Tanaman pala (Myristica fragrans Houtt) dikenal sebagai salah satu tanaman perkebunan yang penting karena hasil tanaman ini selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga merupakan komoditi ekspor yang potensial. Tanaman Pala merupakan tanaman asli Indonesia yang pada awalnya berkembang di daerah Banda dan sekitarnya. Budidaya tanaman pala nampaknya menjadi komoditas yang menjanjikan bagi petani karena nilai ekonomisnya yang cukup tinggi.Buah pala menjadi salah satu komoditas perkebunan yang menjanjikan. Perkembangan budidaya pala di Indonesia berkembang cukup pesat. Pala sendiri selain digunakan sebagai bumbu masakan kini banyak dibutuhkan sebagai bahan baku dalam pembuaan obat-obatan baik itu minyak asiri maupun minyak aeteris. Seperti penuturan petani pala Bapak Umar, warga Kelurahan Kapoiala, Kecamatan Kappoiala, Kabupaten Konawe, mengatakan, membudidayakan tanaman pala sangat menjanjikan, hampir seluruh bagian tanaman pala tersebut dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.Kebutuhan pokok tanaman pala luas lahan satu hektar dapat ditanami antara 123 sampai 156 pokok tanaman pala dengan jarak 8 meter x 8 meter atau 9 meter x 9 meter , dan setiap satu pohon pala yang berumur 5-10 tahun bisa sekali petik kurang lebih 20 - 40 kg buah pala.Berdasarkan data, harga satu kilogram buah pala harganya Rp1.700, buah pala muda kering Rp 38.000/kg, sedangkan fulinya mencapai Rp 65.000/kg.Sementara itu data luas lahan perkebunan pala di kecamatan Kapoiala yang tersebar di desa Sambaraasi, Labotoy, dan Kelurahan Kapoila seluas 33 hektare yang terdiri dari 11 hektare tanaman menghasilkan dan 22 hektare tanaman belum menghasilkan. Tingginya nilai ekonomis tanaman pala membuat sebagian petani di Kapoiala semakin menekuni usaha budidaya tanaman pala guna meningkatkan kesejahteraan petani, karena keuntungan yang didapat menjanjkan. Penulis Artikel :Muh. AdamBPP Kecamatan Kapoiala