1. Pegantar; Dengan mempertimbangkan kegiatan perluasan areal sawah relatif sulit, mahal dan lama, maka usaha intensifikasi padi saat ini dan yang akan datang tetap menjadi kegiatan yang penting dan harus dilaksanakan. Salah satu tehnologi kegiatan intensifikasi selain air, pupuk, benih, adalah budidaya tanaman itusendiri, khususnya mengenai kesesuain varitas dan jarak tanam yang sifatnya spesifik lokasi. Dengan pertimbangan tersebut Peneliti senior dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Karim Makarim pelaksankan penelitian dangan paparan hasil sesuai tulisan ini. 2. Latar Belakang; Upaya peningkatan produksi padi nasional berkelanjutan memerlukan cara budi daya terbaik, antara lain dan utamanya adalah pengaturan keserasian antara sifat varietas dan jarak tanam/lingkungan ruang tumbuh. Varietas memiliki keunggulan tertentu (misalnya potensi hasil tinggi), dan kelemahan tertentu (misalnya peka terhadap Organisme Pengganggu Tanaman/OPT), sedangkan jarak tanam menentukan jumlah populasi tanaman per unit luas lahan dan kondisi lingkungan tumbuh tanaman. Interaksi antara varietas dan jarak tanam ini menentukan hasil padi. Melalui pengaturan keserasian antara sifat varietas dan jarak tanam pada suatu wilayah, maka akan diperoleh hasil padi maksimal. 3. Faktor yang perlu dipertimbangkan; Beberapa faktor perlu diketahui dan dipertimbangkan dari kedua komponen teknologi tersebut. Varietas padi memiliki variasi sifat utama: (1) kapasitas jumlah anakan/malai per rumpun, serta tingkat responnya terhadap jarak tanam dan orientasi pertanaman, (2) kekuatan batang dan kerebahan, (3) ketahanan terhadap kekeringan/kekurangan air, (4) ketahanan terhadap radiasi rendah/naungan, (5) ketahanan terhadap cekaman hara/kompetisi penyerapan hara, (6) ketahanan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), (7) ketahanan terhadap zat alelopati, dan (8) beradaptasi terhadap konsentrasi gas CO2 rendah. Di lain pihak, jarak tanaman menentukan beberapa hal sebagai berikut: (1) jumlah populasi/rumpun per unit area, (2) penyerapan radiasi surya, (3) penyerapan hara dan air, (4) adanya sekresi, eksudat, dan zat alelopati yang dikeluarkan akar, (5) sifat reduktif dan kemasaman tanah, dan (6) aliran gas CO2 udara untuk fotosintesis.4. Hasil- hasil penelitian; menunjukkan bahwa cara tanam jajar legowo memiliki peluang besar untuk dapat meningkatkan hasil gabah, karena (1) populasi tanamannya lebih tinggi dibandingkan cara tegel, (2) orientasi pertanamannya juga lebih baik dalam pemanfaatan radiasi surya dan aliran gas CO2. Namun hal ini menjadi lebih nyata apabila menggunakan varietas-varietas adaptif untuk kondisi pertanaman rapat, di antaranya Inpari 14, 15, 18 dan 19. Varietas tanaman yang memiliki anakan sedikit, lebih sesuai untuk cara tanam jajar legowo atau tanam rapat. Bila jumlah anakan per rumpun banyak, karena sifat varietas ataupun karena lahan subur, maka jajar legowo dengan jarak tanam yang lebih lebar akan lebih sesuai, misalnya Legowo 4:1 (25 – 50 cm) x 12,5 cm. Syarat minimal hasil gabah per rumpun pada jajar legowo agar hasil per hektarnya lebih tinggi dibandingkan cara tegel ditetapkan. Cara tanam jajar legowo yang memerlukan benih dan tenaga lebih banyak dibanding pada cara tegel, pada fase tanaman selanjutnya mendatangkan kemudahan dalam perawatan tanaman. Adanya bantuan alat tanam untuk sistem legowo yang jarak tanamnya fleksibel (bisa diatur), akurat, kuat, dan mudah dioperasionalkan akan sangat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas padinya. Di samping itu, perlu identifikasi cepat berbagai varietas/galur tanaman padi yang sesuai untuk jajar legowo atau tanam rapat agar terjadi kenaikan hasil yang lebih besar.Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : ali_bosarharahap@yahoo.co.idSumber: Abdul Karim Makarim .2014.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.