarjo at al. 2011a). Kondisi tersebut tidak mampu merangsang pembentukan bintil akar tanaman kedelai, sehingga kecukupan kebutuhan N tanaman sepenuhnya bergantung pada pemberian pupuk dan ketersediaan N tanah yang umumnyaa tergolong sangat rendah. Oleh karena itu, penggunaan pupuk hayati rhizobium yang efektif (toleran masam) mampu memacu pembentukan bintil akar, menurunkan kebutuhan pupuk urea hingga 75% dan dapat meningkatkan hasil.Pupuk Organik Kaya Hara Kandungan bahan organik pada tanah masam umumnya rendah. Selain kurang mendukung kesuburan fisik maupun kimia tanah juga kurang mendukung pertumbuhan mikroba tanah yang mampu memperbaiki kesuburan tanah. Di lahan kering masam Lampung Timur, pada kondisi tersebut dapat diatasi dengan pemberian pupuk kandang 3-5 t/ha. Namun dengan cara ini petani banyak menghadapi permasalahan dalam penyediaan, pengangkutan dan aplikasi di lapangan, karena membutuhkan banyak tenaga. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian pupuk organik yang telah diperkaya hara seperti pupuk organik "Santap-M" produk Badan Litbang Pertanian yang mampu menekan penggunaan pupuk kandang kotoran ternak hingga 50%. Bahan baku pupuk organic Santap-M meliputi kotoran sapi, kotoran ayam, batuan fosfat, dan abu ketel pabrik gula. Pupuk organik ini sangat bersinergi dengan pupuk hayati Rhizobium Ilertrisoy (produk Badan Litbang Pertanian). Kombinasi keduanya di lahan masam mampu memacu pembentukan bintil akar kedelai secara maksimal, mengurangi kebutuhan pupuk urea dan SP36 lebih dari 75%, dan pupuk KCl hingga 50%Ruslia Atmaja ppmkp ciawi/bppsdmpSumber: Iptek Tanaman Pangan - Balitkabi Puslitbang Tanaman Pangan 2013